ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 20


__ADS_3

.


.


.


"kau adalah puncak trauma ku!!"


.


.



Di bawah langit yang cerah, musim semi memancarkan aura keindahan kota Cell. Wanita berusia 22 tahun itu berjalan sendirian di pinggir jalan, mobil berlalu-lalang berisik di sampingnya.


Tapi dia tetap kalem merapatkan bibirnya tanpa bersuara, hanya matanya masih sayu nan suram.


Dia tidak tau harus kemana.


"Aku sangat takut pulang." Gumam Ye-jin.


Bukan karena dia takut pulang, takut bertemu Yong-suk yang merupakan puncak traumanya.


Apa yang harus dia lakukan?


Dia tidak punya siapa-siapa untuk bersandar bahu.


Sebuah mobil muncul, tampak familiar itu menemukannya. Ye-jin juga tau, siapa yang ingin menemuinya.


Dia berusaha menghindar kontak fisik bertemu dengan orang itu.


Orang itu cepat keluar dari pintu mobilnya, lalu berlari mencegah Ye-jin pergi.


"Singkirkan tanganmu!" Dingin Ye-jin sangat sensitif ketika orang itu menarik tangannya.


Dia melepaskan tangannya dan wajahnya masih mencemaskan Ye-jin.


"Aku tidak punya waktu bicara denganmu." Ucap Ye-jin menatap Yong-suk.


(Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya.) bujuk Yong-suk.


"Hei, kau tidak dengar...aku sudah bilang tidak punya waktu bicara denganmu." Tegur Ye-jin.


Saat ini dia sangat tidak ingin berhadapan dengan pria itu.


(Kenapa?)


Pertanyaan Yong-suk membuat Ye-jin kesal, dia tak tahan.


"Kau masih menanyakan kenapa, hah?!"


"Apa kau tidak bisa menebaknya bagaimana perasaan ku saat itu?!"


Amarah Ye-jin meledak, dia sudah menyimpan rasa sakit begitu lama hingga kemarahannya meluap di luar batas.


Kedua tangannya sudah gatal ingin mencekik pria itu.


Dia menarik nafas tahan dirinya, Yong-suk tampak sudah siap menerima pukulan atau tamparan oleh istrinya.


Dia tidak peduli seberapa sakit yang ia dapatkannya, yang terpenting Ye-jin dapat melepaskan kemarahannya padanya, tidak dengan orang lain.


Karena itu dapat menimbulkan masalah besar.


(Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat itu.)


Kedua tangan Ye-jin menarik kasar kemeja Yong-suk, kemudian mengatakan..


"Tapi kau adalah puncak trauma ku!" Teriaknya benar-benar marah.

__ADS_1


Yong-suk terdiam sampai matanya berkaca-kaca mendengar bahwa dirinya merupakan trauma bagi Ye-jin.


"Sejak insiden itu, kau menghancurkan ku sampai keadaan ku terpuruk di penjara selama dua tahun!" Sambil mendorong Yong-suk jatuh ke tanah.


Sekali lagi, Ye-jin menatap tajam ke arah Yong-suk.


"Aku tidak ingin wajah mu muncul dihadapan ku lagi atau..."


"...lehermu akan ku potong!.." Ancamannya benar-benar iblis.


Melihat Ye-jin pergi, Yong-suk tetap mencemaskan Ye-jin.


Ini bukanlah sifat Ye-jin sebenarnya, dia terlihat seperti naga merah yang meluapkan api kemarahannya.


Biasanya Ye-jin sangat lemah lembut nan ramah.


Tapi kali ini dia berbeda.


"Y-ye..j-jin..?" Sedih Yong-suk.


Selama perjalanan, diam-diam mobil Yong-suk menemani Ye-jin dari kejauhan. Agar memastikan wanita itu baik-baik saja sampai tiba di rumah.


Untungnya Ye-jin tidak menyadarinya karena tenggelam oleh kesedihannya.


Saat Ye-jin kembali ke rumah, Ma-roo hadir menyambut kehadirannya.


"Selamat kemba-"


Namun, Ye-jin hanya melewatinya dengan langkah yang dingin masuk ke kamarnya.


