ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 40


__ADS_3


.


.


.


Ye-jin ditemani Mijoo ke DAN dua bangunan kembar sudah terlihat dihadapan mereka. Sepertinya sudah siap bertemu ketua DAN.


Pria tua berwajah tampan telah memperlihatkan dirinya menyapa, lalu mengundang dua gadis itu masuk ke ruang kantornya. Tubuh pendeknya 169cm, punya tubuh kekar nan gagah. Dia tetaplah seorang pemimpin yang tangguh mendirikan perusahaan terbaik di negara Cell demi menjaga nama baik tanah airnya.


"Maafkan saya, jika akhir-akhir tidak menemui anda, tuan Jwi."


Ye-jin duduk di sofa hitam nan lembut itu menerima secangkir teh oleh tuan Jwi.


"Tidak apa-apa, saya mengerti anda sibuk." Tuan Jwi ikut duduk setelah menuangkan tiga cangkir teh.


"Saya benar-benar berterima kasih anda telah meluang waktu untuk membincangkan bisnis yang direncanakan."


Mijoo hanya duduk disebelah Ye-jin dan mendengarkannya.


"Kapan anda memulakan rencana ini?"


"Jika nona Hong sudah sepakat, maka saya akan segera konfirmasikan perencanaanya."


tangan Ye-jin menarik secawan teh dan menyentuhkan bibir lembutnya merasakan kehangatan teh tersebut.


"Kalau begitu, buatlah yang terbaik. Jika caramu dapat membantu ketertarikan masyarakat, aku tidak keberatan mengandalkan pada anda."


sambil memulangkan cawan teh ke piring mininya terletak di meja.


Bisnis yang Yong-suk inginkan adalah membangun sebuah bangunan restoran, dimana orang-orang yang tidak dapat makan atau tidak bisa membeli maka mereka bisa mampir ke tempat itu.


Restoran itu sudah siap menerima pembeli baik itu non-pembeli. Dengan begitu dapat membantu mereka yang miskin.


"Bagaimana keuntungannya?"


Itu pertanyaan pertama tuan Jwi.


"Ada dua tipe konsumen, non-pembeli dan pembeli masing-masing banding 50 plus dan minus. Maka 50 persen plus adalah keuntungan sudah lebih cukup dari sebagian."


Bayangkan jika pelanggan ada 100,ย  pembeli 50 dan non-pembeli juga 50 hasilnya seri. Itu artinya keuntungan restoran mendapatkan 50 persen plus dan itu sudah cukup lebih dari itu.


Karena sebagian adalah sedekah.


Ye-jin menjelaskan bahwa itu keinginannya dan suaminya. Mereka tidak bisa bersikap sombong dengan kekayaan dimilikinya.


Tuan Jwi memikirkannya dengan teliti hingga akhirnya, kepalanya mengangguk iya dan merasa itu ide yang bagus.


"Saya setuju."


"Kalau begitu saya mohon tanda tangannya."


Ye-jin mengambil kertas persetujuan terletak di meja dan mengamatinya dengan baik.


Dia harus baca dengan cermat agar kesepakatan ini tidak kacau atau ada kesalahan. Satu kesalahan kata saja, itu bisa merusak bisnis mereka.


Kemudian, salah satu tangannya meraih pulpen hitam di meja lalu menandatanganinya.


"Terima kasih sudah datang, anda sudah jauh-jauh kemari. Saya harap kinerja bisnis ini berjalan dengan baik."


Tuan Jwi mengulurkan tangan untuk menerima jabatan tangan sebagai bentuk kerjasamanya. Ye-jin tidak mempedulikan tangan yang bukan mahromnya.


"Mohon kerjasamanya tuan Jwi, aku tidak ingin melihat keserakahan seseorang maupun korupsi hanya demi keuntungannya sendiri."


Perkataan Ye-jin terdengar dingin, tapi sedikit menusuk ke hati Jwi apalagi Mijoo di sampingnya.


