
"Hari ini yakin, kau akan ke kantor?" tanya Saga kepada Alexa yang saat itu mereka telah berada di dalam mobil. Mengingat apa yang telah ia lakukan kepada wanita itu semalam, bukanlah hal yang biasa.
"Ya, memangnya kenapa?" Alexa balik bertanya.
"Tidak, Aku hanya tidak ingin kau merasa kesakitan nanti," jawab Saga dengan melihat ke bagian bawah tubuh istrinya.
"Tenang saja, Aku wanita kuat kok."
Mendengar jawaban itu dari istrinya membuat Saga segera memeluk Alexa. Ia begitu bersyukur mendapatkan wanita cantik, mandiri dan kuat seperti Alexa menjadi istrinya.
Karena sedang bucin bahkan Saga berkali-kali mencium pipi dan bibir Alexa membuat si sopir menahan nafasnya. Berusaha agar tetap fokus menyetir walaupun godaan terus beraksi di belakangnya.
Mobil terus melaju membawa kedua insan yang sedang kasmaran, seperti tidak pernah bosan mereka saling mencium dan berpelukan. Tanpa Memperdulikan si sopir yang sering mencuri pandang melalui kaca spion tengah, mereka berdua terus saja bermesraan
Mobil berbelok memasuki area pelataran kantor perusahaan Beauty Glow, di sana tampak Septi dan Ricard telah menunggu keduanya sedang berdiri di lobby kantor.
"Alexa!" seru Septi yang langsung menyambut kedatangan sahabatnya sekaligus adik baginya.
"Mbak, Septi, bukankah Mbak pulang kampung?" tanya Alexa dengan heran.
Mereka berpelukan.
"Ya, memang Aku pulang kampung dan iniโฆ!" Septi menjentikkan jari manisnya di depan Alexa.
Tampaklah sebuah cincin berlian yang indah berkilau melingkar di jarinya yang lentik.
"Wow! Bagus sekali Mbak, jadi kalian sudah resmi tunangan?" tanya Alexa dengan kedua mata yang berbinar.
Septi mengangguk seraya memainkan kedua alisnya naik turun. Bahagia sekali dia hari itu.
"Terus kapan kalian akan menikah? Jangan lama-lama, karena menikah itu enak." Saga menimpali Seraya melirik ke arah Ricard yang sedari tadi hanya diam saja, memainkan ponselnya.
Membuat Ricard berhenti dan menyimpan ponselnya di dalam saku.
"Tenang saja, tidak lama lagi kalian pasti akan segera mendapatkan surat undangan dari kami," sahut Ricard tidak ingin kalah.
"Oke, Aku tunggu!" Saga menepuk pundak Ricard seraya tersenyum geli melihat ekspresi pria itu.
"Baiklah, istriku sayang, kanda pergi dulu masih banyak urusan di kantor yang harus Aku selesaikan," ucap Saga kepada Alexa, sedangkan Septi mencibir ke arahnya.
"Iya, Kanda hati-hati ya," balas Alexa.
"Uh, mentang-mentang pengantin baru sok mesra," ucap Septi mencibir.
"Makanya cepat nikah, biar bisa mesra-mesraan seperti kami." bukannya pergi kekantor nya, Saga malah memeluk dan mengecup kening Alexa di depan Septi dan Ricard.
__ADS_1
"Sudah-sudah cepat pergi, jangan pamer terus." Alexa sedikit mendorong tubuh Saga yang seolah tidak ingin lepas darinya.
Membuat semuanya tertawa cekikikan.
Kini kehangatan persahabatan yang penuh rasa bahagia kembali mereka rasakan, setelah beberapa lama terhambat oleh kesalahpahaman dan rasa cemburu yang tidak beralasan.
Saga pun pergi menuju ke kantornya, lebih tepatnya kantor Pak Hendra yang dikelola olehnya.
"Lexa, cerita dong, bagaimana semalam?" tanya Septi menggoda Alexa setelah Saga tidak terlihat lagi di ujung jalan.
"Apanya Mbak?" Alexa pura-pura tidak mengerti, padahal didalam hatinya ia merasa geli. Lucu saja menurutnya, Septi yang tiba-tiba kepo dengan malam pertamanya.
"Itu semalam, terjadi kan perang badarnya?" bisik Septi.
"Perang badar?" Alexa masih pura-pura tidak mengerti.
"Pertempuran di ranjang," bisik Septi.
"Ya, terjadi lah Mbak!" sahut Alexa lebih keras.
"Husssttt, jangan keras-keras, nanti dia dengar," Septi melirik ke arah Ricard yang telah mendahului mereka.
Alexa menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari tersenyum.
"Bagaimana rasanya?" Septi semakin kepo.
"Sakit bercampur nikmat?" Septi terlihat bingung membayangkan apa yang dikatakan oleh Alexa.
"Pedas manis." Alexa semakin membuat Septi kebingungan.
