
.
.
.
Tiga hari berlalu, Yong-suk akhirnya sehat wal-afiat bangkit dari tempat tidurnya. Yang mengherankannya, sosok istrinya tidak ada di tempat, bibi sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah seperti biasanya. Sementara Ma-roo lagi cuci mobil di depan halaman Villa.
"Ada apa, tuan Ju?" Ma-roo menangkap Yong-suk berdiri kebingungan di depan.
"Kemana nona Hong?"
Ma-roo heran, "Apa nona tidak memberitahumu?"
Dia bahkan membuat Yong-suk jadi bingung lagi.
"Hm?"
"Dia menerima pesan reuni SMA dan diadakan di Villa bintang lima."
"Dia tidak memberitahu ku, boleh ku tau dimana tempat itu?"
Ma-roo berpikir dan mengingat ucapan Ye-jin sebelumnya.
"Hm...itu loo, kota Euge."
"Heh? Jauh amat..." Yong-suk kaget, haruskah reunian di tempat jauh seperti kota sebelah, Euge.
"Ahhh katanya, itu berdekatan SMA Euge." Jawab Ma-roo.
"Begitu, aku akan pergi."
Mendengar Yong-suk mendadak ingin pergi, Ma-roo khawatir dan sarankan untuk tidak tergesa-gesa.
"Heh? Seperti ini? Tuan ju baru saja sembuh, pastikan anda bersih-bersih lalu sarapan."
Yong-suk tidak punya pilihan lain menurutinya.
"Baik."
Ma-roo itu sudah seperti keluargannya.
"Dan aku akan menemani tuan, ntar bakal bermasalah lagi."
"Aku mengandalkanmu."
"Wokeyyyy!"
__ADS_1
. .
Di stasiun kereta, Ye-jin duduk di samping koridor menunggu gilirannya menuju ke kota Euge. Terdapat sekoper bawaan di sampingnya, dia sedikit tertunduk sedih karena tidak memberitahu suaminya. Apalagi minta izin,
Pikirannya dibanjiri penyesalan. Dia menghela nafas panjang.
"Aku menyesalllllll..." Keluhnya.
"Boleh aku duduk." Terdengar suara wanita familiar mendekatinya.
Ye-jin mengangkat kepalanya dan sedikit mengerutkan matanya ke arah wanita itu.
"Kau...Julis?"
"Begitu kah caramu menyapa ku, hah?" Julis cemberut ketika menyapa Ye-jin malah dibalas dingin.
"Duduklah." Dingin Ye-jin.
Tiba-tiba Julis mendekat sambil memeluk lengan Ye-jin.
"Apa yang kau__"
"Apakah kau juga menerima undangan reunian di Euge?"
Ye-jin terdiam sesaat, bagaimana Julis tau dia ingin pergi ke sana?
"Jangan bilang kau..."
Ye-jin heran melihat sikap Julis seperti gadis dimanjain sama papanya. Biarpun itu, Ye-jin bukanlah siapa-siapanya.
"Y-yahh... Aku. Aku angkatan 7 dan itu berarti..." Dia menatap Julis sejenak.
Julis terdiam sesaat lalu tertawa bahak-bahak mendengarnya.
"Hahahahahahah...ternyata kau junior ku yaa, tapi kau bersikap seolah kau kakak ku...hahahahaha."
"Emangnya lucu apa?" Ye-jin tidak menganggap itu lucu.
"Kagak siih, tapi bagi ku aku senang punya junior sepertimu."
"Kenapa tiba-tiba..."
"Uhmm kenapa ya, semenjak aku bertemu denganmu di pesta itu. Sepertinya aku jatuh cinta dengan tatapan iblis mu."
Melihat Julis tersenyum iblis ke arahnya. Ye-jin malah khawatir, perlahan jari-jemarinya memukul dahi Julis.
"Berhentilah bertingkah anak-anak."
__ADS_1
Julis makin cemberut, kemudian bibir tersenyum ceria memeluk lengan Ye-jin penuh cinta.
"Oya, ngomong-ngomong kau tidak mengajak suamimu ya?"
"Dia angkatan ke-6 loo, apa dia tidak di undang ya?"
"What?"
Ye-jin terdiam kaget, kemudian tersenyum pahit.
"Ehhrr... Y-yahhh aku kurang tau, tapi dia baru saja sembuh dari demam, jadi...ku saran kan sebaiknya istirahat."
"Apa itu berarti aku punya banyak waktu bersamamu...?"
"Heh?"
"Aku tidak sabar menantikan liburan reuni, apalagi bersama junior ku."
Ye-jin heran, mimpi apa dia semalam bertemu Julis tiba-tiba bersikap anak manja padanya. Ia jadi jengkel berurusan dengannya. Bagi Julis, melihat sikap dingin Ye-jin begitu keren. Dia semakin jatuh cinta padanya.
"Andai aja kau cowok, aku akan menyatakan perasaan ku padamu."
"Apa kau baru saja kabur dari rumah sakit jiwa?"
"Aku bukan pasiennya tauu."
Ye-jin mengeluh kesal, dan kebetulan keretanya sudah sampai. Dia bangkit dari tempat duduknya,
"Ayo berangkat." Ajaknya.
Dia berniat membawa kopernya, namun Julis langsung meraihnya.
"Biarkan aku membawanya!"
"Eh?"
"Tapi, koper ku berat dengan tubuh kecil sepertimu. Aku khawatir orang-orang menganggapmu budakku yang tersiksa oleh ku."
Julis menebarkan rasa kagumnya, "Aku lebih senang, jika mereka menganggap ku seperti itu. Asalkan im with youuu..."
"Eeeuuuuwwww, menjijikan...hufffh." Dia membuang nafas kecilnya.
"Baiklah..ayo masuk."
"Baik!" Julis tampak bersemangat masuk membawa bawaannya Ye-jin.
Ye-jin menyesal bertemu dengan wanita itu.
__ADS_1
"Harusnya aku tidak ikut."
*****