Inikah Garis Takdirku?

Inikah Garis Takdirku?
(IGT) CHAPTER 120


__ADS_3

Setelah menemui Alexa, Mbok Mirah dan Septi juga menjenguk Raisya. Kondisi wanita itu tampak lebih baik, kini ia mulai bisa berjalan walau dengan tertatih-tatih.


"Bagaimana kabarmu, Nak Raisya?" tanya Mbok Mirah ketika mereka telah berada di kamar Raisya.


"Baik, Mbok," jawab Raisya dengan menunduk.


Rupanya ia merasa malu karena teringat ketika dulu dirinya sering berbuat jahat kepada Mbok Mirah, sedangkan wanita tua itu kini juga menjenguknya, tanpa pilih kasih terhadap dirinya dan Alexa.


"Terimakasih telah menjenguk aku Mbok."


"Bukankah sebagai sesama kita harus saling peduli, karena kita tidak selamanya sehat, kita adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan orang lain." sahut Mbok Mirah dengan suaranya yang bergetar karena telah lanjut usia.


Raisya menundukkan kepalanya, didalam hati ia membenarkan ucapan Mbok Mirah. Dulu dirinya yang terkesan angkuh dan sombong, bahkan ia merasa tidak pernah membutuhkan bantuan dari orang lain. Kini ia merasakan juga dimana dalam beberapa bulan ini ia yang setiap harinya bahkan setiap saat selalu membutuhkan bantuan dari orang-orang sekitarnya. Bahkan untuk sekedar menelan air saja ia merasa sangat kesusahan. Dan jika tidak di suapi maka ia tidak akan makan.


"Maafkan semua kesalahanku selama ini Mbok," pinta Raisya dengan menatap wajah Mbok Mirah.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak Raisya tidak bersalah." Mbok Mirah mengelus pundak Raisya.


Terasa begitu menenangkan di dalam hati Raisya ketika mendengar ucapan Mbok Mirah, membuatnya teringat kembali dengan Oma Hesty yang telah ia celakai hingga meninggal.


'Oma, maafkan aku,' batin Raisya.


Raisya tidak pernah berani mengatakan hal itu kepada siapapun, walaupun sebenarnya semua keluarga telah mengetahui tentang hal itu. Namun, mereka lebih memilih untuk diam dan melupakan semuanya.


Bagi semua keluarga terutama Saga, tidak ingin mengungkit hal itu lagi, dikarenakan ia tidak ingin kondisi Raisya kembali drop, melihatnya sembuh saja telah membuat semua anggota keluarga merasa bahagia.


Tepat di saat itulah, sebuah ambulance datang dan parkir di halaman pesantren. Semua orang termasuk para santri merasa heran melihat sebuah ambulance berhenti disana.


"Siapa yang sakit?" tanya seorang santri kepada temannya.


"Tidak tahu, mungkin Neng Raisya atau Neng Alexa yang kambuh lagi," jawab temannya.


Terlihat dua orang laki-laki turun dari mobil ambulans itu, kemudian mereka segera membuka pintu belakang ambulance. Lalu dua orang itu menurunkan dua peti mati dari dalam ambulance. Rupanya mereka berdua adalah orang yang bertugas mengurus jenazah.


"Maaf, apa benar ini pesantren Sullamul Hidayah?" tanya salah satu dari pengurus jenazah.


"Ya, benar," jawab santri yang ditanya.

__ADS_1


"Sebentar kami panggilkan dulu Pak Kyai," lanjut santri itu kemudian melangkah menuju ke arah rumah Ndalem.


Tak lama kemudian santri itu kembali lagi bersama dengan Kakek Syarifuddin dan Saga, yang berjalan kearah ambulance.


"Benar dengan bapak Kyai Syarifuddin kakek dari Raisya?" tanya pengurus jenazah itu dengan sopan.


"Ya, benar." Kakek Syarifuddin mengangguk.


"Kami dari rumah sakit Budi Asih, bertugas mengantarkan dua jenazah ini." Petugas itu menunjuk ke arah peti mati di sampingnya.


"Peti mati? Memangnya siapa yang meninggal?" tanya Kakek Syarifuddin dengan heran.


"Begini Pak, kemarin kami mendapatkan kiriman peti mati ini dari negara Swiss, kabarnya mereka mengalami kegagalan dalam proses operasi plastik, sehingga menimbulkan infeksi yang merenggut nyawa keduanya." papar Pengurus jenazah itu.


