ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 51


__ADS_3

.


.


.


.


Ye-jin telah kembali masuk ke kantor, langkahnya mematung sesaat di depan pintu menatap pria tinggi itu sudah berdiri menunggunya kemari.


Melihat ketampanan suaminya, sangat jelas Ye-jin teringat ciuman pertamanya dicuri.


Hingga wajah Ye-jin memerah blush, "kyaaaaahaaaa!! Aku ingin menghilangggg!!" Teriak suara hatinya.


Saking merahnya, dia ingin kabur lagi dari kontak fisik suaminya. Namun, salah satu tangannya terkunci ke dekapan Yong-suk.


"Sampai kapan kau terus menghindari ku, nona Hong?"


Ye-jin blak-blakkan menenangkan wajahnya masih memerah,


"E-eh? M-menghindar...? A-aku tidak p-pernah berniat menghindarimu...hahaha..." Bibirnya menebar senyum pahit.


"Sikapmu sangat jelas dilihat loo."


"Eh?" Ye-jin tak bisa menghindar kewaspadaan suaminya.


"Ehehrr...a-aku sebenarnya bingung."


Mata Yong-suk membulat kecil mendengar jawaban Ye-jin yang selama ini dalam kebingungan. Itu wajar baginya, dia sangat terkejut menerima ciuman pertamanya dan ditambah lagi Yong-suk mengungkap perasaannya.


Ye-jin tidak tau dengan cara apa menanggapi perasaan suaminya, dia sangat gugup dan rasanya mau pingsan.


"Tapi...kau tidak sopan mencuri ciuman pertama ku, c-curang sekali." Sambil menutup pipinya memerah.


Yong-suk juga terkejut kecil, dia baru tau bahwa itu ciuman pertama istrinya. Wajahnya sedikit malu karena tingkah lakunya jauh lebih nakal dari perkiraannya.


"M-maafkan aku."


"U-untuk saat ini...t-tolong beri aku waktu menanggapinya."


Dan saat ini Ye-jin mencoba atur timing yang tepat menanggapi perasaannya.


. .


Situasi ketegangan sepasang suami istri itu memudar kembali, mereka sibuk mengurus beberapa berkas. Tempat meja kerja Ye-jin di samping suaminya hanya berjarak 5 m, tiba-tiba Ye-jin sempat berpikir soal sekretaris.


"A-anu...Yong-suk, sekretarismu baru saja dipecat. Apa kau tidak punya rencana untuk menggantikannya ya?"


Bibir Yong-suk tersenyum tipis, "Aku sudah menemukan sekretaris yang cocok untuk perusahaan ini."


Raut wajah Ye-jin cemberut memerah karena malu berkata jujur.


"Tapi...jangan perempuan!"

__ADS_1


Entah kenapa, melihat istrinya cemberut malu. Yong-suk jadi ingin menggodanya,ย  "Kau cemburu?"


"...atau...perkataan itu masih mengganggumu ya?"


Kedua alis Ye-jin mengerut gemetar menahan kesalnya, "E-eh? K-kau...selalu saja menggoda ku."


"Itu hobi ku." singkat Yong-suk tersenyum sinis ke arah istrinya.


"W-what..?!"


Suara langkah mulai terdengar di depan pintu, Yong-suk menebak orang itu akhirnya datang.


"Dia datang."


Pintu itu terbuka menampakkan sosok pria familiar, mata Ye-jin terbelalak tidak menyangka pria itu adalah Sekretarisnya.


"E-eeeeeeehhhh? San Ma-roooooo?!!!!"


Ma-roo tersenyum pahit menyapa Ye-jin. "hehehe...mohon kerjasamanya nona Hong."


"Tapi, kenapa...?" Ye-jin kurang setuju ketika Ma-roo pengawal pribadi suaminya jadi sekretaris di perusahaan ini.


Yong-suk sedikit jengkel mendengar istrinya seperti protes.


"Kenapa...? kau tidak suka ya... Bukankah kau melarang ku merekut wanita sebagai sekretaris? Aku sudah mengabulkan permintaanmu."


"Y-yahh...b-bukan itu maksudku, i-itu loo..bukankah Ma-roo itu pengawal pribadimu."


