ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 47


__ADS_3

.


.


.



Yong-suk dan Mijoo mampir ke restoran dua peri itu, sebelumnya Yong-suk mengajaknya sebagai balasan terima kasihnya karena Mijoo sebagai sekretarisnya sudah bekerja keras selama Yong-suk tidak hadir di kantor.


"Aku tidak enak hati, jika membiarkan sekretaris ku bekerja keras dalam pekerjaan kantor ku. Jadi, mohon diterima rasa terima kasih ku."


Mijoo tersenyum khawatir, "biar bagaimana pun itu, ini sudah kewajiban ku sebagai sekretarismu, tuan Ju."


"Silahkan masuk."


"Nn."


Ketika dua orang itu masuk, Yong-suk tak sengaja menemukan sosok familiar duduk paling ujung dan membelakanginya.


Rambut coklat panjang terurai menutupi punggungnya menatap koran, bahkan menutupi matanya dengan kacamata hitamnya. Dilihat dari ciri fisiknya, dia seorang wanita. Mata Yong-suk mengerut heran.


"Apa yang dilakukannya kemari?"


"Ada apa, tuan Ju?"


Langkah Yong-suk terdiam sesaat membuat Mijoo sadar apa yang dipikirkannya.


Yong-suk menggeleng kepalanya, "tidak ada apa-apa, ayo duduk di sebelah sini."


Dia berjalan menuju ke salah satu tempat meja, begitu sampai tangan menarik kursinya, kemudian duduk.


Dan dia sengaja duduk dibelakang wanita itu yang membelakanginya.


Karena dia tau, itu istrinya.


Mijoo memperhatikan suasana di sekitarnya, ini terasa hangat nan ramah terutama melihat orang-orang menikmati santapannya penuh keceriaan. Bibirnya tersenyum senang,


"Restoran ini sangat bagus, ini pertama kalinya aku mendengar restoran sebagus ini di wilayah lone-estate."


"Kau menyukainya?"


"Nn, akan ku jadikan salah satu rekomendasi ku."


Meri hadir dan siap melayani pelanggannya, tetapi kali ini wajahnya tersentak kaget bertemu Mijoo.


"Aaaah!! Mijoo, bukan?!"


Teriakan Meri juga membuat Mijoo kaget dan menyadari siapa Meri itu.


"Eh? M-meri...kau, jangan bilang..."


"Apa ini kebetulan! Lama tidak bertemu, Mijoo."


Keduanya adalah teman sekelas SMA, ini sudah lama mereka tidak bertemu.


"Kau mengenalnya?" Tanya Yong-suk sengaja.


"Benar, kami sekelas di SMA bukan?"


Mijoo membenarkannya, sepertinya dia benar-benar tenggelam oleh kebahagiaannya. Ini benar-benar keajaiban bahwa dia dapat bertemu teman sekelasnya yaitu Meri dan Mika.


Dua saudara kembar itu sangat menganggapnya sebagai keluarga, bagi Mijoo mereka adalah sahabat terbaik yang tak jarang ada.


"Ooh, pantesan nama restoranmu dua peri. Itu nama yang bagus." Pujinya.


"Oiya, tuan ju lama tidak bertemu ya, dan tadi...kalau tidak salah__"


Meri belum menyelesaikan ucapannya itu, Mika langsung hadir membentak kepala Meri dengan tangan kosong.


"Aduh!"


"Yo, Mijoo...lama tidak bertemu." Sapa Mika tersenyum pahit.

__ADS_1


"Oi, Mika?! Bisakah kau tidak membentak kepala ku?!"


"Ara...maaf ya, tangan ku tiba-tiba bergerak sendiri."


Yong-suk sangat tau gerak-gerik Mika bahwa dia berlari untuk menggagalkan Meri membocorkan bahwa istrinya mampir ke tempat ini.


"Kalian selalu berisik seperti biasanya yah.." Ucap Mijoo.


"Ehrr...uhm, maklumlah saudara...jika kau punya saudara, hidup mu tidak akan tenang karena harus berbagi rasa."


Perkataan Meri sungguh membuat Mika jengkel, terkadang mereka kerjasama ketika dalam kepanikan. Tetapi di saat menghadapi masalah pribadi terkadang salah satunya harus menjadi pengkhianat.


"Cih!"


"Ngomong-ngomong kapan kalian menyajikan pesanan ku." Tegur Yong-suk dingin.


Dia tak tahan melihat ketiga orang itu melupakan bahwa dia sepertinya nyamuk menganggu.


Meri tertawa pahit, "Ahahaha...aku hampir melupakannya."


"Kalau Mijoo mau pesan apa?" Tambahnya.


Mijoo berpikr, "Uhm...apa di sini ada Udon?"


"Tentu, kami akan menyiapkannya segera."


Mereka pamit membuat hidangan untuk Mijoo dan Yong-suk, selagi menunggu. Mereka berbicara tidak masuk akal sampai menusuk ke telinga Ye-jin.


"Apa tuan Ju sering mampir ke sini?" Tanya Mijoo tiba-tiba.


Ye-jin sudah menantikan trik apa lagi yang dilakukan Mijoo pada suaminya, bahkan kedua telinganya seperti radio siap mendengarkannya.


"Ini kedua kalinya, tapi nona Hong sering kemari."


"Apa karena tidak ahli urusan dapur?"


Pertanyaan Mijoo menusuk hati Ye-jin, dia memang tak ahli dalam urusan dapur. Karena hidupnya yang pahit tragis itu hanya diisi oleh rasa sakit di tubuhnya.


