
"jangan sedih..." -Yong-suk
Di waktu bersamaan, Yong-suk tidak bisa tidur memikirkan kondisi Ye-jin yang masih berantakan akibat ulah Yong-suk.
Dia bangun dari tempat tidurnya lalu beranjak pergi ke ruang tamu.
Menemukan sofa, dia duduk menggenggam sebuah botol yang isinya puluhan kapsul.
Apa itu obat yang akan merusak dirinya ?
Dia akan melakukannya lagi bukan?
Dia menerima pesan dari pengawalnya, Ma-roo.
"Surat peresmian kontrak sudah selesai, apa perlu dibagikan ke lone-estate sekarang ?"
Yong-suk balas, sebaiknya surat itu dibagikan besok lusa.
Kemudian menutup ponselnya.
Dia menghela nafas panjang mengingat ucapan Ye-jin sungguh melukainya.
"Kau adalah puncak trauma ku!"
Yong-suk menggeleng kepala untuk tidak mengingatnya, matanya tertuju ke arah obat itu yang terletak di meja depannya.
Masih bersalah atas kesalahannya, juga tak bermaksud menyakiti Ye-jin melainkan ingin menyelamatkan hidupnya yang pahit.
"Tolong lindungi putri ku." Itu perkataan terakhir ayah Ye-jin pada Yong-suk.
Tangan mulai perlahan mengambil botol obat itu, lalu membuka penutupnya.
Dia menuangkan beberapa kapsul ke telapak tangannya.
Tiba-tiba saja, seseorang datang begitu cepat melempar obat itu dari tangan Yong-suk.
Orang itu panik dan khawatir menatap Yong-suk sangat nekad ingin menyakiti dirinya lagi.
"Apa kau sudah gila?!" Itu suara Ye-jin.
Yang saat ini, wajahnya banjir airmata mencemaskan suaminya.
"Berhenti lakukan ini." Bujuknya.
Yong-suk heran, bagaimana bisa Ye-jin melihatnya? Ini sudah jauh malam, apa Ye-jin juga tidak bisa tidur?
Matanya masih tertuju ke arah Ye-jin masih cemas dan panik. Ye-jin jatuh berlutut dan memohon maaf sebesar-besarnya telah kasar terhadapnya, bahkan membuat suaminya itu sedih hingga berniat melukai dirinya dengan obat itu.
"Maafkan aku..." Ucap Ye-jin terisak tangis dihadapan suaminya.
Kepalanya terunduk nangis tak berani menatap suaminya.
Yong-suk juga sedih dan tidak tega melihat istrinya menangis, kedua tangannya menyentuh wajah istrinya. Kemudian menarik ke hadapannya dengan lembut.
__ADS_1
"Maafkan aku...aku harusnya tidak melukaimu." Ucap Ye-jin.
Yong-suk sedih dan menggeleng kepalanya bahwa semua itu bukan salah Ye-jin, jadi tidak perlu minta maaf padanya.
Ye-jin tetap menegaskan itu kesalahannya, "tidak ini salah ku, aku benar-benar minta maaf."
Jari-jemari suaminya perlahan mengusap airmata Ye-jin, bibir Yong-suk tampaknya berusaha menggerakkannya agar dapat mengeluarkan suaranya.
Meskipun dia sedikit memaksa.
"J-ja...ngan...s-se..dih..."
Ye-jin pasrah dan menangis dipangkuan paha suaminya, dia tidak tau perasaan apa yang melandanya lagi sampai ia hanya bisa mencurahkan airmatanya.
Perasaan aduk oleh kesedihan, rasa syukur, dan bahagia.
Yong-suk hanya dapat mengusap lembut belaian rambut istrinya agar dapat menenangkannya.
Akhirnya Ye-jin mulai tampak tenang dan sudah tak menangis lagi, Yong-suk menarik istrinya perlahan ke tempat duduk, mata Ye-jin bengkak dan merah lagi.
Dia bahkan merasa malu menatap suaminya.
Namun, Yong-suk memaksa dengan menarik lembut dagu istrinya ke tatapannya.