Ada apa dengannya? Ma-roo heran. "heh?"


Dan setelah itu mobil Yong-suk juga kembali, Ma-roo langsung menghampirinya.


"Tuan Ju, apa yang terjadi ?"


Bahkan Yong-suk tidak memberi jawaban pepatah-kata, lalu masuk ke kamarnya juga.


Kebetulan dia menemukan bibi ning yang lagi beres-beres.


"Bi, apa kau tau ada apa dengan mereka ?" Tanya Ma-roo.


"Apa tuan Ju tidak memberitahumu ya?"


"Soal apa?"


"ini sudah dua hari mereka tidak saling berbicara."


"Apa?"


Bibi menceritakan apa yang terjadi pada tuan Ju dan nona Hong. Selama ini Ye-jin tidak menyadari bahwa Yong-suk adalah korban insiden dua tahun lalu.


Tetapi, bibi tidak tau alasan Ye-jin yang membuatnya benci dengan Yong-suk.


"Bibi harus melakukan sesuatu." Ucap Ma-roo.


"Heh? What? Me?" Bibi terkejut itu mendadak sekali.


"Itu karena bibi adalah perempuan, akan sulit jika lelaki seperti ku memahami perasaan sesama wanita."


Bibi mengangguk paham, "oh...gitu ya, bilang yang jelas dongg."


"Hehhh...padahal ini udah jelas dan akurat bi."


"Heheheheh...kalau begitu, bisakah kita membiarkan nona Hong menenangkan diri semalaman?"


"Aku tidak keberatan kok."


Ye-jin berlari masuk ke kamar lalu menguncinya, tapi setelah itu dia jatuh terpuruk dan menangis.

__ADS_1


Dia menutup mulutnya agar seseorang tidak mendengarnya.


"Maafkan aku..." Bahkan menyesali atas sikapnya terhadap Yong-suk.


Dia tidak bermaksud membencinya hanya saja bertemu Yong-suk benar-benar mengingatkan mimpi buruknya.


Hampir seharian Ye-jin mengurung diri ke kamar. Dia sama sekali tidak makan, setiap bibi mengantar sarapan baik itu makan siang dan makan malam, Ye-jin tidak keluar sedikitpun atau membuka pintunya.


Bibi khawatir, walaupun dia telah membiarkan Ye-jin menenangkan diri semalaman. Tetap saja, Ye-jin membiarkan dirinya tersiksa.


"Kau tidak bisa seperti ini terus nona Hong." Sedihnya.


Yong-suk muncul melihat kesedihan bibi, dia menghampirinya.


(Beri dia waktu, bi.)


"Bibi mengerti, tapi bibi khawatir."


(Aku juga.)


Keduanya mencemaskan Ye-jin.


Ye-jin hanya duduk bersandar menatap langit malam. Kesedihan masih terukir di wajahnya.


"Maaf, biarkan aku sedikit tenang." Ucapnya.


*******


.


.


.


.


"jangan ganggu aku." sedih Ye-jin.


aku mengerti perasaanmu nona Hong, tetap yang tegar yahhh.


tolong dukunganmu untuk karya ini, jika tidak maka nona hong akan menangis sepanjang hari.


"apa? kau bercanda ya?" heran Ma-roo.


"mata nona Hong pasti bengkak, iya kan?"


"mirip mata kodok, kan?" sambung Meri.


"apa katamu?!" tegur Ye-jin.


"eittsssss...jangan sering emosian ntar kulitnya keriput loo." sahut Mika.


ye-jin sudah tak pedulikan mereka yang tiada hentinya mengejek.


"oi kalian?" tegur Yong-suk.


semuanya terdiam mendengar suara dingin Yong-suk.


"kalian ingin cari mati?"


mereka terdiam batu. "maafkan kami, tuan."


"bukan kalian." ucap Yong-suk.


"heh?"


"tapi para pembaca." sambung Yong-suk.


"jika kalian tak ingin berurusan dengan ku, perbanyak dukunganmu mengerti?" dinginnya sangat menyeramkan.

__ADS_1


tapi bagi ku, dia seperti pangeran. 😍😍😍


"berhenti berangan-angan bego!" tegur Ye-jin.


__ADS_2