"Pedas manis? Memang ada rasa itu? Seperti sambal balado saja,"
"Makanya, Mbak nikah dulu, nanti baru bisa merasakan." ucap Alexa yang ingin tertawa keras karena menahan rasa geli di dalam hatinya melihat tingkah absurd dari sahabatnya.
Septi tersipu malu mendengarnya.
Mereka pun berjalan memasuki kantor, ada beberapa karyawan yang memandang Alexa tidak seperti biasanya.
"Selamat pagi Bu, fresh sekali hari ini Bu Alexa?" sapa seorang karyawan.
"Ya,selamat pagi juga. Alhamdulillah," jawab Alexa dengan senyum khas nya.
"Ya, fresh lah kan sudah di servis?" bisik Septi, entah mengapa ia selalu ingin menggoda Alexa.
"Enak saja di servis, memangnya mobil butuh servis segala," tukas Alexa mencibir Septi dengan berbisik pula.
__ADS_1
Melihat sahabat nya manyun, Septi hanya tertawa terkekeh. Sedangkan Alexa telah berlalu menuju ke ruangannya.
Baru saja Ia membuka pintu ruang kerjanya, Alexa telah dikejutkan dengan seseorang yang saat ini telah duduk di kursi kerjanya.
"Hai! Selamat pagi Kak!" seru Tiara dengan ramahnya.
"Pagi juga, tumben kesini?"
Ada sesuatu yang ingin Aku bicarakan kepadamu." Tiara bangkit dari tempat di duduknya melangkah menuju kearah Alexa.
Tiara berjalan mengitari Alexa yang juga merasakan ada gelagat aneh dari wanita itu.
"Kakak sungguh beruntung mendapatkan warisan dari seluruh kekayaan Eyang, memiliki pendidikan tinggi, menikah dengan pria yang kakak cintai, sedangkan aku? Apa yang aku dapatkan kak?" Kata-kata Tiara mulai terasa menghakimi Alexa.
"Tiara, sungguh aku tidak meminta semua itu, Eyang sendiri yang memberikannya kepadaku. Dan, tentang pernikahan ku dengan Saga, mungkin karena memang kami berjodoh," jawab Alexa dengan tenang.
"Ini semua tidak adil bagiku kak, Eyang pilih kasih, kita berdua sama-sama cucunya, mengapa hanya kakak yang mewarisi semua itu? Bukankah mama juga putrinya, yang juga memiliki hak untuk mewarisi dari sebagian hartanya?"
"Ya, kau benar. Jika hanya ingin berdebat tentang hal itu, lebih baik kau temui saja Eyang dan tanyakan padanya, apa yang ingin kau tanyakan. Aku tidak tahu-menahu tentang semua itu," ucap Alexa.
Mendengar ucapan Alexa semakin membuat Tiara yang memang telah dirasuki rasa iri semakin membenci dirinya.
"Kau bisa saja berkata begitu Alexa! Karena kaulah yang diuntungkan. Kau yang menikmati semuanya. Kekayaan dan ketenaran hanya kau yang menikmatinya!" Tiara semakin meninggikan nada suaranya.
"Cukup! Cukup Tiara! Cukup selama ini aku mengalah." Akhirnya emosi Alexa terpancing juga.
"Apa kau pernah memikirkan nasibku selama aku di desa? Dikucilkan, dihina dan direndahkan oleh semua orang, dan Ibuku, apakah kau tahu semua penderitaannya? Sakit hati, kecewa dan tersiksa seumur hidup itu semua karena IBUMU!" Alexa menuding ke arah Tiara dengan penekanan di akhir kalimatnya.
"Mengapa kau malah membahas Mama? Apa kesalahannya?" rupanya Tiara belum mengetahui sebab-musabab dirinya terlahir kedunia.
Alexa menatap mata Tiara dengan menarik sebelah sudut bibirnya, ia tersenyum sinis.
"Aku tidak menyalahkan Mama mu, karena disini Ayahku juga bersalah, jika kau ingin mengetahui detail penyebab kau dilahirkan kedunia, tanyakan kepada orang tuamu," suara Alexa sedikit direndahkan.
Tiara menatap Alexa dengan penuh tanda tanya.
'Apa yang tidak aku ketahui? Apa yang telah Mama dan papa sembunyikan dariku? Ada apa ini?' batin Tiara.
"Atau jika kau takut bertanya kepada mereka, maka tanyalah kepada Eyang, maaf aku tidak bisa menceritakannya kepadamu," ucap Alexa lagi, sebenarnya ia hanya tidak ingin melihat Tiara malu dengan mendengar perselingkuhan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Lebih baik kau keluar dari ruangan ku, masih ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Alexa memalingkan wajahnya.
"Kau mengusirku?" Tiara.
"Tidak!" Alexa melangkah mendekati meja kerjanya dan mulai menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang menumpuk di sana tanpa menghiraukan Tiara yang pergi dengan mencibir nya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, pagi-pagi aku telah sarapan emosi," gumam Alexa seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kemudian memejamkan mata dalam beberapa menit.