ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
EPISODE 8


__ADS_3


"Apa aku sedang bermimpi ? "


Aku masih syok dengan tulisan yang ingin dikatakan pria itu.


Dia benar-benar melamar ku, tapi kenapa?


Kenapa dia tiba-tiba melamar ku seolah tak ingin melepaskan ku.


Apa tujuannya ?


Aku khawatir dia bermaksud jahat pada ku, terutama mengkhianati ku.


"Bagaimana dengan satu syarat?" Tanya ku.


"Jika aku sah nenikah denganmu, untuk sementara waktu....bisakah kau tidak seranjang dengan ku?"


"...uhm...tunggu dua orang itu saling mencintai,"


"Jika perasaan ku tertolak baik dirimu, kau bisa membiarkan ku pergi."


(Aku tidak semudah itu melepaskanmu.)


"Huh?"


Jawabannya sungguh membuat ku kehabisan kata-kata, ini terasa canggung sekali.


Padahal sebelumnya aku sempat marah padanya.


"Tolong maafkan sikap ku sebelumnya." Kata ku membungkukkan badan ku menghadapnya.


(Kau tidak perlu melakukannya. )


Si pengawalnya membawa pria itu masuk ke mobil, aku hanya diam berdiri menyaksikannya.


Sampai si pengawal itu sembari ku lagi, "Nona tidak masuk?"


Kedua kening ku naik membingung, "Eh? Aku juga ikut?"


"Tuan Ju memintamu masuk, silahkan."


"Oh, b-baiklah..."


Selama perjalanan, suasana di mobil ini benar-benar canggung, aku tidak begitu banyak bicara.


(Maaf, aku belum perkenalkan diri. Nama ku, Ju Yong Suk)


Mata ku melotot tiba-tiba selembar kertas itu hadir dihadapan ku, aku menatap pria itu di samping ku.


Ternyata namanya, Ju Yong-suk. Nama yang unik, aku jadi gugup.


"Salam kenal juga, aku Saori Hayaka." Sambil menundukkan kepala ku dengan sopan.


Dan lagi, dia memberi ku selembar formulir.


"Formulir pernikahan?"


Aku membacanya terlebih dahulu, tak lama itu aku terdiam.


"Hong Ye Jin?"


Tuan Ju menjelaskannya alasan mengapa nama Hong Ye Jin diisi dalam kertas formulir itu.


(Untuk saat ini, jadilah karakter itu, hidupmu tidak akan dijamin aman jika kau menjadi dirimu sendiri.)


Mataku berkaca-kaca dan tak yakin harus menjadi karakter lain. Aku tidak ahli dalam berakting, apalagi menyamar.


"Tapi...kenapa?" Tanya ku menatap dia di samping ku.


"Kenapa aku harus melakukan ini?"


Dia menulis jawabannya.


(Apa kau tidak tau atau tidak merasa selama ini kau dijadikan pion rencana Ying Xi.)


"Huh? Pion...? Maksudmu aku dimanfaatkan?"


Ju membenarkannya. Aku tak percaya itu, karena Ying xi yang ku kenal tidak lagi mengkhianati ku seperti di bangku SMA.

__ADS_1


Tapi, ternyata dia tidak mengakui kesalahannya.


(Dia kenalanmu?)


Aku menganggukkan kepala ku.ย  "Hanya teman sebangku SMA dan saat itu..."


Aku tersadar lagi.ย  Kenapa aku mencoba membuka masalalu ku padanya?


Apa karena dia baik?


Dia penasaran apa yang ingin ku katakan tadi.


"Lupakan saja." Yang pasti aku tidak ingin dia tau masalalu ku.


Setiba rumah Tuan Ju, aku tertegun menatap kemewahan rumah itu. Dia orang kaya, itu artinya gaji pekerjaannya sangat tinggi bukan?


si pengawal menghampiri ku lagi, dia memberi sebuah kunci pada ku. Itu kunci rumah.


"Mulai sekarang, anda adalah istri tuan Ju. Jadi tolong urus dia dengan baik."


"Huh?"


"Tugas saya hanyalah mengawal tuan Ju saat keluar, jadi urusan rumah...saya serahkan pada anda."


"A-apa?"


Aku dibuat tak berkutip dengan tingkah si pengawal itu.


"Oya, tolong panggil saya Ma-roo." Sambungnya lagi.


"Dan selamat pernikahanmu, nona Hong."


Dia pamit begitu saja dan meninggalkan ku berdua dengan tuan Ju.


"What?"


Apa aku sedang bermimpi ?


(Nona Hong, ini sudah malam...ayo masuk.)


"Heh? Uh-oh...baiklah."


********


Ini sudah pukul setengah 9 malam setelah melewati kejadian tadi. Hampir seharian aku tidak pulang ke villa ku.


