
...Apakah kalian pernah merasakan derita yang begitu perih ?...
...Penderitaan berduri tak kunjung akhir ?...
...Hanya 1% kebahagiaan terukir di wajah ku....
...Sepertinya aku tidak baik-baik saja....
...Aku bahkan selalu berbohong pada diri ku termasuk orang di sekitar ku dengan wajah palsu itu....
...Apa kalian pernah berpikir bahwa kalian ingin diperhatiin bagaimana sakitnya penderitaan? ...
...Membuat harapan agar seseorang memahami perasaan sakit itu?...
...Ku rasa itu hanyalah kiasan kata saja....
...Karena tidak ada yang dapat dipahami perasaan wanita....
...Hati wanita itu bernilai tapi misteri....
...Terkadang hati pria itu romantis tapi juga dingin nan egois....
...Itu pendapat ku....
...Nama ku Saori Hayaka, salah satu keluarga bangsawan besar yaitu klan Ayaka....
...Meskipun aku dari keluarga hebat itu, namun hidup ku tidak dihargai. Keluarga itu malah bahagia mengusir ku dari rumah....
...Aku tidak mengerti seperti apa jalan hidup ku sendiri....
...Walaupun dari kecil, aku adalah korban pembulian. Itu membuat ku tak menyangka diri ku sudah terbiasa dengan hal itu....
...Sepertinya hidup ku yang dulu sudah mati akibat dibuli....
...Sampai saat ini, aku hanya hidup sebagai mayat tak berwajah....
...Semua itu berawal dari.......
.......insiden dua tahun lalu....
"Dimana salah ku....?"
Dua tahun yang lalu, di usia ku 20 tahun. Hari itu, aku bekerja sampingan di toko kecil.
Biasalah, hanya lulusan SMA setengah, ada alasan mengapa aku harus putus sekolah.
Di tengah keramaian kota kecil Cell, aku sangat tau hari kesibukan masyarakat Cell yaitu hari senin adalah hari yang hebat.
Ku pikir itu sudah jadi kebiasaan, namun ternyata kesibukan hari senin sudah jadi tradisi modern di kota Cell.
Meskipun sibuk, ribuan kendaraan juga terlihat macet di jalan termasuk jalan besar.
Aku tau hari ini sibuk.
Tapi, aku sedikit kesulitan menemukan jalan ku.
"Sial! Aku bakal terlambat..."
Bahkan sulit menemukan taksi, alangkah baiknya harus merelakan kedua kaki ku tuk berlari. Beruntunglah tempat kerja ku tidaklah jauh.
Matahari sudah semakin terik, jam segini tidak banyak orang berlalu-lalang. Mereka hanya aktif pada saat jam pagi. Sangat beruntung jam kerja ku di atas mereka,
Hanya beberapa menit lagi, toko itu akan terlihat.
"Aku harus bekerja keras hari ini." Gigih ku.
__ADS_1
Akan tetapi, mata ku tertangkap seseorang gadis kecil menangis. Sepertinya dia kehilangan ibunya,
Dan yang jadi masalah adalah..
Gadis itu tidak menyadari dirinya berada di tengah jalan.
Itu dapat membahayakan dirinya.
Yahh, tubuh ku bergerak sendiri dan berlari cepat menyelamatkannya.
"Awaasssss!!!"
Namun, aku sedikit ceroboh.
Aku berhasil menyelamatkannya dengan memeluk gadis itu di pangkuan dada ku. Betapa bodohnya, aku tidak berlari jauh dari tempat itu. Malahan berdiam bersama gadis itu dalam ketakutan di pelukan ku.
Aaah, itu karena aku juga ketakutan.
"Apa aku akan mati di sini ?"
Bisa dibilang begitu. Nyawa ku hampir melayang menyadari salah satu mobil mengarah kami.
Ku rasa pemilik mobilnya belum menyadari kehadiran ku,
Atau...rem mobilnya hilang kendali, bukan?
Kelajuan mobilnya sangat cepat.
Aku khawatir.
"BERHENNTIIIIIII.....!" Teriak ku sekerasnya dengan menutup kedua mata ku.
