
.
.
.
Saat rumah itu meledak, Yong-suk menutup kepala istrinya dan memeluknya itu berhasil mendorong tubuhnya keluar, mereka jatuh bergulingan. Sampai mata Ye-jin terbuka dan melihat rumah itu baru saja dilahap oleh ledakan api.
"..huh?!" Matanya melotot ketakutan mencampur sedih.
Didalam masih ada teman-temannya seperti Julis, Meri, Mika, Mijoo dan Leo. Lalu bagaimana dengan bibi dan Ma-roo.
"Tidak...tidak..ini tidak mungkin."
Ye-jin sangat marah bercampur sedih, ia menangis tak bisa berbuat apa-apa melihat yang terjadi dihadapan matanya.
"Tidak...tidak."
Yong-suk mengepal kesal, karena tidak menyadari bahwa reunian di rumah itu adalah jebakan Ying-xi.
"..wanita itu...!"
"Yong-suk, bagaimana dengan mereka didalam? Bagaimana dengan bibi dan ma-roo? Julis, Meri, Mika, Mijoo dan Leo...?"
Dia tak tega melihat istrinya sedih bercampur ketakutan karena teman-temannya terjebak didalam.
Apa mereka masih hidup ?
"..nona Hong?!" Teriak suara familiar itu tak lain adalah Ma-roo yang menggendong bibi pingsan.
Dia terengah-engah berlari, kemudian membaringkan bibi di pangkuan Ye-jin.
"Jangan khawatir, nona..bibi hanya pingsan." Ia menenangkan Ye-jin masih setengah panik mengkhawatirkannya.
Mereka tentu saja selamat, keadaan bibi tetap baik-baik saja.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Ye-jin.
"Sebagian ada yang selamat sebelah barat."
Itu berarti ada peluang jika teman-temannya masih hidup. Ye-jin mengharapkan mereka juga selamat.
"Syukurlah..."
"Kalau begitu, Ma-roo segera panggil bantuan." Perintah Yong-suk.
"Baik." Ma-roo segera menghubungi ambulan dan tim bomba sesuai perintah tuannya. Lalu bergabung dengan Yong-suk untuk menyelamatkan yang lainnya.
Yong-suk mendekat dan meminta Ye-jin tetap tenang.
"Ye-jin, tunggu di sini. Aku akan menyelamatkan yang lain."
"Iya, tolong segera kembali dengan selamat."
"Aku akan kembali." Kemudian mengecup kening istrinya lalu masuk mencari yang selamat.
__ADS_1
. .
Tim bomba bersama ambulan sudah datang, mereka bergegas menyelamatkan korban dan memadamkan apinya.
Melihat kesibukan mereka berlalu-lalang ke sana kemari, Ye-jin masih memikirkan bagaimana dengan keadaan suaminya. Waktu sudah lama berlalu dan terasa lama menunggu.
"Ye-jin?!"
Mendengar suara tiga wanita yang tak familiar itu, Ye-jin menatapnya penuh kelegaannya.
"Julis...Mika..Meri."
Mereka berlari ke arah Ye-jin lalu memeluknya penuh khawatir.
"Ku pikir kau tidak selamat." Ucap Julis yang menangis seperti anak kecil.
"Aku juga mengkhawatirkan kalian, tapi...syukurlah...syukurlah." Ye-jin sangat lega mereka juga selamat dan tak ada luka.
"Tiba-tiba ledakan datang merusak ruang makan." Ucap Mika.
"Untungnya kami segera berlindung dibawah meja."
"Tadi aku sempat berpikir bagaimana denganmu, aku meninggalkanmu di dapur jadi aku dan lainnya panik mencarimu."
Julis menyesali perbuatannya karena meninggalkan Ye-jin di dapur sendirian.
"..aku baik-baik saja kok." Balas Ye-jin tersenyum tipis.
Tiba-tiba mereka berpikir, bagaimana dengan keadaan Mijoo dan Leo?"
