ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 23


__ADS_3


Di awal pagi, masing-masing toko yang berada di wilayah Lone-Estate itu menerima surat perlindungan kontrak dari CEO, perusahaan Entertaiment Cell.


Masing-masing dari mereka menyetujuinya dan sangat membutuhkan keuntungan hasil usaha kerja keras mereka. Jika toko mereka dilengserkan maka tak bisa berbuat apa-apa tanpa modal baik itu tempat tinggal.


Yong-suk juga menerima pesan kabar dari Ma-roo di ponselnya.


"Kerja bagus." Balasnya.


Sosok Ye-jin muncul menghampiri meja sarapan di ruang makan.


"Selamat pagi." Sapanya sambil duduk, kemudian mengambil selembar roti.


Lalu memakannya dengan lahap. Matanya melihat suaminya fokus ke hpnya. Ye-jin mencoba ajak bicara,


"Apa ada masalah?"


Yong-suk sadar itu menaruh hpnya ke meja, lalu menulis sesuatu di kertasnya.


(Hari ini aku harus datang ke kantor mengurus kontrak wilayah lone-estate.)


"Ooh, ku pikir itu sudah berakhir."


Yong-suk juga menjelaskan pada istrinya kalau ada perusahaan yang sulit dirobohkan yaitu,


King Contraction.


Tidak hanya itu, Yong-suk juga sedikit kesulitan jika berurusan dengannya.


"Jadi...anak mafia kemarin adalah para anjingnya perusahaan itu." Tebak Ye-jin.


Yong-suk angguk membenarkannya.


"Lalu, bagaiman dengan Ying-xi?"


Ying-xi memasukkan perusahaan King sebagai pion rencananya juga.


"Kalau begitu...bukankah seharusnya kita bersiap-siap pergi?" Saran Ye-jin.


.


.


.


Keduanya menghabiskan sarapannya, setelah itu bersiap-siap berangkat. Ye-jin selesai terlebih dahulu,


dan akan menunggu suaminya selesai.


Namun anehnya, ini sedikit lama. Ye-jin jadi cemas, bibi muncul menghampirinya dengan wajah keraguannya.


"Ada apa bi?" Tanya Ye-jin.


"Uhm...aku hampir melupakan memberitahumu kalau....tugas seorang istri itu... perlu menyiapkan pakaian suaminya." Jawab bibi tampak ragu mengatakannya.


Wajah Ye-jin memerah karena pikirannya langsung kemana-mana. "Heh?"


"Me-menyiapkan pakaian...nya? Di...,kamarnya?"

__ADS_1


Bibi mengiyakannya. Ye-jin jadi gugup, ketika harus masuk ke kamar suaminya.


"Dan ini pakaiannya ya." Bibi memberikan set pakaian Yong-suk di tangan Ye-jin.


Kemudian pergi dengan wajah berseri-seri.


"Bibi senang melihat mereka mulai berbaur seperti biasanya, tapi...bukankah lebih bagus jika mereka sedikit romantis di satu kamar." Batinnya.


"A-apa yang harus a-aku lakukan...?" Ye-jin bingung bercampur gugup harus ke kamar suaminya.


Dia pun akhirnya mengumpulkan keberaniannya ke kamar Yong-suk. Ye-jin menarik nafas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya.


"Huuufffhhhh...pasti bisa!" Tekadnya.


Tangannya mengetuk pintu. ✊✊✊πŸšͺπŸšͺ


Namun tak ada tanggapan. Ye-jin tanpa berpikir itu langsung membuka pintunya. Lagipula pintunya juga tidak terkunci.


Dia sudah masuk, herannya lagi sosok Yong-suk tidak ada di sana.


"Kemana dia?" Sambil meletakkan pakaian Yong-suk di atas kasur.


"Apa dia masih di kamar mandi?" Pikirnya.


Matanya memutar ke kanan-kiri melihat ruang kamar Yong-suk begitu luas nan rapi.


"Kalau dipikir-pikir kamar ini membuat ku...ingin tidur." Gumamnya.


Sepertinya Ye-jin jatuh cinta pada aroma kamar itu, menghirupnya saja rasanya ingin tidur nan damai.


Saat ini dia sudah tenggelam melihat barang-barang Yong-suk hingga tanpa di sadarinya, suaminya akhirnya keluar dari kamar mandi.