Ye-jin sedikit gagap. "Uhmm...m-maaf..,"
Dia berusaha lagi lebih terbuka, "kau...harusnya tidak melakukan ini terus."
Yong-suk merasa Ye-jin sudah tau masalalunya, apa bibi yang memberitahunya?
Yong-suk mengambil ponselnya di meja, lalu mengetik sesuatu.
(Biar bagaimana pun itu, jangan salahkan diri sendiri.)
"Aku tau..." Balas Ye-jin sedikit tertunduk sayu karena dia benar-benar akui kesalahannya.
"Aku terlalu takut dan sering melarikan diri dari ketakutan ku, terkadang aku juga menyerah dan membiarkan ketakutan itu menelan ku."
Tangan Yong-suk mengetik, lalu menunjukkan pada istrinya.
(sekarang sudah ada aku di sampingmu, kau bisa berbagi rasa takut dengan ku agar kita bersama menghadapinya.)
Ye-jin menatap suaminya setelah membacanya, wajahnya mulai tidak sayu lagi melainkan begitu damai.
"Kau sangat berani melakukan hal apapun menghadapi sesuatu, meskipun kau telah melakukan kesalahan...tolong berhenti mencari solusi apapun untuk melupakannya..."
"...karena tidak ada solusi, kesalahan adalah hal biasa dan masa lalu hanyalah sejarah. Kau sudah melewatinya, jadi...." Sambil menyentuh leher Yong-suk.
Ye-jin juga menyadari bekas luka yang ada di samping leher suaminya adalah kenangan buruknya.
"....Jangan melukai dirimu." Sambung Ye-jin melebarkan senyumnya.
Yong-suk lega, akhirnya dapat melihat senyum itu. Mendengar nasehat istrinya itu merasa hati dan pikirannya mulai terdorong oleh perkataan Ye-jin.
Keduanya saling menebarkan senyumnya.
__ADS_1
(Terima kasih, aku akan mendengarkanmu Ye-jin.)
Kemudian Yong-suk menarik istrinya ke dekapannya, sampai Ye-jin dibuat jantungnya berdetak kencang dan nafasnya sedikit sesak berada didekapan dada suaminya.
Dan lagi membuatnya terkejut adalah, Ye-jin mendengar detak jantung Yong-suk lebih jelas dibanding dirinya.
"Mendengar suara detak jantungnya saja membuat ku ingin teriak lalu berkata "hore! Akhirnya aku mendengarkannya!" Suara detak jantungnya itu seperti kembang api." Kata batin Ye-jin.
Wajahnya sudah memerah, terutama aroma suaminya hampir membuat Ye-jin meleleh.
"Wahhh...aromanya!" ππππ batinnya.
Sementara Yong-suk, wajahnya juga memerah memeluk istrinya karena ini pengalaman pertama Yong-suk memeluk wanita.
"Astaga...ini pengalaman pertamaku!"
"...aku jadi gugup!" Sambung kata batin Yong-suk.
******
.
.
.
.
akhirnya mereka damai.
"aku telah menantikan adegan iniiiii...." kata bibi jatuh cintaππ
"ngomong-ngomong berapa umurmu bi?" tanya Ye-jin.
"ra-ha-sia..."
wajah Ye-jin jadi kesel tingkah bibi yang nakal.
"hei author, tolong jawab pertanyaan ku."
maaf, aku masih memikirkannya. tapi sebagai author pasti akan memberitahu nona Hong.
"itu membuang waktu." dingin Ye-jin.
"kalau begitu aku memberimu kesempatan dengan dukungan pembacamu." sambungnya.
ba-baiklah, aku mengerti. aku mohon para pembaca ku untuk selalu mendukung karya ini.
jika tidak nona Hong bakal luapin apinya di atas gunung.
"kau menyebutku naga api lagi?!"
ahhh...maafkan aku nona Hongggg...
minnaaaaaaa....jangan lupa dukunganmu.π₯π₯π₯π₯π₯
__ADS_1