Aku tidak berani melihat kejadian hari ini baik itu mengingatnya. Meskipun tak berani, kedua telinga ku tetap mendengar suara mobil itu berusaha mengendalikan dirinya.
Setelah itu, semuanya jadi hening. Aku penasaran, apa semua baik-baik saja?
"Aku tidak mati kan?" Itu pikir ku.
Begitu kedua mata ku terbuka, wajah ku sangat kaku dan sekujur tubuh ku gemetar ketakutan.
"Tidak...mungkin....."
Aku tidak percaya ini.
Apa aku sedang bermimpi buruk?
Mobil tadi yang sempat kehilangan kendali itu meledak tepat mata ku terbuka.
Tidak hanya itu, sebagian rumah ikut jadi korban ledakan karena mobil itu memilih nabrak rumah.
Ini bukan lagi sebagian rumah, tapi 5 rumah ikut korban kebakaran.
Ini kabar buruk.
"Kau baik-baik saja..?" Tanya ku pada gadis kecil di pelukan ku.
Mata ku membulat kaget lagi, "heh? Pingsan?"
"Sejak kapan...."
Aku tidak tau, sejak kapan gadis kecil itu pingsan. Apa karena ketakutan atau kesedihannya?
Ibu dari gadis itu akhirnya muncul, dan dia malah menampar ku.
"Dasar penculik!" Serunya.
__ADS_1
Aku terkejut dan heran, "What? Penculik?"
"Maaf, aku han-"
Ibu itu malah menuduh ku yang bukan-bukan, aku tidak punya kesempatan menjelaskannya bahwa sebenarnya aku hanya menyelamatkan putrinya bukan menculiknya.
Hingga keramaian orang itu ikut menganggap ku sebagai penculik anak.
"To-tolong dengarkan penjelasan ku, aku-"
Ibu itu menangis sambil memeluk putrinya, ketika putrinya sadar. Aku memintanya untuk mengatakan sebenarnya.
Pada akhirnya....
"Dia menculikku bu." Katanya.
"Apa?" Aku tak percaya gadis kecil itu ikut menuduh ku.
Beberapa mobil polisi, ambulan dan tim penyelamat kebakaran telah hadir. Mereka sibuk mengatasi insiden api yang melahap 5 rumah, 8 orang terluka dan 4 meninggal dan pemilik mobil yang meledak itu di temukan dalam keadaan kritis.
Dan tim polisi mengelilingi ku dengan menodongkan senjata pada ku.
"Apa yang terjadi? A-apa salah ku....?"
Aku bingung, mengapa mereka menodongkan pistol itu ke arah ku?
Tentu saja aku takut jika benar-benar tertembak.
"Angkat tanganmu segera!" Seru salah satunya.
"Apa salah ku?" Tanya ku.
"Anda adalah pelaku yang telah membuat insiden kritis termasuk mencelakai tuan Yong."
Aku tercengang, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku di salah kan?
"Aku tidak melakukan apa-apapun."
Penjelasan ku sia-sia karena ibu tadi mengaku sebagai saksi bahwa aku adalah pelaku insiden itu dan termasuk menculik putrinya.
"Apa-apaan semua ini?!" Aku mulai panik.
"Aku beneran tidak melakukan apapun! Aku hanya menyelematkan putrinya!"
Seusaha apapun kerasnya aku menjelaskan kejujuran ku, tiada satu pun mempercayainya.
Aku ditangkap dan di tuduh sebagai pelaku yang menyebabkan kecelakaan hari ini terutama tuan Yong yang mereka sebut kan.
Tuan Yong merupakan pemilik mobil yang meledak tadi, dia mengalami kritis karena luka bakar di bahunya sampai ke lehernya dan kedua kakinya juga patah dan tak bisa berjalan untuk sementara.
Butuh 1 atau 2 tahun dan entahlah, kapan dia membaik.
Sementara aku, sepertinya hidup ku berakhir di penjara selama dua tahun.
Itu waktu yang lama karena ini bukanlah kesalahan ku.
"Aku sungguh tidak melakukan apa-apa..." Sedih ku.
Penderitaan ku tetap berlanjut di penjara.
Hingga aku tak bisa berkata-kata lagi, ketika aku sering di salahkan.
"Dimana salah ku...?"
******
__ADS_1