ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
EPISODE 5


__ADS_3

" Satu kata terakhir.. "


Hari berikutnya, aku diam-diam mengamati gadis itu di penjara. Sebelumnya Ma-roo ingin ikut menemani ku, namun aku menolak lembut agar polisi tidak mengetahui identitasnya.


(Sebaiknya tunggu aku kembali. )


"Baik."


Aku mulai mengamatinya, gadis itu hanya duduk ketakutan di pojok sendirian. Penampilannya berantakkan sekali dan wajahnya pucat, bengkak dan terluka.


Mungkin akibat di buli.


Matanya bengkak, sepertinya dia sudah menangis seharian.


Tidak, mungkin dia menangis setiap hari.


Nafas ku terasa sesak dan hati ku sedih, itu mungkin karena aku mengasihaninya. Hingga sulit membuat hati ku berbicara.


Aku ingin sekali menolongnya.


Tapi aku tidak bisa dengan kondisi ku seperti ini, terutama nama baik ku yang saat ini perlahan hancur.


"Maafkan aku... Tapi lain kali, aku akan menemukanmu." Batin ku.


Aku mengakhirinya dan pergi. Ma-roo heran menemukan ku dengan wajah ku yang datar.


"Apa sesuatu terjadi?"


Tangan ku memegang pulpen lalu menulis di kertas.


(Tidak ada apa-apa, apa kau sudah menemukan informasinya )


Ma-roo memberikan dokumen bertentangan gadis tadi.


Namanya Saori Hayaka, tingginya 155cm, rambut coklat dan mata hitam, golongan darahnya A+. Umurnya 20 tahun, lulusan SMP dan SMA sederajat.


Aku ingin tau, mengapa dia putus SMA ?


"Dia adalah putri salah satu klan bangsawan, ayaka. Baru-baru ini namanya telah digugurkan akibat insiden itu." Kata Ma-roo.


(Bagaimana dengan keluarganya ? )


"Keluarganya juga tidak begitu mementingkannya, tapi ayahnya saat ini sedang di rawat rumah sakit. Ku rasa hanya ayahnya yang memikirkannya."


( kalau begitu, tolong antarkan aku ke sana. )


Ma-roo sedikit terkejut, "Heh? Oh-b-baiklah."


Di RS Cell, aku bertemu dengan ayah Saori. Dia mengalami tumor paru-paru, bagi ku kondisinya sangat buruk karena sudah berada tingkat stadium 4.


Itu artinya, waktu sudah tidak banyak lagi.


Perlahan masuk, dia tampak tertidur. Namun mendengar kehadiran ku, ku rasa aku telah membangunkannya.

__ADS_1


"Siapa kau ?"


Aku mendorong kursi roda ku dengan perlahan menghampirimya. Kemudian menulis sesuatu lalu menunjukkannya.


(Apa benar anda adalah ayah saori, bukan? )


"Benar, darimana kau mengetahuinya ? Apa kau teman putri ku ?"


"lalu...kau tau dimana putri ku ?"


Tiba-tiba aku kehilangan kata menjawabnya, aku dibuat bingung.


"Akhir-akhir ini aku tidak pernah melihatnya..."


"...bahkan tidak pernah pulang ke rumah."


Aku benar-benar tidak tega mengatakan putrinya sedang menderita dipenjara, dia sosok ayah yang begitu menyayangi putrinya.


( belakangan ini dia sulit ditemukan, ku rasa dia ingin bersembunyi agar dapat menenangkan diri. )


"Apa dia punya masalah ?"


Ini pertama kalinya melihat orang sepertinya tidak mementingkan pita suara ku yang hilang.


( apa anda mencemaskannya ? )


"Benar, putri ku sifatnya pendiam dan sangat mustahil menceritkan kejujuran hatinya pada ayah seperti ku karena dia telah terbiasa menyembunyikan kejujuran itu."


Itu benar memiliki sifat pendiam adalah hal yang sulit dimengerti dan misteri karena kapan saja sifat itu akan meledak yaitu kemarahan dahsyat.


Penawaran sangat cocok menenangkan beban sakitnya.


"Kalau begitu, bisakah kau menuliskannya untukku ? Tubuh ku mati rasa."


(Tidak masalah.)


Dia mengatakan apa yang ingin disampaikan pada putrinya. Dia begitu merindukannya dan tidak tau apa putrinya baik-baik saja sendirian.


Ayah Saori menangis tersedu-sedu, kedua tangan ku gemetar. Mungkin karena kesedihan ayah Saori begitu mendalam hingga terasa oleh diri ku.


Setiap hari aku mengunjunginya agar dia terhibur dan selalu terbuka pada ku.


Dia sangat bahagia menceritakan putrinya.


Itu melegakan sekali.


Sampai nafas terakhirnya, dia menyampaikan satu ucapan terakhirnya pada ku.


"Terima kasih sudah menemani ku, jika kau bertemu dengan putri ku, ku mohon..."


"...lindungi dia."


Akan ku pegang kata itu.

__ADS_1


Saat ini, aku dan Ma-roo menghadiri pemakaman ayah Saori. Tak ada satupun orang hadir baik itu keluarganya, tapi seseorang hadir dengan tatapan menyedihkan.


Siapa dia ?


Dia cukup tinggi juga ya.


"Apa hubunganmu dengan ayah ku ?" Tanya dia.


Ayah? Apa pria ini adalah anaknya ?


Aku menatap Ma-roo agar dia menjawab pertanyaan ku.


"Hanya kerabat saja." Jawab Ma-roo.


"Aku putranya ke-empat, Shin Hayaka. Terima kasih sudah mengunjungi makam ayah ku."


Kami menundukkan kepala sebagai balas terima kasihnya dengan sopan.


"Kemana keluarga lainnya ? Hanya kau saja ?" Tanya Ma-roo


Shin menghela kecil, lalu menjawab. "Iya, yang lainnya tidak bisa hadir."


"Kenapa?"


"Entahlah, tapi kakakku sangat sedih jika mengetahui kematian ayah."


Sepertinya Shin tidak ingin membahas keluarganya, dia hanya memikirkan kakaknya.


"Kakak ?"


"Oh, kami bersaudara lima. Hanya aku dan kakak sangat peduli dengan ayah."


Jadi pria ini adalah adik ke-empat dari keluarga Hayaka. Itu artinya kakak yang dimaksudkannya adalah....


Saori.


Kami tidak ingin mengganggu rasa duka Shin terhadap ayahnya. Lagipula tidak ada kata yang ingin ku sampaikan pada Shin termasuk almahrum.


Yang terisi di kepala ku hanya kekosongan, tak tau lagi harus katakan apalagi selain selamat tinggal.


"Kalau begitu kami pergi dulu."


"Iya, hati-hati."


Diam-diam kami mengamati Shin dari kejauhan, dia benar-benar sedih dan menangis sambil usap papan nisan ayahnya.


"Maafkan aku, ayahh...." Sedihnya.


Dia orangnya ramah dan peduli. Ku pikir tidak ada orang yang menyayanginya, ternyata ada dua sosok menyayanginya yaitu...


Sang ayah dan adiknya ke-empat.


Saori harus tau ini.

__ADS_1


******


__ADS_2