Tentu saja Yong-suk sensitif jika seseorang masuk dan memeriksa barangnya, apalagi menyentuhnya.


Wajah Ye-jin kaku menemukan sebuah bingkai foto yang berisi foto Yong-suk kecil bersama gadis kecil dan seorang ibu tampak bahagia memeluk kedua anak kecil itu.


"Foto ini..."


Kedua tangannya bergerak ingin menyentuhnya, tangan Yong-suk duluan muncul menepuk bahunya.


"Ahh! Kau mengejutkan ku." Ye-jin sangat terkejut hampir jiwanya copot.


(Apa yang kau lakukan di sini?)


"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya-" Ucapan Ye-jin berhenti.


Matanya tertuju roti sobek putih Yong-suk yang terbuka setengah dada. Meskipun ada bekas luka menggores tubuh Yong-suk, tetap saja bodynya hot kebangetan!!


"This is a perfect hot body, ahhhh sixpack!" 🀀🀀🀀


Melihat perfect hot body itu sangatlah membunuh Ye-jin, hingga hidungnya mimisan.


Yong-suk melihatnya dan khawatir,


(Kau baik-baik saja?)


Ye-jin sadar itu wajahnya memerah, dia langsung menundukkan wajahnya agar tidak melihat roti sobek itu.


"Maaf! Aku hanya kemari membawakan pakaian untukmu." Jawabnya.

__ADS_1


Yong-suk juga sadar melihat pakaiannya di atas kasur, dia hampir mencurigai tingkah laku istrinya. Tapi, herannya mengapa Ye-jin yang mengantar pakaiannya.


Harusnya bibi yang melakukannya.


"Dan...ini tugas sebagai istri, itu saja." Sambung Ye-jin masih tertunduk.


Setelah itu, dia akan pergi. Namun yang jadi masalah, Yong-suk menarik tangan istrinya cegah keluar dari kamarnya.


Dia menunjukkan kertasnya dengan senyum sinisnya.


(Jika kelinci sudah terlanjur masuk ke lubang serigala maka dia tidak akan membebaskannya dengan cara yang mudah.)


Ye-jin menelan ludah menatap suaminya tampak menggodanya. Detak jantungnya jadi tidak teratur,.


"Gawat! Detak jantungku tidak teratur lagi...suhu panas ku akan naik lagi bukan?"


Dia menghela nafas panjang, merasa nafasnya sesak.


"Apa...,ada sesuatu yang perlu....ku bantu?"


Pada akhirnya, Ye-jin tak punya pilihan lain membantu mengenakan kemeja suaminya.


Yong-suk memperhatikan istrinya yang merapikan dasinya, wajah istrinya tampak pucat dan hal itu mengingatkan perkataan istrinya.


"Di saat tubuh ku bersentuhan denganmu, suhu tubuh ku jadi normal baik itu rasa sakit dan ketegangan ku."


"Ngomong-ngomong...siapa di foto tadi?" Tanya Ye-jin.


Bahkan dari nadanya sedikit lemas.


Tatapan Yong-suk sedikit sayu dan tak ingin menjawab pertanyaan itu. Ye-jin juga tidak nyaman telah menanyakannya.


"Maaf..." Dia tampak canggung.


Jari-jemari Yong-suk menyentuh tangan istrinya, wajah Ye-jin yang pucat tadi itu sudah tak terlihat lagi dan suhu tubuhnya normal baik itu detak jantungnya.


Ye-jin terkejut melihat tangannya di sentuh suaminya.


Hingga mata keduanya bertemu.


"U-uhm...kau ingin memastikannya?" Tanya Ye-jin.


Wajah Yong-suk begitu datar sampai Ye-jin sulit menebak ekspresinya.


"Kau sangat misterius, Yong-suk." Gumamnya.


Yong-suk akhirnya terlihat rapi, dia begitu senang menggoda istrinya apalagi ditinggal berdua ajak bercanda.


(Ayo berangkat, nona Hong.)


"Let's go!"


Bibi Ning menemani keduanya keluar sampai di depan pintu, dia sangat senang melihat mereka akhirnya damai setelah tiga hari tidak berlayanan.


"Syukurlah, bibi lega banget dehh liatnya."


Kemudian, mereka pergi dengan dijemput mobil Ma-roo.


"Semoga harimu menyenangkan....." 😊😊😊😊😊

__ADS_1


*********


__ADS_2