"Bisa dibilang begitu, tapi hidup ku tetap baik-baik saja."


"Heeehh benarkah? Lalu apa yang membuat tuan Ju ingin menikahinya?"


"Aku..." Bibir Yong-suk merapat sesaat dan berpikir.


"Aku ingin jadi orang yang satu-satunya memilikinya."


Bahwa dia ingin sekali mengatakan kalimat itu, namun tak bisa karena bibirnya hanya ingin mengatakan dihadapan istrinya, tidak dengan orang lain.


Entah kenapa dia ingin sekali menggoda istrinya yang saat ini menguping di belakang tempat duduknya, bibirnya menebar ide licik.


"Aku hanya memanfaatkannya untuk tujuan yang ku ingin kan, agar tiada siapapun yang mengalahkan ku lagi."


Kedua mata Ye-jin terbelalak, apa kupingnya tidak salah dengar omongan suaminya? Dia tega memanfaatkannya hanya demi mencapai tujuannya.


Sungguh itu membuat jengkel padanya.


"Hm? Kalau begitu...kau mencintainya." Tanya Mijoo.


Ye-jin menggigit bibir merah mudanya, kedua tangannya mengepal kesal. Dia sangat berharap suaminya jatuh cinta padanya,


Akan tetapi jawaban Yong-suk. . .


"Itu mustahil bagi ku, lagipula kami belum seranjang senenjak kejadian itu."


Bibir Ye-jin terdiam merapat tak berdaya, rasanya sudah kalah dari medan perang. Dia begitu mengharapkannya tetapi ternyata harapannya tidak terkabul.


"Dia berbohong." Batinnya.


Dia ragu mempercayakannya, tapi itu sungguh melukai perasaannya. Memang pilihannya adalah tidak seranjang dengan suaminya karena satu alasan bahwa dia belum mencintainya.


Tiba-tiba matanya tersentak kaget menyadari perasaannya hingga seluruh wajahnya memerah.


"Ughh..." Sambil menunduk menutup wajah malunya.

__ADS_1


"Apa ini? Apa ini..?! Aku cemburu terhadap suami ku dan itu artinya aku...."


Dia akhirnya sadar perasaannya terhadap suaminya.


"Ngomong-ngomong kalau bisa tau, bagaimana urusan kontrak wilayah Lone-estate?"


"Hm?"


"Y-yah.. Itu loo, baru-baru ini Mang-Contraction sudah gugur dan itu artinya Lone-estate akan mengalami kerugian."


Mijoo sebenarnya ragu membahasnya, karena itu jelas bukan urusannya. Tetap saja Yong-suk menanggapinya dengan wajah tenangnya.


"Sudah diahlikan ke perusahaan, jadi tenang saja dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."


Meri dan Mika kembali menyajikan pesenan mereka di meja.


"Silahkan."


"Terima kasih."


Yong-suk dan Mijoo menghabiskan makanannya dengan lahap, mereka juga berbicara tentang aneka ragam restoran dan makanannya.


Ye-jin dari tadi diam tempat duduk hampir merasa hatinya terbakar oleh ucapan mereka.


"Aku tidak pernah liat dia sebahagia itu." Batinnya.


. .


Pada akhirnya, mereka pamit. Ye-jin bernafas lega melihat keduanya sepertinya sudah jauh dari tempat ini.


"Astaga...mereka itu ya sungguh membuat pikiran kacau." Keluhnya.


"Punggung ku hampir mau patah duduk begitu lama mendengarkan radio tidak masuk akal."


Dia bangkit dari tempat duduknya, Meri dan Mika menghampirinya.


Meri heran menemukan Ye-jin masih di tempat,


"Eh? Nona Hong? Nona masih di sini, ku pikir tadi itu..."


"Jadi detektif dulu." Singkat Ye-jin.


"Oya, ini kacamatanya." Sambil mengembalikan kacamata milik Mika.


Mika mengambilnya. "Oh, uhm..."


tiba-tiba Meri baru sadar, "Heh? Jadi dari tadi...anda duduk di sini mendengarkannya."


"Aku pulang dulu, dah..." Ketika dia siap pergi meninggalkan tempat itu.


Mika menghentikannya, "tunggu..."


Matanya mengerut curiga dan masih ingin tau Ye-jin memanggil julukannya.


"Aku ingin bertanya satu hal padamu, bagaimana bisa kau mengetahui julukan ku baik itu Mijoo."


"Apa segitunya kau ingin tau?" Ye-jin memutar kepalanya ke hadapan Mika.


"Kau sungguh tidak tau, gadis yang dilucuti oleh satu sekolah."


Mendengar perkataan itu, mata mereka terbuka ketakutan menatap tatapan mengerikan yang terukir dimata Ye-jin.


"Gadis yang mereka tertawakan bahkan hampir berhaus darah menyakitinya, dia mungkin lenyap dari kehidupan kalian tapi...jiwanya masih berkeliaran dan siap memangsa satu-persatu karena telah membunuhnya."


"..!.."


Sekujur tubuh mereka mulai gemetar, karena tau apa yang sudah dilakukan terhadap gadis SMA itu sangatlah kejam.


Tapi, Mika tetap curiga. Kenapa Ye-jin tau hal itu? Padahal namanya tidak ada di daftar sekolah itu.


"Kenapa?"


"Karena....Hong Ye-jin berdiri dihadapan kalian adalah....."

__ADS_1


Mayatnya Saori.


*****


__ADS_2