
Dua tahun pun berlalu,
Akhirnya aku telah melewati masa penderitaan ku di tahanan. Orang tahanan juga memperlakukan ku seperti budaknya.
Setiap kesalahan yang mereka lakukan maka aku yang akan di salahkan hingga aku tak punya peluang untuk menjelaskannya.
Itu berarti aku menerima hukuman.
Tolong seseorang kasihani aku.
Tepat di depan gerbang tahanan, aku hanya menghela nafas panjang dan tak mampu mengucap sepatah-kata setelah bebas dari penjara.
Padahal aku tidak melakukan apapun.
Sekali lagi kepala ku menoleh dan menatap gedung berdiri di belakang ku.
"Aku tak percaya orang yang tak bersalah seperti ku tersiksa di tempat itu, aku bahkan dibuat tak berkutip sedikit pun."
Walaupun aku dibebaskan, tak ada satupun orang menyambut kepulangan ku hanya suara angin meniup diri ku.
(Suara angin meniup - woshhh...)
Tiba-tiba keluarga ku terlintas dipikiran ku, seingat ku tak ada kabar dari mereka baik itu menemui ku di penjara.
Apa mereka benar-benar tau hal ini?
Atau...mereka mencemaskan ku?
Sepertinya aku terlalu mengkhawatirkannya.
Ketika malam pun menjelang, aku sudah berdiri dihadapan rumah mewah itu. Entah kenapa tubuh ku jadi gemetar pulang.
Ahhh, itu karena keluarga itu tidak pernah menerima ku sebagai keluarganya terutama ibu ku.
Kecuali satu orang yang menyayangi ku yaitu sang Ayah ku.
Meskipun ayah sangat nenyayangi ku, tetap saja aku tidak begitu berani mengungkapkan isi hati ku.
Bisa dibilang aku pendiam dan sensitif berbicara.
"Aku pulang." Sambil membuka pintu.
Sayangnya pintu itu terkunci. Aku sempat heran, kemudian tangan ku mengetuk pintunya.
(Tok-tok-tok)
"Ini aku, tolong buka pintunya!" Nada ku sedikit keras.
Tak ada tanggapan, aku berusaha lagi agar seseorang segera membuka pintunya.
"Padahal hari ini adalah kepulangan ku, kenapa tak satupun menyambut ku pulang." Batin ku.
Pintu itu akhirnya terbuka dan memperlihatkan sosok ibu menyambut ku.
Wajah ku terasa kaku dan tegang menatap ibu ku terlihat kecewa.
"A-aku..pulang, bu..." Gagap ku.
Tatapan ibu jadi lebih tajam, tanpa pepatah-kata menyambut ku. Tangannya meraih cepat menampar pipi ku.
Aku tercengang dengan tamparan ini, mata ku berkaca-kaca dan tentu saja aku syok, kemudian menatap ibu ku lagi.
"Pergi sana!" Seru ibu.
"Kenapa?..." Tanya ku.
"...kenapa? Aku ini putrimu, bu. Seorang ibu tak patut memperlakukan anaknya seperti ini apalagi mengusir ku, aku baru saja bebas, bu!"
__ADS_1
Nada ku terdengar lantang, rasanya sudah muak harus bersikap mengalah terus. Kali ini aku harus berani menanyakan alasan keluarga itu tidak menerima ku.
Ibu benar-benar marah dengan ucapan ku terdengar melawan dan tidak sopan.
"Anak sepertimu tidak layak diterima oleh keluarga ini karena kamu..."
Tiba-tiba ibu jadi terdiam menyadari perkataannya hampir terceplos.
Aku penasaran, "karena apa, bu?"
"Tolong jawab bu, apa ibu menyembunyikan sesuatu dari ku?" Paksa ku.
"Cukup! Ibu sudah tak tahan lagi denganmu, kamu sudah mempermalukan klan Ayaka akibat kelakuanmu diluar dan itu sudah menyebar!"
Ibu mengabaikan pertanyaan ku.
"Kamu bahkan mencelakai pria terhormat itu sampai cacat."
Insiden 2 tahun lalu itu telah merusak nama keluarga Hayaka karena diri ku. Dan itu menyebar kemana-mana termasuk klan Ayaka.
Tentu saja, ibu merasa harga dirinya telah dinodai oleh ku.
Tapi setidaknya ibu mempercayai putrinya.
Aku menyakinkannya, "Itu tidak benar bu! Tolong percaya pada ku bu, semua itu hanyalah salah paham!"
Saat ku coba membujuknya dengan menyentuh pundak ibu, tak segan ibu menepisnya.
"Jangan pernah menyentuh ibu!" Tegasnya.
