
.
.
.
Di sisi lain, Yong-suk sudah bersiap untuk berangkat dengan kemeja yang rapi. Tapi, langkahnya terjeda melihat Ma-roo membawa koper masuk ke mobil.
"Kenapa koper?"
Ma-roo baru sadar telah melupakan mengatakannya.
"Reunian selama 3 hari."
"What?!! 3 hariiiii?"
Teriakan Yong-suk hampir menjemput gempa hingga Ma-roo pun hanya menekukkan tubuhnya ke bawah melindungi diri.
"Tuan ju sereeeem."
"Ini sama saja seperti menginap sebulan, kenapa dia tidak memberitahu ku?" Yong-suk kesal.
Istrinya pergi tanpa minta izin darinya, yahh bisa dibilang dia sangat marah sama seperti mengkhianatinya saja.
"Ampunnn tuan..." Ma-roo ketakutan terus-menerus bersujud minta maaf.
Yong-suk mendengus kesal, lalu bergegas masuk ke mobil. Ma-roo dibuat hampir mati, bibi muncul mengenakan gaun yang rapi tampak membawa koper juga.
"Yooo." Sapanya.
Namun, menemukan Ma-roo masih bersujud ketakutan.
"Ma-roo, kau baik-baik saja?"
Ma-roo berdiri dan menceritakan tuan Ju sangat marah pada nona Hong. Tentu saja, bibi kaget.
"Whattttt? Nona Hong tidak memberitahunya?"
"Y-yah..ku pikir sudah sihh."
"Tunggu, bibi juga ikut?" Ma-roo baru sadar bibi sangat cantik hari ini.
Seperti mau pergi bulan madu.
"Tapi..ini bukan liburan bulan madu, bukan?"
Bibi terkekeh kecil mendengarnya, "ahahahahahahhh...yahhh tuan Ju mengajakku juga."
Lalu mereka dikejutkan oleh suara Yong-suk,
"Oi kalian berdua?"
Mereka langsung kaget. "Yaaa??!"
"Tunggu apa lagi, ayo berangkat!"
"Baik-baiikkkkk!!"
Keduanya bergegas masuk ke mobil, lalu berangkat.
. .
Tiba di kota Euge, dua wanita itu akhirnya keluar dari kereta dan melihat suasana musim semi yang hangat di kota Euge.
"Sudah lama aku tidak kemari yaa." Gumam Ye-jin.
Euge merupakan kota tetangganya Cell, meskipun kejauhan. Euge adalah puncak kenangan sekolahnya, saat ini dia tak bisa lari lagi dalam masalahnya terutama teman-temannya yang selalu membulinya.
__ADS_1
Dia harus berdiri dengan keberanian yang tangguh melawan mereka.
Sebelumnya, Meri dan Mika mengajaknya reunian di Euge.
"Tapi..." Tentu saja, Ye-jin berniat menolak karena khawatir orang-orang itu membulinya lagi.
"Jangan khawatir, kami hadir bersamamu nona Hong."
Semangat Ye-jin kembali itu akhirnya memutuskan untuk ikut.
Namun, dia menyesalinya karena harus berhadapan dengan Julis yang manja. Tapi, dia khawatir melihat Julis keluar dari kereta itu tampak kesulitan membawa dua koper.
"Hei, kau baik-baik saja?"
Julis menebar wajah pahitnya menahan kesulitannya.
"Ahahah...aku baik-baik saja kok, beneran..."
Ye-jin menghela nafas panjang lalu menghampirinya, lalu mengambil kedua koper di tangan Julis.
"Ah...Ye-jin, biar aku___"
"Istirahatlah, aku tidak bisa tenang melihat tanganmu merah memar." Dingin Ye-jin lalu pergi duluan.
"Kyaaaa....kereeeeeeen."
Mata Julis berbinar kagum melihat sikap dingin Ye-jin yang keren, dia mengejar Ye-jin kejauhan lalu memeluk lengannya penuh cinta.
Ye-jin hanya tersenyum pahit, dia tidak tau apa yang merasuki Julis sampai dia semanja ini terhadapnya.
Meri dan Mika menjemput Ye-jin di luar stasiun, tapi melihat Julis menempel dilengan Ye-jin. Raut wajah mereka berubah cemburu campur kesal.
