ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 28


__ADS_3

"aku tidak ingin mengingatnya lagi."



Malam yang menyedihkan itu adalah hal yang sangat ditakuti nona Hong. Di usianya yang ke-15, tangan dan kakinya diikat tali dan saat ini dia di kurung di toilet bar wanita.


Seragam SMA nya sangat berantakkan dan sobek, kulit putih sawonya juga merah membekas akibat dibuli oleh teman-temannya di sekolah.


"Hei, kelinci rendahan." Ucap seorang pria mengarahkan pistolnya masuk ke mulut Ye-jin.


Gaarghhh!


Airmata Ye-jin sudah membasahi pipinya, dia sudah ketakutan melihat di sekelilingnya beberapa wanita sepertinya tertembak mati oleh pria itu.


"Harus ku apakan kau..." Sambung pria itu tersenyum liar menatap tubuh Ye-jin menarik perhatiannnya.


Ye-jin tak bisa berbuat apa-apa, tak ada siapapun mendengar pertolongannya.


Hiksss...


"Bagaimana bisa kelinci rendahan sepertimu tersesat ke tempat ini? Apa..." Sambil mengeluarkan pisau kecilnya.


Kemudian merusak kancing seragam Ye-jin.


"...kau juga ingin merasakan seperti mereka di sekitarmu." Itu suara yeon-dul Mang.


Akibat ulah teman sekolahnya mengajak paksa ke bar, Ye-jin benar-benar terjebak.


Pisau tajam itu terlihat mengerikan, menyentuh kulitnya saja, itu sudah robek kecil dan mengeluarkan banyak darah.


Tapi itu menyakitkan.ย  Aargghhh!


Ye-jin meringis kesakitan pisau kecil itu perlahan membelah kulitnya.


"H-he-hentikan..." Bujuknya.


Hikss...


Yeon-dul tidak akan membebaskannya dengan mudah, perlahan tangan mengusap rambut Ye-jin.


"Aku ingat sekarang..." Ucap Yeon-dul.


"Kau saori Hayaka, murid kesayangan ku..." Sambungnya


tidak hanya di tempat itu, Ye-jin pernah mengalami hal tersebut di sekolah. yeon-dul sering memperlakukan Ye-jin mainan harinya membuat Ye-jin semakin takut bertemu dengannya apalagi berurusan.


"tidak...tidak....seseorang tolong aku, aku tidak mau...."


"...aku...aku tidak mau kesucian ku di rusak oleh orang jahat ini." Batinnya.


Yeon-dul benar-benar menunjukkan sisi iblisnya, dengan kasar kedua tangannya merobek pakaian Ye-jin.


Dia dalam keadaan terbuka dan tidak memakai apa-apa.


"Tidak...aku...aku...,"

__ADS_1


Hingga saat itu . . . .


.


.


.


.


"Aku tidak mau!!!" Teriak Ye-jin sangat syok terbangun dari tidurnya.


wajahnya pucat dan keringat, terengah-engah bangun dari tidurnya.


Ternyata tadi itu mimpi, tapi sebenarnya itu ingatannya yang hilang telah menghantuinya kembali.


Kemudian memperhatikan di sekitarnya, dia berada di kamar asing. Dimana dia sekarang?


Dia ketakutan kembali setelah memimpikan ingatannya.


"Tidak...tidak, aku ingin melupakannya." Cemasnya.


Kedua tangannya menutup kedua telinganya, dia benar-benar ketakutan dan sekujur tubuhnya gemetar.


"Hikss...tidak-tidak-tidak." Dia menangis ingin melupakan kenangan itu.


Nafasnya sesak, dia hampir gila ketika pikirannya terukir ingatan itu lagi.


Seseorang datang menerobos pintu dan menemukan Ye-jin dalam keadaan ketakutan, dia panik nan cemas itu langsung memeluk Ye-jin.


Ye-jin menangis di pelukan suaminya, tangan Yong-suk mengusap bahu istrinya dengan lembut agar menenangkannya.