Aku terbata-bata, dua saudara ku juga menampakkan diri dan penasaran ada apa ribut di luar hingga ibu terdengar marah sehebat itu.
"Kakak sudah kembali?" Kata Mina, adik perempuan ku yang bungsu.
Kedua adikku sudah tumbuh dewasa, aku sedikit lega mereka sehat dan baik-baik saja.
"Shin, Mina...."
"Kenapa kakak baru muncul ?" Tanya Mina tampak kecewa menatap ku.
Aku heran, "Huh?"
"Gara-gara kakak, ayah sudah tiada!" Kata Mina
Aku tidak tau harus berwajah apa mendengar ucapan adik bungsu ku, seolah tak terima kehilangan ayah yang satu-satunya menyayangi ku.
Sungguh tidak ku percaya itu!
"A-apa? Apa katamu..? A-ayah...sudah tiada..?"
"Bu, katakan, apa yang dikatakan Mina itu benar? Ayah sudah tiada?"
Aku mencoba memastikan jawaban dari ibu, wajah ibu sudah kaku dan matanya sedikit merah gemetar menatap ku.
"Pergi kamu sana!" Sambil mendorong ku jatuh ke tanah.
Ibu sudah tega mendorong ku, tapi aku tetap tidak menyerah begitu saja.
"Bu, tolong jawab aku bu!"
"Iya itu benar! Semua itu gara-gara kamu!" Sepertinya ibu juga sudah muak pada ku.
Aku sangat berkecil hati hanya airmata ku terus merintih. Wajah ku tertunduk dan menangis, ibu dan Mina masuk meninggalkan ku.
Ibu benar-benar mengusir ku, aku tidak percaya harus menghadapi penderitaan ini.
Dan kali ini, aku telah kehilangan sosok ayah yang begitu baik pada ku. Dan tak ada satupun kata yang terungkap dari isi hati ku untuk ayah.
__ADS_1
"Maafin aku, ayah...maafin aku...."
Aku tersiksa.
Shin masih tertinggal menatap ku. Dia perlahan mendekati ku.
Kemudian memelukku, ini pertama kalinya adik laki-laki ku ini memberi kehangatan untukku.
"Maafkan aku." Kata Shin.
"Lupakan itu, katakan apa yang terjadi?"
Shin menatap ku dengan perhatian,
"Semenjak kau hilang, ayah kesepian dan khawatir kau tidak pulang, akibat hal itu ayah terkena serangan jantung dan meninggal."
Aku benar-benar payah tidak memikirkan betapa khawatirnya sang ayah terhadap ku. Ini kesalahan ku karena tidak memberitahunya apa yang terjadi di saat itu.
"Kau baik-baik saja di tahanan itu?" Shin khawatir.
Ku rasa perlu menjauh dari pertanyaan ini,
"Aku harus pergi." Alasan ku dengan berdiri kembali.
Shin bahkan mampu membaca gerak-gerikku.
"Kebiasaan mu itu adalah menghindar dari pertanyaan ku."
Aku ketahuan, "Ma-maaf..."
Untuk saat ini aku bingung harus menjawab apa tentang keadaan ku, ini seperti dunia telah mengkhianati ku.
"Lalu kemana kau akan pergi?" Tanya Shin.
"Entahlah."
Aku terpaksa merelakan jauh dari rumah ini demi kebaikan ku agar tidak menodai nama keluarga ibu.
"Selamat tinggal."
Begitu kecil menemukan kebahagiaan, berawal dari usia ku di bangku SMP hingga SMA dan bekerja paruh. Tiada perasaan kebahagiaan dibenakku, hanya ribuan luka menumpuk dibenakku.
Ku pikir penderitaan ku sudah berakhir.
"Kak Saori!?" Teriak Shin memanggil ku.
Langkah ku diam di tempat dan membiarkan dia berbicara.
"Aku mengerti rasa sakit itu seperti apa dalam benakmu, tapi ku rasa kau adalah kakak terbaik ku yang mencoba kuat menahannya."
"Aku sangat ingin membantumu, sayangnya aku tidak bisa..."
Aku menghela nafas panjang, menahan airmata ku menetes dan menoleh ke belakang.
Bibir ku tersenyum palsu menatap Shin,
"Kalau begitu, tolong dukung aku saja Shin."
"Iya, aku mendukungmu." Balasnya.
Aku melanjutkan langkah ku pergi dan perlahan-lahan...
Airmata ku merintih deras.
(menangis..)
Berharap sekali hujan datang membasahi ku karena itu membantu ku teriak sekeras-kerasnya.
__ADS_1
Agar tangisan ku tidak terdengar oleh siapapun itu.
********