Dan aku merasa bahagia menemukan putri dari ayah klan Hayaka.


Ditambah lagi, dia telah menyetujui formulir pernikahan.


Itu artinya dia adalah istri ku, kan?


Hong Ye Jin.


Alasan menggunakan nama itu adalah agar orang-orang tidak mencelakainya baik itu memanfaatinya.


Dia hanyalah gadis yang begitu polos.


"A-anu...maaf, aku sedikit tidak nyaman kau menatap ku terus." Ucapnya.


Ahhh, itu karena dia sangat manis menghabiskan makan malamnya bersama ku.


(Apa kau mau nambah lagi?)


"Benarkah?"


(Ini rumahmu juga.)


Malam itu, dia sangat lapar setelah bebas dari tahanan. Aku sangat mengerti bahwa dia begitu tersiksa berada kurungan itu.


Aku punya seorang bibi yang selalu mengurus pekerjaan rumah termasuk menyiapkan makan malam ku.


Namanya....


"Kau bisa memanggil bibi Ning." Katanya.


"Salam kenal bibi Ning."


"Bibi sangat senang mendengar tuan muda memperkenalkanmu sebagai istrinya, selamat ya nona Hong."

__ADS_1


Aku juga sangat tau, Saori tidak nyaman sekali dengan panggilan nona Hong.


Bibi Ning meninggalkan kami berdua, gadis ini masih belum berhenti melahap makanannya.


Tubuhnya sedikit kurus akibat makannya tak terjaga.


Dia menatap ku.


(Ada apa?)


"Uhm...aku sangat berterima kasih padamu, kau adalah pria yang baik."


Wajah ku terpaku, aku tidak salah dengar kan? Dia menganggap ku baik?


(Ini pertama kalinya ada seorang sepertimu mengatakan seperti itu, aku senang.)


Bibir seksi nan tebal yang melebar tersenyum itu membuat jantung ku berdetak kencang.


Tapi, aku tidak boleh tertipu olehnya. Meskipun aku peduli, itu tidak berarti aku langsung menyukainya. Dia patut diwaspadai dahulu.


Suasana kembali hening setelah tak bicara semenit, masing-masing berusaha untuk berbaur.


Ku rasa dia juga merasakan hal yang sama dengan sifat pendiam ku.


(Bisakah kita tidak secanggung ini..?)


"Ohh...maafkan aku, aku tidak ahli dalam berbaur, aku bisa dibilang pendiam."


(Aku juga.)


Yah, kami sedikit tertawa. Mungkin merasa lucu pada diri sendiri ketika bertemu sesama pendiam.


"Benar-benar lucu, sampai aku bingung harus membicarakan apalagi." Ucapnya.


Bibirku tersenyum geli melihatnya, dia seperti diri ku saja.


"Tuan ju juga harus makan yang banyak." Sambil menuangkan sepotong daging kecil ke piring ku.


Aku tidak bisa menolak, kemudian menikmati makan malam bersamanya.


"Dia gadis yang baik...." Batin ku.


Diam-diam, dia mencoba berbaur dengan ku. Pertama-tama berpikir sebelum bicara.


"Ngomong-ngomong kenapa kau tidak bisa berbicara?" Tanya Saori.


Aku tak segan menulis jawaban ku di selembar kertas.


(Aku mengalami kecelakaan dua tahun lalu hingga mengakibatkan kondisi ku seperti ini.)


Wajahnya tiba-tiba kaku dan mengalihkan matanya ke arah lain.


(Ada apa ?)


"Aku hanya teringat kesalahan ku, aku....pernah dibilang mencelakai orang. Tapi bagiku, itu semuanya tidak ada hubungannya dengan ku." Sedihnya.


(Aku mengerti perasaanmu, masalalu hanyalah sejarah dan...kau sudah melewatinya, ku rasa...kau sudah bekerja keras selama ini.)


Matanya tertuju pada ku, "kau juga..."


Aku heran.


"Kau juga sudah bekerja keras menjalani penderitaanmu, bahkan kau pasti mencoba melawannya bukan?" Sambungnya.


Aku terdiam, apa yang dikatakannya memang benar.


Selama ini aku tidak bisa menerima keadaan ku yang cacat. Bahkan aku mencoba untuk mengakhiri hidup ku.


Tapi setelah dia mengatakan bahwa aku telah melewatinya dengan usaha ku. Aku menyadarinya, ternyata aku mengalami hal yang sama sepertinya.


Tapi sebenarnya, dialah yang lebih menderita dari ku.


(Terima kasih nasehatmu, nona Hong) balas ku tersenyum.


Makan malam pun berakhir, ini sudah waktunya untuk istirahat.


Semoga harimu besok diberkahi kebaikan, selamat malam...


********

__ADS_1


__ADS_2