
.
.
.
.
Yong-suk di kamarnya itu sedang melihat-lihat foto SMA nya yang tersimpan di kotak.
Memori SMA nya membuat dirinya tersenyum, karena saat itu dia adalah pria populer. Mulai dari foto bersama teman-temannya, gurunya, teman sekelas termasuk sahabatnya.
Dia benar-benar memiliki teman yang banyak.
Dan ketika menemukan sebuah foto ganjil membuat Yong-suk terbata, foto yang berisi dia tersenyum bersama gadis polos yang menyembunyikan ribuan penderitaannya dibalik tawanya.
Tangannya meraih foto itu, lalu membalikkannya.
Yang mengejutkannya adalah ada nama dan tanggal tertulis.
..."Saori dan Yong-suk, 11-04, akan ku ingat ini."...
Kedua mata Yong-suk kaku, bagaimana bisa dia melupakan memori itu.
Ternyata dia pernah bertemu dengan Hong Ye-jin yang sebagai Saori, bahkan satu sekolah.
Yong-suk adalah kakak kelas Saori.
"Bagaimana bisa...aku melupakannya?" Batinnya.
Di bangku SMA, Yong-suk berteman dengan Saori yang sering dibuli oleh satu sekolah. Saat itu, dia secara tak sengaja menemukan Saori menangis dibelakang sekolah.
"Oi, kau baik-baik saja?"
Saori tidak berani menatap wajah pria itu, karena khawatir akan diperlakukan seperti budak. Dia menangis ketakutan, tubuhnya ikut gemetar.
Tangan Yong-suk perlahan menepuk kepala Saori, lalu mengusapnya. Saori terkejut, ketakutannya tiba-tiba hilang dan mulai berani tatap muka.
"Siapa namamu?" Tanya Yong-suk.
"S-saori...Hayaka."
Yong-suk tersenyum dan memuji dengan perkataannya,
"Namamu mengingatkan ku dengan bunga sakura."
Ini pertama kalinya Saori mendapat pujian, dia menangis kagum melihat pria itu baik padanya.
"Panggil aku Suk."
"Kalau begitu...Suk...-kun."
Memanggil sebutan "kun" Itu membuat wajah Yong-suk sedikit memerah.
"U-uhm..a-anu...kau baik-baik saja?"
Saori tersenyum lebar dan mengatakan dirinya baik-baik saja. Namun Yong-suk terkejut dan sadar melihat airmata yang membasahi pipi Saori masih terlihat.
Itu artinya gadis itu berbohong menyembunyikan ribuan penderitaannya.
Hingga membuat Yong-suk sangat mengasihaninya.
"Mulai sekarang kita akan berteman dan selalu bertemu di sini." Ucap Yong-suk.
__ADS_1
"Nn!" Saori semangat menurutinya.
Mulai saat itu, Yong-suk berteman dengan Saori. Semenjak mereka berteman, mereka selalu bertemu dibelakang halaman sekolah.
Belajar bersama, ngerjain tugas bersama, saling menanyakan pendapat dalam pelajaran, makan bersama dan tertawa.
Tetap saja, Yong-suk tidak pernah mendengar Saori berbagi rasa sakitnya. Walaupun hampir tiap jam, Yong-suk tak sengaja menyaksikan Saori di buli.
Saori tetap tegar dan benar-benar menyembunyikannya.
Yong-suk tak bisa buat apa-apa, dia tidak tau kehidupan apa yang dialami Saori.
Hingga membuatnya ingin tau kehidupan Saori.
Sampai kelas 2 SMA, Yong-suk belum menemukan jawabannya. Dia memutuskan akan bertemu dengannya.
Dan dia terkejut menemukan Saori dalam keadaan babak belur dibelakang sekolah. Seragamnya sobek, luka membekas terlihat dikulitnya, wajahnya pucat dan rambutnya berantakkan.
Yong-suk panik itu berlari menghampirinya.
