
.
.
.
Di tengah kegelapan, tak ada ruang cahaya bersinar di sana. Yong-suk kecil berlari ketakutan mencari tempat berlindung, wajahnya sangat ketakutan dan panik ketika kedua telinga mendengar seseorang memanggilnya.
3075...
3075...
"Tidak!...tidak!"
3075...ini perintah...
"Tidak, seseorang tolong aku! Seseorang tolong__"
Suara wanita terdengar olehnya, "Hentikan!!"
Matanya terbuka kaget bercampur bernafas lega, bahwa dia hanya bermimpi. Namun, keringat darah memenuhi wajahnya, bahkan nafasnya juga tak teratur. Setengah lengannya menutup matanya.
"Hufffhhh..." Menghela nafas panjang.
Lalu membuka kedua matanya kembali, "aku harus ke kantor."
Pada saat turun dari kasurnya, dia merasa perlahan tubuhnya memberat. Seseorang diluar mengetuk pintunya, yong-suk melangkah menuju ke pintu.
Dia terengah-engah ambil nafas berjalan lambat ke arah pintu,
"entah kenapa...pintunya t-terasa jauh..."
Akhirnya tangannya meraih pintu lalu membukanya, akan tetapi tubuhnya terasa lemah nan berat sudah tak kuat lagi, dia membiarkan tubuhnya jatuh ke dekapan seseorang.
"Huh? Yong-suk?" Kedua mata Ye-jin terbelalak kaget melihat suaminya tiba-tiba pingsan ke dekapan bahunya.
"Kau baik-baik saja?"
Saat telapak tangan Ye-jin menyentuh wajah suaminya itu terasa panas. Lagi-lagi membuatnya terkejut,
"Huh...? Tubuhmu panas, jangan bilang kau...."
. .
Di kamar, Yong-suk tidak enak badan terbaring demam di kasur. Sementara istrinya mengompres tuala basah ke dahi Yong-suk.
"Kau berlebihan bekerja."
Akhir-akhir ini, Yong-suk bisa dibilang sibuk harus keluar masuk ke luar kota dan negara. Ye-jin tidak ikut bersamanya jadi dia mengandalkan Ma-roo untuk menjaganya.
Namun Yong-suk yang baru saja pulang malah terserang demam akibat terlalu bekerja keras.
"M-maafkan aku..."
"Sekarang istirahatlah, aku akan meminta bibi membuatkan mu bubur dan aku akan__"
"Kemana kau akan pergi?"
__ADS_1
"Di kantor ada klien datang jadi aku__β
"Serahkan saja pada Ma-roo, aku...ingin kau berada disamping ku."
Ye-jin tersentak kaget hingga wajahnya memerah dengarnya.
"Huh..? Uhm...uh-ah..b-baiklah, kalau begitu aku memberitahunya d-dulu, aku akan kembali."
. .
Di restoran Peri, seperti biasanya dua saudara itu sibuk melayani pelanggannya. Namun, mereka terdiam sesaat ketika bertemu Ying-xi sebagai pelanggannya.
Bibirnya tersenyum sinis ketika matanya terjumpa oleh dua orang itu.
"Lama tidak bertemu, putri ular berbisa."
Mika dan Meri mengerutkan keningnya melihat ratu madona itu mengenakan pakaian berjaket menutupi kepalanya dan tempelan putih menutupi parut di pipinya.
"Untuk apa kau kemari?"
"Jangan dingin begitu, aku hanya ingin kalian memberi info tentang Ye-jin sebenarnya."
"kenapa?"
Mereka heran, mengapa harus mereka yang ditanya soal Ye-jin. Padahal masih banyak orang mengenalnya.
"Karena kalian adalah orang terdekat dengannya."
"Sejak kapan kami dekat dengan nona Hong, dia hanya sebatas pelanggan kami."
"Aku tau dia sebatas pelanggan, tapi...dia sering kemari bukan?"
"Tidak ada yang penting mencari tahu tentangnya."
Mika dan Meri berusaha menghindar topik pembicaraan.
"Itulah kenapa, aku ingin kalian mengatakan apa adanya."
Mereka dibuat geram sisi iblis Ying-xi yang tak mau menyerah mencari tahu identitas Ye-jin.
"Dari suaranya yang dingin, itu terdengar suara yang sangat familiar sekali untukku..."
"Suara gadis yang pernah menangis memohon atas penderitaannya, bukankah dia seperti..."
"...Saori Hayaka..?"
Mata mereka menyipit kesal, "kau benar-benar si rubah licik." Kata Mika.
"Apa itu berarti dugaan ku benar?"
Mata Ying-xi sangat mudah membaca gerak-gerik mereka yang tampaknya berusaha menyembunyikan sesuatu berhubungan Ye-jin dibelakangnya.
"Mohon tinggalkan tempat ini, atau ku panggil__"
Ying-xi bangkit dari tempat duduknya, "kau tidak usah mengusir ku, membaca gerak-gerik kalian itu sudah cukup untukku menemukan jawaban yang kalian sembunyikan."
Melihat wanita itu pergi, dua saudara itu semakin kesal.
"Si rubah licik itu tiada habisnya memasang wajah mengerikan!"
__ADS_1
"Apa yang harus kita lakukan, Mika?"
"Yahh, sebagai teman harus patut memberitahunya karena si rubah licik itu kapan saja bisa menyerang nona Hong dari belakang."
"Iya, akan ku lakukan."
. .
Ye-jin kembali dengan membawa semangkuk bubur hangat untuk suaminya. Langkahnya kemudian mendekat menatap suaminya tidak tidur.
Dia membantu Yong-suk bangkit menyandarkan bahunya dengan tindisan bantal.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Ye-jin.
"Aku merasa pusing dan seluruh tubuh ku juga berat."
"Kalau begitu, kau harus makan buburnya sedikit dan setelah itu minum obat dan istirahat."
"Nn."
Ye-jin menyuapi bubur hangat ke mulut suaminya, melihat bibir Yong-suk pucat itu jelas mengingatkan ciuman pertamanya lagi.
Dia menggelengkan kepalanya menolak ingat momen tersebut.
Setelah Yong-suk selesai makan dan minum obat, dia istirahat dan tertidur lelap. Ye-jin menghela kecil, bahwa ini pertama kali baginya merawat orang sakit selain dirinya.
"Huffhhh..."
Kemudian dia menerima panggilan dari Mika,
"Ada apa?"
"Nona Hong...ku rasa aku tidak bermaksud memberitahunya."
"Hm..?" Ye-jin memiringkan kepalanya,
"Ying-xi menerobos ke tempat kami dan ingin tau tentangmu."
"Itu artinya Ying-xi berhasil tau?"
"Kami berusaha menghindarinya, tapi si rubah licik itu dapat membaca gerak-gerik kami."
Mata Ye-jin menyipit kesal, "kalian tidak ahli dalam petak umpet ya."
"Tapi kami sudah berusaha bego!"
"Bego katamu? Jelaskan kalianlah bego, tapi...itu tidak masalah, karena aku tidak bisa lari lagi dari identitas ku."
"Lalu apa yang kau lakukan? Dia kapan saja bisa menyerangmu, tetap waspada nona Hong."
Bibirnya tersenyum jahat, "Aku akan menyerangnya 1 lawan 1."
"Hahhhh?!!" Tentu saja Mika dibuat kaget.
"Kau benar-benar sudah gila."
"yeah.... Memang faktanya begitu."
********
__ADS_1