Dia hanya diam tidak menimbullkan ekspresinya kecuali matanya gagap berkelip.


"Jadi jangan remehkan kami."


Tuan Jwi jadi sedikit malu melihat jabatan tangannya tidak diterima Ye-jin yang sangat dingin.


Dia hanya tersenyum pahit menurunkan tangannya.


"Kalau begitu, kami permisi."


Ye-jin dan Mijoo membungkukkan kepala sebagai tanda pamitnya. Tuan Jwi membalasnya nan sopan.


Dia tak menyangka menghadapi ratu es adalah hal tersulit baginya. Itu artinya, dia harus sangat berhati-hati membangun bisnis Ye-jin dan Yong-suk.


"Ku pikir aku akan menghilang." Tuturnya.


.

__ADS_1


.


.


Kediaman Villa Ju, Yong-suk yang tak sadarkan diri itu, matanya perlahan gerak-gerik kemudian terbuka setengah. Tubuhnya terasa berat dan kepalanya juga masih terasa sakit.


Memperhatikan di sekelilingnya dan sepasang cairan infus menempel di tangannya, juga penutup oksigen terpasang di hidungnya hingga ke mulut.


Dia menangkap seseorang duduk di sampingnya itu sedang membaca buku.


"Ma-roo..."


Suara Yong-suk terdengar, mata Ma-roo mengalihkan pandangan ke arah tuannya.


"Tuan Ju, bagaimana keadaan mu? apa tuan masih merasa tubuhmu berat?"


Yong-suk tidak menjawab dulu, dia bangkit dan bersandar lalu membuka penutup mulutnya. Kemudian bernafas....


Hahhffh


"Aku baik-baik saja. Sudah berapa hari aku tertidur?"


"Bisa dibilang ini sudah 3 hari."


"Lalu, dimana Ye-jin?"


"Nona Hong sedang mengurus beberapa hal di perusahaan dan__"


Tiba-tiba suasana jadi hening mendadak.


Heh?


Heh?


HEEEH?!!


Dua pria itu baru menyadari satu hal yang jangkal dalam pembicaraan mereka.


"Suara tuan Ju sudah kembali?!!"


Mata Yong-suk melotot kaget dengan cepat menutup mulutnya. Tak menyangka suara yang hilang itu akhirnya telah kembali setelah dua tahun berlalu.


Bagaimana bisa?


"S-su-suara ku...kembali?"


Ma-roo tampak bersemangat ingin memberitahu segera pada Ye-jin.


"Tahan dulu, aku akan memberi kejutan."


Ma-roo terdiam sesaat. Heh?


Bibi muncul membawa handuk itu menyaksikan dua pria tampan itu berbicara.


"Tuan Ju sudah sadar ya, syukurlah..."


Dia sangat lega Yong-suk sepertinya baik-baik saja.


"Kau tau, betapa cemasnya nona Hong padamu. Dia bahkan rela menjagamu sepanjang malam."


"Aku benar-benar merepotkannya."


Yong-suk merenung sesaat dan mulai mengingat kejadian malam itu. Tetapi mengingat sampai habis, itu menguras otaknya hingga sakit meringis.


"Aku sulit mengingatnya."


"Jangan paksakan diri."


"Itu benar yang dikatakan Ma-roo, tuan Ju sebaiknya-"


Tiba-tiba bibi juga terdiam sesaat. Heh?


"Tunggu...?! Tuan Ju berbicara..? Suara tuan Ju....!!"


Yong-suk terkekeh kecil melihat tingkah bibi begitu lamban menyadarinya.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa....? Apa kalian sedang melakukan ritual sepanjang malam itu?"


Ma-roo jadi cemberut, perkataan bibi sangat ingin tau. Dia bahkan berpikir mereka melakuan ritual.


"Memangnya kami dukun apa?"


Bibi begitu semangat setelah mendengar kabar gembira itu. Ketiganya tak sabar memberi kejutan pada Ye-jin.