Yong-suk sangat mengkhawatirkannya, apa yang membuat istrinya setakut ini?


Semenjak bertemu Yeon-dul tadi, Ye-jin jadi sedikit pendiam dan menyembunyikan rasa kepedihannya.


"Aku tidak mau...aku tidak mau." Ye-jin nangis itu masih menyerukan perkataan yang sama.


Yong-suk tetap berusaha menenangkan istrinya, dia mencoba menggenggam erat kedua tangan Ye-jin.


Kesedihan Ye-jin perlahan memudar dan rasa takut yang menggigil di sekujur tubuhnya juga perlahan mereda,


Hingga akhirnya, dia mulai tenang dan masih dipelukan suaminya.


"Maafkan aku." Sedihnya.


Lagi-lagi Ye-jin meminta maaf pada suaminya.


Yong-suk menulis di hpnya.


(Berhenti minta maaf pada ku.)


"Tapi...aku sangat takut." Ye-jin masih tertekan dengan ingatannya.


(Apa yang membuatmu takut? Kau bisa berbagi rasa takutmu pada ku.) tulis Yong-suk.

__ADS_1


Ye-jin bingung harus mengatakannya, bibirnya saja gemetar menceritakannya.


"Aku...aku tidak bisa." Tolaknya khawatir.


(aku tidak memaksamu, yang terpenting kau bisa tenang.)


Ye-jin menyerah dan akhirnya akan terbuka pada suaminya.


"Maaf...,sebenarnya....aku sudah mengenal beberapa orang yang aku temui..., termasuk, Yeon-dul Mang...."


Dia menangis lagi karena khawatir Yong-suk akan membencinya setelah mendengar kejujuran Ye-jin.


"...yeon-dul mang..., hiksss....di usia ku 15 tahun...a-aku terjebak s-sampai...,"


Ye-jin berusaha memberanikan diri lebih jujur lagi,


"...sampai pria itu..., merusak-"


Yong-suk tak ingin mendengar ucapan itu lagi, dia memeluk erat istrinya kembali.


(Aku mengerti, kau sangat takut bukan?) tulisnya.


"Aku...sangat takut." Balas Ye-jin.


Ketakutan dan kesedihan Ye-jin membuat tubuhnya panas nan melemah hingga jatuh pingsan dipelukan suaminya.


Yong-suk masih memeluknya. Dia ikut sedih melihat kondisi Ye-jin tampaknya ambruk lagi.


"Sudah berapa banyak penderitaan yang kau pikul, Ye-jin." Batinnya.


Dia menggendong istrinya dan keluar dari kamar itu, Mika dan Meri sembari Yong-suk.


"Tuan Ju, apa nona Hong baik-baik saja?" Tanya Mika khawatir.


Yong-suk hanya tersenyum kecil yang bermaksud untuk tidak mengkhawatirkan Ye-jin.


Dia bersama Ma-roo pamit pulang.


"Hati-hati tuan." Balas kedua wanita itu.


Sebelumnya saat makan siang, tiba-tiba Ye-jin hilang selera makannya hingga tubuhnya perlahan lemas, dan akhirnya jatuh pingsan.


Tentu saja semuanya panik, Yong-suk membawa istrinya ke kamar agar dapat istirahat sejenak.


Dalam perjalanan, Yong-suk mengingat ucapan istrinya.


"...sampai pria itu...merusak-"


Dia sangat mengerti perasaan wanita ketika harga dirinya hilang. Rasanya sangat malu dan sedih, bukan?


Saat ini Ye-jin tertidur di pangkuan suaminya, airmatanya masih terlihat mengalir. Tangan Yong-suk perlahan mengusapnya.


"Andai saja, suara ku kembali...pasti aku akan menenangkanmu dengan suara ku." Harapnya.


Dan kebetulan malam itu sedang hujan meteor. Apa harapannya akan segera terkabul ?

__ADS_1


*********


__ADS_2