Ye-jin tidak yakin harus Ma-roo, apa itu berarti Ma-roo harus bekerja keras menjadi sekrtarisnya dan menjaga tuannya.


Peran Ma-roo sebagai pengawal pribadi itu ketika Yong-suk sakit. Jadi sebelumnya Yong-suk lumpuh nan cacat hanya Ma-roo mengurusnya dan menjaganya.


"E-ehhh? B-benarkah?"


"benar nona Hong." Ma-roo menebar senyum malaikat.


Ye-jin mendengus kecil, "Yahh, mau gimana lagi, mohon kerjasamanya sekretaris Ma-roo."


"Iya!"


. .


Jam kantor selesai di sore hari, matahari hampir sudah tenggelam. Ye-jin bersama suaminya juga bersiap pulang dan tidak sabar menantikan makan malam yang akan disiapkan oleh suaminya.


"Aku baru tau kalau kau pintar urusan dapur."


"Itu juga hobi ku."


"Dari tadi kau terus mengoceh semua keahlianmu adalah hobimu."


"Memang faktanya begitu, termasuk mencuri ciumanmu juga hobi ku." Goda Yong-suk.


"Hah? Kau...sangat aneh."

__ADS_1


Dan langkah mereka berhenti sesaat melihat kehadiran Ying-xi bersama ibunya. Mereka heran melihat penampilan Ying-xi mengenakan pakaiam serba hitam dan menutupi mulut dengan maskernya.


"A-anu...maaf, ini perusahaan dan tidak ada acara pemakaman di sini." Ucap Ye-jin.


Lalu di sambung Yong-suk, "Ku rasa kalian salah tempat mengunjungi pemakaman."


Mereka berdua tiada habisnya memasang wajah datar dan berbicara santai hingga Ying-xi jadi kesal.


"Sial! Ini semua gara-gara tuan Ju membuat ku seperti ini!"


Sepasang suami istri itu memiringkan kepalanya bersamaan ke arah kanan, heran apa yang dibicarakan Ying-xi itu.


"Hm?"


"Gara-gara Yong-suk?" Heran Ye-jin.


Dan di sambung Yong-suk lagi.ย  "Dimana salah ku?"


Memasang wajah polos yang tak tau apa-apa, semakin membuat Ying-xi semakin kesal membara.


"K-kalian yah!!"


Dia tak punya pilihan lain menunjukkan luka bakarnya di pipinya. Mata mereka sedikit mengerut setelah melihatnya.


Beberapa saat kemudian,


"Ppffhhh...hahahahahahahaha..." Keduanya menertawai Ying-xi.


Yong-suk juga tau luka yang penyebab Ying-xi seperti itu. Jadi dia tertawa seolah tidak tau apa-apa


"Apa-apaan itu diwajahmu? Kau ingin memamerkannya kepada kami?"


"Itu...sangat lucu, perutku jadi sakit tertawa melihat wajahmu yang buruk itu."


Bibir Ye-jin tersenyum jahat menatap Ying-xi tampak seperti mau menangis.


"Berhenti menertawai putri ku." tegur ibunya Ying-xi.


Ye-jin merasa puas melihat Ying-xi memasang raut sedih karena wajahnya rusak karena luka bakar.


"Hei, sadarlah...memang fakta wajahmu harus jelek sama halnya dengan hatimu yang busuk itu."


Ucapan Ye-jin semakin tiada sopannya menjeleki Ying-xi, karena si rubah licik itu pernah melakukan hal yang sama terhadapnya.


"Ratu madona tidak pantas naik panggung dengan wajah rusak, aku penasaran bagaimana pendapat orang-orang melihat wajahmu itu."


"Aku sangat menantikan komentar kotor yang menusuk terus-menerus sampai kau jatuh terpuruk dalam kesedihanmu..."


"Astaga...hidupmu benar-benar malang ya, kasihan sekali..."


"Jaga mulutmu, dasar wanita murahan!!!" Ibunya Ying-xi tak tahan nama putri dicaci maki oleh Ying-xi.


Saking marahnya, dia ingin menampar wajah itu.

__ADS_1


******


__ADS_2