
"Malam itu...hidup ku hampir mati oleh pria jahat itu."
.
.
.
Sehari setelah kejadian malam itu, Ye-jin dalam keadaan terluka itu telah siuman. Melihat di sekelilingnya, tampaknya sudah kembali ke kamarnya. Namun, kedua pahanya terasa berat untuk menggerakkan.
Dia ingat kejadian itu, dimana dua bilah pisau itu menancap dalam ke pahanya. Sangatlah menyakitkan, sampai dibuatnya hampir tewas.
"Syukurlah, nona Hong sudah sadar."
Sosok wanita muda berkulit indah yang selalu merawat Ye-jin dalam keadaan apapun itu, dia sangat lega menyaksikan sang tuan putri telah siuman begitu cepat. Ini menakjubkan,
"Bagaimana keadaan ku, bi?"
"Hidupmu hampir diujung kematian, ini sungguh ajaib nona Hong siuman setelah seharian."
Mata Ye-jin menyipit sayu ketika ingatannya kembali di malam itu, Yong-suk yang tiba-tiba marah hilang kendali merusak semuanya. Kemarahannya yang bisa diartikan sangatlah mengerikan, semua itu karena Ye-jin terluka.
Ye-jin juga bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana kondisi Yong-suk?"
"Sedang dalam pemulihan."
"Pemulihan, apa maksud bibi?"
Pertanyaan Ye-jin sungguh penasaran dan khawatir, dia takut terjadi sesuatu pada suaminya. Tapi itu aneh, di sebut pemulihan diri.
"Jangan khawatir, tuan Ju hanya kelelahan jadi dia butuh istirahat."
Untungnya bibi dapat menenangkan suasana hati Ye-jin.
Tapi, ini sudah dua hari berlalu. Ye-jin menunggu suaminya sadar. Yong-suk masih terbaring di kasurnya dalam keadaan tak sadarkan diri,
Mata Ye-jin jadi lebih sayu melihat wajah putih pucat suaminya masih tidak gerak juga. Dia menghela nafas kecilnya,
"Apa yang terjadi denganmu,...Yong-suk?"
Meski dirinya belum seberapa pulih, dia tetap hadir dan bekerja kembali ke perusahaan Cell. Bibi berusaha keras menyarankan Ye-jin tidak memaksakan diri.
"Aku baik-baik saja bi."
Namun, Ye-jin mulai bertingkah keras kepala. Dia tak bisa tinggal diam perusahaan itu sedang di ambang masalah.
Sebelumnya, dia sempat terkejut menerima panggilan sekretaris Mijoo yang memberi kabar bahwa akhir-akhir ini beberapa orang ingin bertemu Yong-suk untuk membincangkan kesepakatan bisnis yang dilakukannya.
Bibi masih bersikeras menyarankan Ye-jin tetap istirahat.
__ADS_1
"Tapi-"
"Tolong katakan, dimana dokumen penting milik Yong-suk?"
"Semua dokumen penting ada di laci meja ruang perpus."
Ye-jin memeriksa beberapa dokumen penting di perpus, hampir semua lembaran itu penting. Sepertinya dia akan sibuk menyelesaikan pertemuannya baik itu dokumen bisnisnya.
"Nona Hong, tolong ambil obat ini."
Sebelum berangkat, bibi memberikan obat yang merupakan pereda sakit.
"Luka nona Hong masih dalan tahap pemulihan, jika terasa sakit maka..., hanya obat itu dapat meredakanya."
"Yahh meskipun begitu, itu tidak bertahan lama."
"Dan pastikan nona Hong jangan paksa kan diri."
Bibi yang sangat mengkhawatirkannya itu dibuat Ye-jin salut bahagia. Karena bibi seperti sosok ibu yang mencemaskan anaknya, bibir Ye-jin tersenyum kecil itu menerima obatnya.
"Akan ku lakukan, aku berangkat ya."
.
.
.
Tapi kondisi sehat Ye-jin dibuatnya khawatir, luka Ye-jin belum sepenuhnya sembuh. Bahkan bisa dilihat langkahnya yang kaku berjalan.
"Nona yakin semua baik-baik saja?"
"Selama kau tidak mencemaskan ku."
"Aku akan menghubungimu jika pekerjaan ku sudah selesai."
Melihat kehadiran Ye-jin kembali ke kantor, orang-orang selalu meliriknya karena dianggap wanita murahan yang merebut kekayaan pemilik perusahaan tersebut.
Namun, tatapan dingin Ye-jin itu hampir dibuat semuanya menghilang. Tatapan dingin Ye-jin tidak seperti biasanya, itu tatapan memancarkan aura kesedihannya. Tapi itu tidak mencolok.
Dia tetap menyembunyikan dengan wajah palsunya.
"Selamat pagi semuanya, maaf akhir-akhir ini aku dan suami ku tidak hadir."
"Jika ada yang ingin menanyakan keadaan suami ku, saat ini dia tidak enak badan. Untuk sementara, aku akan mengurusnya."
Seberapa buruk apapun suasana hati mereka terhadapnya. Ye-jin tetap bersikap sopan dan tidak mementingkannya. Jika sesuatu terjadi diantara mereka yang mengkhianatinya, dia tak segan memecatnya.
Terutama perkataan hari pertama itu masih dipegang olehnya.
..."Jika aku menangkapnya, aku tak segan memenggal kepalanya lalu membawanya kehadapan rumahnya."...
Itu baru peringatan awal mula.
__ADS_1
.
.
.
Di ruang kantor, Mijoo hadir memberikan beberapa kertas yang akhir-akhir ini yang diterima.
Semua berisi pertemuan langsung untuk membicarakan bisnis yang di sepakati oleh perwakilan asosiasi.
"Ahh, aku ingat...presentasi bisnis yang ku lakukan di rapat asosiasi itu diterima oleh ketua Asosiasi, itulah sebabnya dia ingin menemui langsung untuk membicarakannya."
"Apa dia akan kemari lagi?"
"Dia meminta agar nona datang menemuinya langsung di kantor."
"Kalau begitu, tolong temani aku ke sana."
"Eh- ahh, ba-baik."
Mijoo terkejut, ketika dia diminta temani Ye-jin menemui tuan Jwi. Bisa dibilang ini pertama kali baginya melakukan tugasnya.
Bibir Ye-jin tersenyum tipis ketika matanya ke arah Mijoo sejenak.
"Aku menyadari perasaan rasa cinta itu, tapi aku tidak bisa tinggal diam membiarkannya."
Dia sadar perasaan Mijoo terhadap suaminya itu masih ada. Itu artinya dia tak bisa tinggal diam bukan?
Mijoo jadi gugup menyadari tatapan Ye-jin ke arahnya.
"Kenapa diam di situ, ayo berangkat."
Herannya, melihat Ye-jin bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kaku ke arah pintu. Mijoo tampak penasaran,
"Apa nona Hong baik-baik saja?"
"Kau mencemaskan ku?"
"Ahh-bu-bukan maksud ku-" Mijoo jadi blak-blakan ketika Ye-jin menggodanya.
Bibir Ye-jin perlahan melebar tipis, dengan wajah damainya.
"Belakangan ini ada banyak hal terjadi, kedua kaki ku dibuat lelah...tapi aku baik-baik saja."
Entah kenapa, bibir kecil Mijoo itu diam-diam tersenyum jahat yang bermaksud punya kesempatan emas menjatuhkan Ye-jin.
Bukankah ini ide bagus menjatuhkan ratu es di saat dalam keadaan terpuruk ?
.
.
.
__ADS_1