"Apa aku terlambat?" Tanya Ye-jin sembari mereka.
"Tidak juga."
"A-anu...nona Hong, dia siapa?"
"Ooh dia, Julis...sebagai___"
"Pacarnya nona Hong!!!" Teriak Julis bahagia.
Mata dua saudara itu melotot tak percaya, "a-apa itu benar?"
Ye-jin menyela itu tidak benar, "aku tidak bisa menolak anak manja ini selalu ingin menempel pada ku, padahal dia senior ku angkatan ke-7"
Mulut mereka melongo, "whattttt??!!!"
Apa wanita itu lolicon?
"Oiya, Julis...mereka ini junior ku, Mika dan Meri."
Bukannya menyapa, Julis malah menatap tajam ke arah dua saudara itu, "jangan ambil pacar ku!"
Mika jadi heran. "Ehh? Ada apa dengannya?"
"Mungkin dia sudah gila kali yaa.." Bisik Meri.
Ye-jin hanya bisa tertawa pahit menatap Julis seperti anak kecil.
Mereka berempat masuk ke mobil Mika lalu berangkat ke tempat tujuan.
. .
Tujuannya pun ikut terlihat, sebuah rumah sederhana yang dibuat papan kayu dihiasi tanaman hijau dan hutan. Terdapat orang-orang juga sudah hadir di sana, Ye-jin menyadari ini bukanlah reunian.
"Sepertinya ini bukan reunian tapi...berkemah."
__ADS_1
Dia mendengus kesal karena menyadari penyesalannya,
"harusnya aku mengajaknya."
Ketiga wanita itu mendekatinya, "apa aku salah informasi?" Tanya Mika.
"Mereka bilang reuni, tapi mengapa malah kayak champing?"
Ye-jin menatap salah satunya, lalu bertanya.
"Siapa yang mengundang kalian?"
Tapi mereka menjawab serentak, "pak guru dan bu guru."
Ye-jin dibuat terkejut sesaat. "Heh?"
Dia baru sadar, tim guru itu mengundang mantan muridnya baik Ye-jin putus sekolah. Dan artinya, semuanya datang seperti saat ia bersekolah dulu.
"Apa sesuatu mengganggumu?" Tanya Julis penasaran melihat Ye-jin tampak khawatir sesuatu.
"Bukan urusanmu." Tegur Mika.
"Kau ini kakak kelas, jadi mohon bergabunglah ke tempatmu." Sambung Meri.
Julis jadi sebel berteman dengan dua saudara itu, tapi hati dan pikirannya tidak tenang menatap Ye-jin. Mata Ye-jin ke arahnya,
"Bergabunglah, tidak ada hal yang patut dikhawatirkan."
Julis khawatir, "Tapi...aku bisa merasakannya loo."
Bibir Ye-jin tersenyum ceria kebohongan, "Aku baik-baik saja."
Mika dan Meri mengajaknya pergi meninggalkan Julis berdiam sesaat.
"Ayo pergi."
Julis mencoba buka bibirnya, namun niatnya terkurung itu malah menggertakkan giginya.
"Ada apa dengan ku? Kenapa...kenapa...senyum itu terasa sekali kebohongan yang pahit."
Saat Ye-jin, Mika dan Meri bergabung, mereka disambut oleh tim rubah licik yang dipimping wanita familiar.
"Araaa...lihat siapa yang hadir dihadapan kita." Itu suara Ying-xi.
Mereka saling berbisik satu sama lain setelah melihat sosok Ye-jin yang memancarkan keindahan.
"Memangnya siapa dia?"
"Baru kali ini aku melihatnya."
"Benar, dia seperti madona kecantikan."
"Apa dia sekelas kita?"
Bibir Ying-xi menebar sinis mengarah Ye-jin.
"Dia adalah__"
Ye-jin tersenyum lalu perlahan membuka bibirnya dan bicara.
"Perkenalkan nama ku Saori Hayaka, tapi itu hanyalah nama panggung dan nama asli ku adalah Hong Ye-jin berasal klan bangsawan Jien, istri dari CEO perusahaan Cell Entertaiment."
Dia menundukkan kepalanya dengan sopan menyapa mereka, namun bibirnya masih mengukir iblis mengerikan.
Bahwa ini saatnya dia harus menyerang kata.
*******
__ADS_1