ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
EPISODE 11


__ADS_3

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa..." - Yong-suk



Yong-suk tak sanggup memberitahu tujuannya mengajak Ye-jin ke pemakaman, karena hari ini adalah hari peringatan kematian Ayah Ye-jin.


"P-pemakaman? Emangnya siapa yang meninggal ?" Tanya Ye jin.


(Kau akan tau nanti setelah sampai.)


Sangat sulit memberitahunya, Yong-suk jadi khawatir perasaan Ye-jin yang sedih nanti.


Ma-roo juga tau hal itu, sementara Ye-jin hanya dalam kebingungan itu masih belum tau apa-apa.


Kedua pria itu mencemaskannya.


Tanah pemakaman mulai terlihat, Ye-jin masih belum memperhatikan di sekelilingnya. Begitu tiba, wajahnya kaku dan mulai menampakkan dirinya dari mobil.


"Ini..."


Ye-jin masih kaku, kedua matanya tak berkutip menatap sekumpulan orang familiar baginya.


Kedua pria itu hadir disamping Ye-jin,


"hari peringatan ayahmu, nona Hong." Tutur Ma-roo.


Ye-jin terdiam dan terkejut, "apa?"


Dan orang yang tadi dilihatnya adalah keluarganya. Ye-jin menatap Yong-suk dengan maksud ingin tau alasannnya.


Jari-jemari Yong-suk bergerak cepat menulis sesuatu di hpnya, lalu menunjukkannya.


(Karena dia ayahmu, kan?)


Bukan jawaban itu yang diinginkan Ye-jin.


"Bagaimana kau tau...?"


Bibir Yong-suk hanya tersenyum dengan maksud rahasia antara dia dan ayah Ye-jin.


Ketiganya mendekat, tetapi perasaan Ye-jin sedikit bermasalah. Wajahnya ketahuan bahwa dia merasa keberatan bertemu dengan ibu, kakak-kakaknya dan adik-adiknya.


Karena ibunya tak ingin melihat putrinya narapidana seperti Ye-jin muncul dihadapannya lagi.


Keluarga Hayaka yang jenguk berpindah alih menatap ke arah ketiga orang itu.


"Maaf, ada apa dengan kalian kemari? Apa kalian kerabatnya?" Tanya Ibu Hayaka.


Ye-jin sangat lega bisa melihat ibunya masih bersikap baik pada orang lain. Untuk saat ini, tiada mengenal identitas Ye-jin.

__ADS_1


Dan pria tinggi dari 4 saudara itu mengenal Yong-suk.


"Ahh benar, mereka adalah kerabat ayah di rumah sakit." Kata Shin, adik ke-empatnya Hayaka.


"Salam kenal semuanya, saya Ma-roo dan ini tuan Ju, di sebelah saya ini istrinya tuan Ju, Hong Ye-jin."


Ma-roo begitu ramah memperkenalkan dua orang itu pada keluarga Hayaka.


Mereka sama-sama memanjatkan doa, setelah itu menyiram bunga dan air di permukaan makam. Di saat giliran Ye-jin menyiramnya, keluarga Hayaka mulai mencurigainya.


"Entah kenapa istri tuan Ju mengingatkan kami dengan gadis diasingkan?" Sahut kakak tertua, Yui.


Ye-jin membeku di tempat, ucapan Yui sedikit melukainya dengan sebutan “gadis diasingkan”


"Apa yang anda katakan? Gadis...diasingkan?" Ma-roo juga khawatir keluarga Hayaka mulai mencaci maki dibelakang Saori.


Yui menatap tajam ke arah Ye-jin, dia punya firasat tinggi Ye-jin adalah Saori.


"Kami punya saudara yang sudah merusak nama baik keluarga kami dan..." Masih menatap Ye-jin.


"...penyebab kematian ayah kami." Sambungnya.


Ye-jin menatap Yui kembali, dan kali ini tatapannya sangat berbeda membuat Yui tutup mulut.


Yong-suk hanya menatapnya dan tak akan angkat kata karena keluarga Hayaka adalah keluarga sensitif berpenyakitan termasuk Yong-suk cacat.


Dan Ma-roo sepakat menyembunyikannya.


"Tapi faktanya memang begitu." Kata adik bungsu Hayaka, Mina.


Ye-jin tersenyum sinis menatap empat saudaranya, "apakah pantas mengatakan hal seperti itu dihadapan makam ayah kalian?..."sambil meletak jak airnya.


"..padahal kalian anak-anaknya, seorang ayah itu membutuhkan doa dari para anaknya..."


"..tidak dengan mencaci maki salah satu saudaranya." Sambungnya.


Kemudian, dia berdoa. Keempat saudara itu dibuat diam, namun perkataan Ibu Hayaka ternyata lebih tajam hingga menusuk ke batin Ye-jin.


"Gadis itu hanya serakah terhadap kebaikan, akibat kecerobohannya menyebabkan nama itu lenyap." Ucapnya.


Ye-jin menatap ibunya, dia sedikit kecewa ternyata ibunya masih membencinya.


"Dia patut disalahkan dan patut menerima akibat dari perbuatannya!" Seru Ibu Hayaka.


Dia agak tertekan memikirkan salah satu anaknya dan begitu benci apalagi membicarakan tentangnya.


Tiada henti mencaci maki didepan pemakaman suaminya.


Ibu macam apa dia?

__ADS_1


Suasana ini jadi canggung, Ye-jin kesulitan menahan dirinya. Dia tertekan pada omongan ibunya tadi dan hampir menangis dibuatnya.


"Biar bagaimanapun itu..." Bibir Ye-jin mulai gemetar nan gagap.


"...dia putrimu, tugas seorang ibu...adalah mendidiknya dengan benar."


"Dalam seumur hidupku tidak pernah menganggap gadis itu putri ku..."


"Bahkan semenjak dia lahir!"


Ye-jin menyerah, wajahnya sudah kaku dan tak kuat menahan dirinya lagi. Bibirnya merapat erat dan matanya menatap ke arah lain.


"Uhm..kalau begitu, kami akan segera pergi." ucap Ma-roo.


"Secepat ini?" Tanya Yui.


"Yeahh, ada urusan kantor, permisi."


"Baiklah, terima kasih sudah datang."


"Iya."


Mereka saling pamitan, Ye-jin tanpa pamit dan kesal bercampur sedih itu pergi begitu saja. Dia bahkan meninggalkan Ma-roo dan Yong-suk dibelakang.


"Nona Hong, tunggu kami!" Teriak Ma-roo.


Ye-jin tidak mempedulikannya.


Keluarga Hayaka masih curiga dengan istri tuan Ju.


"Dia sedikit aneh, bukan?" Tanya Mina.


"Dia bahkan kesal, padahal kami hanya membicarakan si lemah itu." Sambung kakak kedua Hayaka, Ito.


"Tidak usah membicarakan tentang wanita itu." Tegur ibu.


Yui masih ketakutan mengingat tatapan Ye-jin hampir membunuhnya.


"ku pikir aku akan tenggelam dengan kuburan ku sendiri." Gumamnya.


Sementara Shin merasa tak asing melihat tatapan Ye-jin, mulai dari bahasa tubuhnya sangat terlihat bahwa Ye-jin agak tertekan.


Itu mencurigakan, mengapa dia agak tertekan pada omongan ibunya ? Padahal ibunya bukanlah ibu kandung Ye-jin.


Mata Shin membulat sadar, "tunggu...? Apa itu kak Saori..?" Pikirnya.


"Apa lagi yang kau bicarakan, ayo pergi." Ajak Ito.


"Ohh..okeyyyyy"

__ADS_1


******


__ADS_2