"Apa mereka juga selamat?" Pikir Ye-jin.
"Yo, apa kalian masib hidup?" Sapa Leo.
"Bisa-bisanya kau menanyakan pertanyaan seperti itu padahal keadaanmu lebih buruk." Balas Ye-jin dingin.
"Aku setuju, dia bahkan mengorbankan punggungnya melindungi wajah ku dari api. Dia selalu nekat saja." Protes Mijoo.
Mereka pasangan yang cocok saling melindungi satu-sama lain. Jelas membuat Ye-jin bahagia.
"Tapi...kalian baik-baik saja?"
Keduanya tersenyum dan mengatakan mereka baik-baik saja.
. .
Yang tersisa adalah kehadiran Yong-suk belum muncul, tentu saja sang istri sangat mencemaskannya. Ia berdiri menunggu kepulangan suaminya.
"Apa dia selamat..?"
Melihat di sekelilingnya, sebagian orang mengalami luka ringan dan menurut informasi yang ia dapatkan hanya dua orang yang merupakan korban tewas.
"Siapa yang melakukan hal ini?" Gumamnya sedih.
"Saori..?" Panggil suara wanita dari sampingnya.
__ADS_1
Ye-jin menoleh wajahnya ke samping. "...bu Melisa?"
"Ternyata itu kau ya, Saori.."
Bagi Ye-jin, dulu itu bu Melisa lah yang sangat berhati mulia dan ingin membantu bebaskan penderitaan Ye-jin. Tapi itu sudah berlalu, dia saat ini tampak berdiri kokoh dan semua baik-baik saja.
Langkah Ye-jin mendekat, kemudian memeluknya.
"Maafkan aku..."
Ia juga menyesalinya, karena menolak bantuan bu Melisa.
"Tidak, saya masih bersyukur murid ku yang hilang ini dapat bertemu denganmu."
"Apa itu berarti bu melisa mengundang ku melalui Mika dan Meri?"
"Iya. Saat ini kau benar-benar berubah seperti orang yang berbeda."
Ye-jin tersenyum menatapnya, "ada banyak hal yang membuat ku berubah seperti ini."
"Walaupun kau berubah, kau tetap mengingat ku. Aku hampir tidak mengenalmu tadi, jadi maafkan aku yaa."
"Tidak apa-apa..."
Yang lainnya memperhatikan bu Melisa memeluk Ye-jin, mereka dibuat terharu dan lega.
"Nona Hong sudah bekerja keras selama ini bukan?" tebak Mika.
"Nn..dia sudah bekerja keras." Jawab Julis dan Meri bersamaan.
Mijoo juga setuju, "Aku juga sangat menyesali perbuatan ku terhadapnya, jadi...untuk saat ini aku akan membalas kebaikan sepenuh hati dan tidak akan membiarkannya jatuh."
"Aku juga."
"kalau begitu, kita sama-sama membantu nona Hong."
"Ya.
Ke-empat wanita itu tampak semangat, keadaan apapun melanda Ye-jin. Mereka siap membantunya dan tak akan melepaskan genggaman Ye-jin yang sudah merubahkan hidup mereka.
Namun, ini jelas Yong-suk belum kembali membuat Ye-jin mondar-mandir. Sampai langkah tak familiar itu datang menghampirinya.
"..maaf, apa aku terlambat?" Itu Yong-suk.
Ye-jin menangis lega menatap suaminya akhirnya dapat kembali dalam keadaan selamat. Meskipun dahinya sedikit terluka, tapi itu hanya luka ringan saja.
"..tidak sama sekali."
Langkahnya mendekat, kemudian memeluk suaminya.
"Syukurlah...syukurlah..."
Kedua tangan Yong-suk memeluk erat istrinya dengan mengusap rambut panjangnya terurai.
"Jika seandainya...dia terluka karena kegagalan ku lagi. Aku tidak bisa memaafkan rubah licik itu."
__ADS_1
Mereka berpelukan cukup lama dibawah langit malam berbintang.
*****