
.
.
.
Di saat malam, Bibi dan Ma-roo diam-diam mengendap langkah ke kamar Yong-suk. Mereka penasaran, apa Ye-jin akan tidur bersama suaminya seranjang?
Sejak kapan mereka mulai penasaran ini, sebelumnya saat bibi cuci piring. Kehadiran Ma-roo seperti hantu sungguh mengagetkan bibi.
"Eh! Ampun pocong!" Bibi jantungan kaget dan hampir menjatuhkan piring.
"Emang aku pocong apa?" Ma-roo cemberut mendengar perkataan bibi tadi asal keceplos.
Tangan bibi mengetuk jidat pria itu dan protes raut kesal,
"Aduh!"
"Itu salahmu datang seperti hantu saja, bikin kaget tau!"
"Y-yah..maaf, ini kebiasaan ku."
"Bagaimana pekerjaanmu sebagai sekretaris?" Tanya bibi.
Akhir-akhir ini Ma-roo juga tampak bekerja keras sebagai sekretarisnya tuan Ju, dia bahkan harus menemaninya rapat luar kota dan negara.
"Y-yahh begitulah...sibuk seperti biasanya."
Tapi, semenjak Yong-suk terserang demam. Pekerjaan Ma-roo makin menambah sibuk, untungnya dia gak gampang kelelahannya.
"Bekerja itu haruss."
Melihat raut wajah Ma-roo sepertinya memaksakan diri hingga tangan bibi mengetuk jidatnya lagi.
"Aduh! Apa salah ku bi?"
"Walaupun tuan Ju tidak memaksamu bekerja dan membiarkan mu bebas, bagaimanapun itu kau perlu mengistirahatkan tubuhmu sehari."
"Tapi aku gak__”
"Bibi khawatir kau akan sakit, jangan menganggap tubuhmu kebal terhadap penyakit, tapi kau ini manusia yang gampang terserang penyakit, mengerti?"
Ma-roo sangat senang menatap bibi yang begitu mengkhawatirkannya, sepertinya itu benar. Dia tak sepatutnya memaksakan diri.
"Baiklah, aku akan cuti besok sehari."
"nahh bagus tuh, oya ngomong-ngomong apa malam ini nona Hong akan tidur seranjang dengan tuan Ju?"
Tiba-tiba bibi menangkap rasa ingin tahunya, ma-roo memiringkan kepalanya dan heran bagaimana bisa wanita muda umurnya tua dapat menangkap ide sesuatu.
Bisa disebut, bibi ning itu jenius.
"Itu bukan urusan kita, bi." Ma-roo berniat menghindar pembahasan itu.
Bibi secara sengaja menggoda ma-roo dengan senyum jahatnya.
__ADS_1
"tapi, tidakkah kau penasaran? Mereka bahkan tak pernah seranjang bukan?"
"Bagaimana jika malam ini terjadi, kau pasti senang melihatnya bukan?"
Ma-roo ragu-ragu itu sadar perkataannya, "tunggu, apa itu berarti kita akan melihat secara langsung?"
"bukan secara langsung tapi..." Sambil mendekatkan bibirnya ke samping salah satu telinga Ma-roo.
Lalu berbisik menyambung perkataanya, "..tapi diam-diam looo."
Ma-roo menarik nafas bersalah, tidak menyangka dia harus ikut bersama bibi.
"Aku khawatir jika nona Hong menangkap kami, dan aku tidak tau harus berwajah apa berhadapan dengannya."
"Ssst, kau berisik."
Jari-jemari bibi perlahan membuka pintu dan melihat sosok misterius sudah ada di depan pintu. Wajah mereka dan melotot kaget, bagaimana orang itu sudah ada didepan pintu?
Mereka menelan ludah dan bingung harus berwajah apa berhadapan dengannya.
Perkataan Ma-roo tadi malah jadi kenyataan.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Itu suara Ye-jin menangkap mereka.
"E-eeh..ah..hahaha, nona Hong kah? A-anu...i-itulah kami hanya ingin liat apa tuan Ju sudah tidur?" Tanya bibi blak-blakkan.
Ye-jin menyipitkan mata dinginnya ke arah mereka, "penguntit." Singkatnya.
Mereka terkejut itu tak bisa mengelak dari perkataan tersebut. Ye-jin bisa tau gagap mereka tampak canggung berlebihan jadi tak bisa bersembunyi.
"M-maafkan kami, dan...kami tidak bermaksud."
"Kalau begitu___”
.