"Memangnya mereka siapa?" Saga yang merasa penasaran pun ikut bertanya.


"Ini identitas mereka." pengurus jenazah itu menyodorkan sebuah amplop coklat kepada Saga.


"Irwan dan Sammy," gumam Saga setelah melihat tanda pengenal di dalam amplop itu, dengan wajah yang tiba-tiba berubah memerah.


"Tidak! Mereka tidak diterima disini, lemparkan saja mereka ke tengah lautan!" seru Saga dengan tegas, "mereka lebih pantas menjadi santapan ikan-ikan besar disana,"


Kedua pengurus jenazah itu merasa kebingungan dengan sikap Saga.


"Maaf, kami kesini atas saran pelayan di mansion tuan," ucap pengurus jenazah itu.


Memang, mereka sebelumnya pergi ke mansion Hawiranata Kusuma, karena memang disanalah alamat yang tertera di kartu pengenal milik Irwan. Namun, pelayan yang bertugas menjaga mansion itu menyarankan agar mereka membawa kedua jenazah itu ke pesantren. Karena semua anggota keluarga Hawiranata Kusuma tinggal disana.


"Eyang yang menyuruh mereka," ucap Eyang Netty dari arah belakang.


Sontak Kakek Syarifuddin dan Saga menoleh ke arahnya.


"Saga, sebenarnya pelayan di mansion mu telah menghubungi dirimu sore tadi, karena kau tidak ada jadi Eyang yang mengangkat panggilannya, tapi Eyang lupa memberitahumu," jelas Eyang Netty.


"Saga cucuku, maafkanlah mereka, biarkan mereka dimakamkan di TPU sekitar." ucap Kakek Syarifuddin kemudian.


Saga terdiam, tampak ia sedang berpikir.

__ADS_1


"Baiklah," ucapnya, "tapi, apa penyebab mereka meninggal?"


Kemudian seorang pengurus jenazah itu menjelaskan sebab-musabab kedua orang itu meninggal.


"Apakah mereka telah dimandikan sesuai syariat?" tanya Kakek Syarifuddin.


"Sudah, Pak Kyai."


"Baiklah kalau begitu kita langsung tempatkan mereka di dalam masjid untuk segera dishalatkan."


Sesuai perintah Kakek Syarifuddin akhirnya kedua jenazah itu di bawa ke dalam masjid. Semua santri ikut menyolati.


"Jadi, suamiku sudah meninggal?" lirih Raisya dengan air mata yang telah terlanjur mengalir membentuk air sungai.


"Ya," jawab Eyang Netty.


Semua orang berkumpul di kamar Raisya, kecuali Alexa yang memang tidak mendengar informasi itu. Karena dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kesehatannya. Walau bagaimanapun Alexa pernah ditawan oleh Irwan, mereka hanya tidak ingin Alexa kembali mengingat hal itu yang akan membuat dirinya shock.


"Aku ingin menemuinya sekali saja," lirih Raisya lagi.


"Tidak Nak, jangan, Saga melarang kita semua pergi kesana," ucap Eyang.


"Ini untuk yang terakhir kalinya," pinta Raisya


Setelah sholat jenazah selesai, para santri pun bergegas membawa dua peti mati itu ke arah TPU. Pemakaman akan di lakukan malam itu juga. Karena sebelumnya Kakek Syarifuddin yang mengenal dengan baik pengurus TPU, telah memberikan informasi bahwa malam itu mereka akan segera menguburkan dua jenazah sekaligus.


Dan tanpa berpikir panjang lagi, pengurus TPU segera menggali dua liang lahat sekaligus.


"Berhenti!" teriak Raisya yang berjalan tertatih-tatih dengan dipapah oleh Tiara.


Sontak membuat mereka semua berhenti, dan meletakkan kembali dua peti mati itu.


"Suamiku," lirih Raisya seraya berjongkok di samping salah satu dari peti mati itu.


Dan, memang di dalam peti mati itu tersimpan jenazah Irwan.


Raisya menangis sejadi-jadinya, Saga hanya bisa membiarkan kakaknya menangisi kepergian suaminya, karena sebagai istri itu memang wajar.

__ADS_1


Setelah puas menangis, akhirnya Raisya bangkit dari tempat nya, dan mempersilahkan para santri untuk melanjutkan kembali.


__ADS_2