"Apa yang terjadi denganmu Saori?!"
Saori menunduk dan menangis, "maaf...hiksss..."
Yong-suk sudah tak tahan lagi, dia kecewa Saori tidak menceritakannya.
"Kenapa?...kenapa kau tidak memberitahuku?!" Seru Yong-suk.
"Padahal...kau menderita setiap hari, apa orang tuamu tau hal ini, hah?!"
Mendengar perkataan lantang oleh Yong-suk membuat Saori menyesalinya.
"Tidak ada orang yang memperlakukan ku seperti dirimu kecuali ayah ku."
Kehidupan Saori begitu perih sekali.
"Tapi...a-aku...baik-baik saja, j-jadi...tenang saja." Tutur Saori.
Yong-suk kesal, "baik apanya?! Kau ini tidak baik-baik saja, dan...kau masih berani mengatakan dirimu baik-baik saja!"
Airmatanya ikut mengalir menatap Saori yang terluka dalam,
"Kau ini tidak baik-baik saja Saori...hikss."
Tangan pucat Saori menarik lembut kepala Yong-suk bersandar dipelukannya.
"Maka dari itu...maafkan aku Suk-kun."
"...tapi bersamamu, aku merasa diriku baik-baik saja." Ucap Saori.
Yong-suk masih menangis, kemudian memeluk erat gadis rapuh itu.
"Aku ini temanmu juga." Katanya.
"Jadi...katakan apa yang terjadi padamu?"
Saori mulai menceritakan dirinya dibuli, juga dicabuli oleh guru wali kelasnya, tidak hanya itu dia harus menerima pukulan dari ibunya yang kejam terhadapnya.
Sambil mendengar, Yong-suk mengobati luka Saori dengan kotak P3K.
"Untuk saat ini, kau harus berhenti sekolah."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak tahan mereka membulimu tiap hari."
"Bagaimana dengan impian ku?..."
"...aku ingin menjadi perawat." Kata Saori.
"Tapi setidaknya kau memperhatikan dirimu yang sakit." tegur Yong-suk.
Saori ragu membuat keputusan, Yong-suk tiba-tiba mendekat hingga Saori terkejut wajahnya memerah.
"Aku janji, jika aku sukses...aku akan mencarimu tak peduli apapun yang menghalangi ku..."
"Yang terpenting aku bisa menemukanmu, dan saat itu...aku akan membebaskan penderitaanmu...
....tidak hanya itu aku akan menikahimu dan membuatmu bahagia."
Wajah Saori semakin memerah, "heeeehhh...m-me-menikah dengan k-ku...?"
"..i-i-itu mustahil."
"Ini janji ku, Saori!" Yong-suk benar-benar serius dengan perkataannya.
Saori dibuat bingung. Dia langsung mendorong Yong-suk menjauh darinya.
"K-kau...te-te-terlalu dekatttt!" Teriak Saori.
Yong-suk sadar langsung membungkuk maaf karena wajahnya juga memerah.
"M-ma-maafkan aku!!" Teriaknya.
Saori akhirnya menjawab, "A-aku akan memegang j-janjimu dan..."
"...akan menunggumu menyelamatkanmu Suk-kun."
Wajahnya masih memerah, Yong-suk merasa senang Saori mendengarkannya.
Ketika mata keduanya bertemu, wajah mereka memerah dan hindari kontak mata hingga suasana pun jadi canggung.
.
.
.
Setelah mengingat memori tersebut, Yong-suk sangat menyesalinya karena baru menyadari bahwa dirinya pernah membuat janji pada Saori akan menyelamatkan hidupnya dengan menikahinya.
"Aku tidak menyadarinya sama sekali." Batinnya.
Dirinya benar-benar bego.
Tapi biarpun itu, dia telah menemukan Saori dan menikahinya.
Dan lebih anehnya, Hong Ye-jin tidak mengingatnya.
*******
.
.
.
.
__ADS_1