" Tatatititutu....kami pamit dulu, selamat malam."
Belum selesai Ye-jin bicara, Ma-roo menarik tangan bibi pergi secepatnya. Ye-jin hanya menggeleng kepalanya,
"Dasar yahh..."
. .
Sementara itu Yong-suk masih terlelap tidur, Ye-jin masuk menemaninya. Terdengar rintikan hujan di luar membawakan suara langit bergemuruh kilat itu akan membuat suaminya kedinginan hebat.
Ye-jin memperbaiki jendela, dan sambaran petir datang mengejutkannya lantas itu membuat sekujur tubuhnya ketakutan, dia menekuk lutut sambil menutup telinganya.
"Trauma kecil ku kembali."
Yah, bisa disebut dia trauma petir bergema di telinganya.
"Ye-jin..." Suara lemas terdengar memanggilnya,
Wajah Ye-jin menoleh ke arahnya, ternyata Yong-suk sadar sesaat mendengar suara petir. Dia menangkap istrinya duduk menekuk ketakutan di sana,
"Kemarilah..."
__ADS_1
Ye-jin melangkah dekat ke arah suaminya, sampai ia dapat menggenggam tangan Yong-suk. Dia bernafas lega bahwa kehangatan dan ketenangan mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Kau akan aman jika tidur bersama ku."
Raut wajah Ye-jin tertunduk sayu mendengar kata."tidur bersama" Sangatlah mengganggunya,
"Tapi aku..." Dia menggigit bibirnya kesal karena tak bisa mengatakannya.
"Apa yang mengganggumu?" Tanya Yong-suk,
Salah satu tangannya menarik dagu istrinya ke hadapan wajahnya.
Ye-jin sangat takut dan ragu mengatakannya, kedua alisnya mengerut sedih dan sebentar lagi airmatanya berjatuhan.
Tapi, dia menahannya sejenak. "Aku...aku tidak suci lagi dan aku tidak berhak tidur di sampingmu, aku...dan tubuh ku..."
Airmatanya perlahan turun membasahi pipinya,
"Tubuh ku...sangat kotor." sambungnya.
Suara petir menyentuh keras di luar, dia menunduk tahan ketakutannya sambil menggenggam erat telapak tangan suaminya.
Yong-suk mengerti hal itu, bagi Ye-jin sangat mustahil melarikan diri dari masalalu. Rasa sakit itu tetap saja meninggalkan bekas di benaknya, dia tak tau harus berbuat apa menghadapi penderitaannya masih menghantuinya.
"Bagi ku, kau spesial dan aku...tidak begitu memikirkannya, jangan terbebani oleh masalalumu." Jawab Yong-suk dengan nada lemasnya.
Ye-jin heran dan selalu tidak mengerti, mengapa pria itu tetap berhati mulia padanya. Bahkan di SMA, dia memperlakukannya sangat baik seperti malaikat. Hingga sekarang Yong-suk menepati janjikan akan menemukannya lalu menikahinya agar terbebas dari penderitaannya.
Kenapa pria itu selalu baik padanya? Ye-jin menangis tersedu-sedu menundukkan wajahnya lagi, lalu bertanya.
"Hiks...yong-suk, kenapa...kenapa kau selalu baik dan menerima ku seadanya?"
"Karena kau istri ku dan...tentu saja aku mencintaimu."
Perkataan suaminya membuat Ye-jin terdiam sesaat lalu mengangkat kepalanya ke arah Yong-suk. Bibir pucat Yong-suk menebarkan senyumannya.
"Ayo tidur, ini...sudah malam."
Akhirnya sepasang suami istri itu tidur seranjang, suara guntur diluar masih bergema. Yong-suk sarankan istrinya tetap dipelukannya karena itu aman menenangkannya.
Ye-jin melakukannya, tetapi wajahnya sudah memerah dan dia bahkan mendengar detak jantung suaminya sangat cepat, suara nafas beratnya juga terdengar dekat.
Kedua tangan Yong-suk memeluk erat tubuh kecil istrinya. Mata Ye-jin membulat kaget,
"Y-yong-suk...?"
"Maaf, sebenarnya aku sedikit terganggu mimpi buruk jadi aku ingin kau dipelukan ku."
"Mimpi buruk?"
"Nn, angka itu. Tapi...sebelumnya aku belum menceritakanmu bukan?"
"Tunggu kau sehat baru ceritakan pada ku, aku siap mendengarkanmu."
"Iya."
*****
__ADS_1