
Disaat semua orang telah tertidur lelap, di saat itulah Saga terjaga. Ia duduk bersimpuh di dalam masjid setelah melakukan sholat istikharah. Ia memohon petunjuk tentang hubungannya dengan Alexa.
Kakek Syarifuddin yang melihat semua itu tersenyum seraya berjalan mendekati cucunya, ia mendengarkan dengan baik isi doa yang dipanjatkan oleh Saga malam itu.
Doa yang berisi penyesalan diri sendiri serta harapan untuk masa depannya yang lebih baik.
"Ya Allah, ya robb…ampunilah segala dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku, berilah hamba kesempatan untuk memperbaiki diri dari segala kesalahan yang pernah hamba lakukan yang disengaja ataupun yang tidak di sengaja.
Ya Allah, ampunilah kesalahan Kakakku, berilah ia kesembuhan agar bisa berkumpul kembali bersama kami, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.
Ya Allah, ya robb… jika memang Alexa adalah jodohku, maka persatukan lah kami, dan jika memang tidak, maka berilah kami masing-masing kebahagiaan dan jodoh yang sjoleh sholehah.
Ya Allah, hanya kepada mu aku berserah diri dan hanya kepadamu aku memohon pertolongan. Kabulkanlah doaku, Aamiin…!" Saga menganggkat kedua tangannya yang menengadah, lalu mengusapkannya ke wajahnya.
"Kakek bangga kepadamu, cucuku. Dalam waktu yang singkat kau telah mampu menjadi lebih bijak," ucap Kakek Syarifuddin dengan menepuk pundak Saga.
Saga tersenyum mendapatkan pujian dari Kakeknya, jarang-jarang ia dipuji seperti itu.
"Kakek dengar kau berdoa tentang hubunganmu dengan Alexa?"
"Iya Kek,"
"Apa kau masih mencintai mantan istrimu itu, dan kau ingin kembali kepadanya?" tanya Kakek lebih mengintimidasi.
"Ya, tentu saja. Tapi… masalahnya sekarang dia telah bertunangan dengan sahabatku sendiri Kek, dan karena hal inilah hubungan kami menjadi tidak baik sekarang," jawab Saga berterus terang.
Kakek Syarifudin terdiam, berusaha mencerna semua penjelasan dari cucunya.
"Apakah Alexa mencintai tunangannya?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak Kek, Aku melihat sendiri Alexa pernah memeluk fotoku di kamar, saat itu dia sedang menemani Sakti." jawab Saga berterus terang lagi, tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Kakek menghela nafas panjang berusaha mencari jalan keluar untuk cucunya itu.
"Baiklah, besok kita bicarakan ini dengan Alexa, Ricard dan juga Pak Hendra." ucap Kakek Syarifudin kemudian.
"Baik Kek."
"Sekarang sudah larut malam, lebih baik kau tidur saja, bukankah besok kau harus bekerja?"
"Iya, Kek,"
Kakek Syarifudin melangkah memasuki pondok ndalem, ia juga ingin beristirahat setelah selesai melaksanakan tugasnya sebagai pengasuh pondok pesantren Sullamul Hidayah.
Sementara Saga ia telah merebahkan dirinya di atas lantai di masjid itu, ia berusaha memejamkan kedua matanya, namun, tidak bisa. Dikarenakan bayangan Alexa kembali menggoda dirinya.
"Alexa aku berjanji jika suatu saat nanti kita bersatu kembali, tidak akan pernah aku menyia-nyiakanmu," bisik Saga.
Di dapur ndalem.
Septi yang merasa kehausan sedang mencari air minum, tetapi ia tidak dapat menemukannya. Septi mencarinya ke segala tempat, namun tetap tidak menemukannya.
"Mencari ini?" tiba-tiba saja terdengar suara dari arah belakangnya.
" Ricard?"
"Ya, ini ambillah!" Ricard menyodorkan sebotol minuman kepada Septi.
"Terima Kasih," ucap Septi seraya meraih botol itu di tangan Ricard.
__ADS_1
Membuat tangan keduanya saling bergesekan.
DEGH.
Jantung keduanya berdetak cepat, dag dig dug tidak menentu.
"Minumlah!" ucap Ricard lagi, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
Septi pun menurut meminum air itu, karena memang ia merasa sangat haus sekali.
"Ngomong-ngomong, dari mana kamu mendapatkan air ini, dari tadi aku mencarinya tidak ketemu," tanya Septi memberanikan diri untuk bertanya, jika tidak maka ia akan sangat terlihat bahwa dirinya sangat grogi saat itu.
"Di lemari, di depan dapur." sahut Ricard seraya tangannya menunjuk ke arah lemari besar yang terletak di samping pintu dapur.
"Pantas, aku tidak menemukannya disini," ucap Septi.
"Kau tidak tidur?" tanya Ricard kemudian.
Septi menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa tidur," ucapnya.
"Kenapa?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu, kamu juga belum tidur?"
"Belum, kita duduk di teras ndalem yuk" ajak Ricard, karena ia ingin mengobrol dan banyak mengorek informasi tentang wanita di depannya itu.
"Boleh, aku juga belum ngantuk." jawab Septi menyetujui ajakan Ricard.
__ADS_1
Kemudian keduanya pun melangkah menuju teras ndalem dan duduk di kursi di teras itu.