Sebuah ponsel mendering di saku jas Ma-roo. Dia meraihnya lalu melihat,

__ADS_1


"Oh, ini nona Hong...tolong perlahan suara kalian."


Dia mengangkat panggilan Ye-jin.


"M-ma-roo..."


Kebahagiaan Ma-roo jadi hilang sesaat mendengar suara Ye-jin terengah-engah dan lemas.


"...tolong j-jemput aku...di depan perusahaan DAN."


panggilan berakhir, Yong-suk dan Bibi penasaran dengan ekspresi Ma-roo yang tiba-tiba hilang.


"Ada apa?"


Ma-roo jadi sulit berekspresi seolah khawatir pada Ye-jin yang tidak pulih sepenuhnya.


"Entah kenapa...suara nona Hong terdengar lemas."


.


.


.


Ini sebelum Ma-roo menerima panggilan dari Ye-jin. Ketika selesai kesepakatan kecil dengan tuan Jwi, Ye-jin dan Mijoo berpisah di depan.


Mijoo merasa bersalah jika dia tidak mengantarnya.


Bibir Ye-jin tersenyum lembut nan damai itu menjawab, "Tidak usah khawatir, aku mencari taksi pergi perputakaan."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi."


"Nn, hati-hati." Ye-jin mengangguk sambil melambaikan telapak tangannya.


Meskipun dia tau, Mijoo adalah teman SMA nya yang pernah membulinya. Dia begitu berhati mulia tidak mementingkan hal itu, hanya saja tak ingin hatinya dikerumuni oleh kebenciannya.


Sampai saat itu, Mijoo juga tidak menyadarinya.


Mobil merah bergaya milik Mijoo itu sudah pergi, wajah Ye-jin berseri-seri tampak semangat untuk pergi ke perpustakaan.


Dia perlu menggali perekonomian terutama berurusan dalam hal bisnis.


Tiba-tiba seseorang berjaket hitam menerobos tabrak Ye-jin, dia begitu terkejut.


Tetapi, orang itu masih diam dihadapannya. Ye-jin mulai terasa tubuhnya kaku dan gemetar.


Getaran yang menusuk ke tubuhnya.


Aaghh! Dia menggigit bibirnya meringis sakit.


Ternyata perut sebelah kanannya telah di tusuk sebilah pisau, bentuk yang tak familiar sekali.


Wajah pucatnya terangkat menatap orang berjaket hitam hampir menutup seluruh wajahnya dengan masker hitamnya.


Ye-jin sangat mengenali tatapan itu, tatapan yang mengukir dendam dan kemarahan.


"S-se-sewon!?"


Salah satu tangan Sewon masih menempel genggaman pisau itu menusuk dalam ke perut Ye-jin.


"Ada apa? Apa nona Hong merasakan rasa sakit seperti tuan ku?"


Terdengar kesal penuh amarah, dia semakin menekan pisau itu menusuknya.


Gghh! Ye-jin berusaha mengeram tahan rasa sakit itu, tatapan dingin mengarah ke Sewon.


"T-tuanmu p-pantas mendapatkannya!" Gertaknya.


Sewon langsung melepas pisaunya berlumuran darah, ye-jin bisa menebak pria ini tersenyum jahat dan puas melihatnya kaku dan gemetar.


"Tapi..nona Hong juga harus merasakannya." Katanya.


Meninggalkan Ye-jin jatuh kewalahan, sewon merasa puas melihat wajah yang dipenuhi kesakitan nan pucat.


Aaghhh,


Perut Ye-jin bertumpahan darah. Dia segera mencari ponselnya di saku jas hitamnya.


"M-ma-roo..." Dia mencoba atur nafas dengan baik.


"T-to-long jemput aku...di depan perusahaan DAN."


Suaranya tetap saja terdengar lemas, begitu menutup panggilannya. Ye-jin mencari toilet untuk membersihkan bajunya berlumuran darah.


Dia tak bisa memperlihatkan dirinya sudah tertusuk.

__ADS_1


*******


__ADS_2