ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
EPISODE 16


__ADS_3

"Y-yong-suk...makhluk apa kau sebenarnya...?" Tanya Ye-jin.


"Kau seperti malaikat?" Sambungnya.



Mengingat perkataan Ye-jin itu sungguh membuat Yong-suk tersipu malu.


Walaupun dia sempat heran apa yang dibicarakan wanita itu sampai dibuatnya malu mengingatnya.


Yong-suk masih menatap istrinya yang terlelap oleh tidurnya.


Sejak meninggalkan kejadian pagi tadi, Yong-suk membawa istrinya pulang dan menyerahkan urusan mafia itu pada Ma-roo.


Setiba di rumah, bibi ning sangat panik menyambut Yong-suk kembali dengan menggendong Ye-jin yang pingsan.


"Tuan Ju, syukurlah kau kembali...dan nona Hong, sudah ku duga ini yang terjadi."


Yong-suk heran, apa yang dimaksud bibi?


Akhirnya Ye-jin dapat istirahat dikamar, walaupun belum sadar, Yong-suk sudah ada disampingnya.


(Bagaimana kondisinya bi ?)


Bibi Ning tidaklah hanya seorang pembantu atau pelayan, dia juga merupakan dokter yang ditugaskan khusus merawat Yong-suk.


Bibi memeriksa detak jantung Ye-jin dengan stetoskop miliknya, kemudian memastikan denyut nadinya.


"Ini aneh tuan Ju."


(Apa maksud bibi?)


"Saat ini kondisinya sudah baik-baik saja."


Yong-suk heran, padahal suhu Ye-jin sebelumnya panas dan kali ini dia sudah membaik.


Apa yang terjadi?


Tidak ada yang tau keajaiban apa yang membuat Ye-jin dan Yong-suk tak percaya akan hal ini.


"Padahal tadi itu...aku sangat yakin nona Hong minum obat yang salah."


(Obat yang salah?)


Yong-suk penasaran apa yang terjadi sebenarnya, bibi menjelaskannya.


Bahwa obat yang diminum Ye-jin adalah obat gangguan otak yang dimiliki Yong-suk.


Dia baru mengingatnya, semalam dia berniat menyakiti dirinya lagi dengan obat itu. Namun niatnya gagal dan tertidur menjaga istrinya.


Dan lagi, Yong-suk menaruhnya dimeja.


Itu artinya Ye-jin mengira itu obat pereda demam.


Ini kecerobohan Yong-suk.


"Tapi, jika seseorang meminumnya maka kondisinya akan kritis. Tapi herannya, nona Hong baik-baik saja."


Bibi masih heran, apa yang membuat Ye-jin baik-baik saja. Padahal obat milik Yong-suk sangat kuat menyakiti otak.


Dia penasaran. "Apa terjadi sesuatu?"


Yong-suk juga menceritakan, kalau dia sempat periksa suhu Ye-jin yang tidak baik. Yang lebih heran lagi, Ye-jin bertingkah aneh nan dingin.


"Itu sifat alaminya dari kecil." Ucap bibi.


Mata Yong-suk membulat tak percaya.


"Saat mengalami demam, dia melupakan apa yang terjadi kemarin sampai dia benar-benar sembuh, memori itu akan kembali." Sambung bibi.


Para mafia akhirnya kalah telak, Sewon pingsan tak berdaya dengan kondisi wajahnya ditenggelamkan ke tanah, anak buahnya segera membawanya pergi.


Ma-roo menghela nafas lega semua itu berakhir, tapi mengingat kondisi Ye-jin diinjak oleh mereka itu membuatnya khawatir pada perasaan Yong-suk.


Yong-suk benar-benar marah saat itu, sampai membuat Ma-roo hampir tak berkutip melihat tatapan iblis yang mengerikan.


Mika dan Meri keluar menghampiri Ma-roo.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Mika cemas.


"Aku baik-baik saja, dan ku rasa mereka akan kembali." Jawab Ma-roo.

__ADS_1


"Tapi sampai kapan mereka terus kemari, padahal ini bukan haknya mengusir kita dari tempat ini." Ucap Meri.


"Lalu bagaimana kondisi nona Hong? Aku sangat terkejut melihat tuan Ju sudah bisa berjalan." Sambung Meri teringat nona Hong.


"Kau benar, tadi itu sungguh mengejutkan." Kata Mika penasaran.


Kedua gadis itu masih belum puas menyaksikan kejadian tadi hingga dibuat penasaran apa yang membuat Yong-suk semarah itu.


Apa karena nona Hong Ye-jin?


Ma-roo hanya merapatkan bibirnya menatap mereka tampak aneh, kemudian dia menyerahkan dokumen.


"Apa ini?" Tanya Mika.


"Ini kontrak resmi restoran ini, jadi serahkan saja pada kekuasaan tuan Ju."


"Apa itu artinya restoran ini baik-baik saja?"


"Belum tentu, karena di wilayah ini mungkin masih ada toko yang diincar mereka."


Ma-roo juga penasaran, siapa yang memberi perintah mafia untuk melakukan kekerasan di setiap toko.


"Kau benar, bukan hanya kami saja yang mengalaminya. Bisa dibilang satu wilayah." Sahut Meri.


"Kalau begitu, bisakah kalian membantu ku untuk memberi informasi toko yang ada disini?"


Dua peri itu sangat senang dapat membantu pria setampan Ma-roo.


"Serahkan saja pada kami, pak tampan!" Serentak kakak-beradik itu.


Ma-roo merasa itu menjijikan dengan reaksi datarnya.


Ye-jin yang tak sadarkan diri itu akhirnya telah siuman, kepalanya bergerak ke kanan-kiri, kemudian matanya terbuka perlahan.


Bola matanya memutar lihat sana-sini, dia telah kembali ke kamarnya.


"Aku...kembali?" Bingungnya.


Dia melihat seseorang duduk di sampingnya, orang itu tertidur sambil menggenggam tangannya. Sepertinya dia sudah dari tadi menunggu Ye-jin sadar.


"Y-yong-suk...?"


Sekali lagi, dia mengingat kejadian tadi melihat kemarahan Yong-suk sangat mengerikan, dan ajaibnya dia sudah mampu berjalan.


Biasanya orang lumpuh yang belajar jalan itu pastinya gemetar.


Tapi kali ini, Yong-suk tidak gemetar sama sekali seolah kakinya sudah terlatih.


Ye-jin berpikir bahwa Yong-suk telah membohonginya.


Dan hal yang membuatnya tak percaya adalah ketika tubuhnya bersentuhan dengan Yong-suk, rasa sakit yang dialaminya mereda baik itu suhunya.


"Siapa pria ini sebenarnya?" Batin Ye-jin, dia masih menatap tangannya digenggam suaminya.


Ye-jin berniat mengusap rambut pria itu, namun niatnya terkurung kembali melihat Yong-suk tampaknya sudah bangun.


"Sudah berapa lama aku tertidur ?" Tanya Ye-jin.


Yong-suk mengambil buku dan pulpennya, tangan Ye-jin mencegahnya.


"Aku ingin mendengar jawaban itu dari suaramu." Ucapnya.


Wajah Yong-suk bingung itu menatap istrinya, dia keberatan karena suara masih setengah pulih dan tak yakin apa dia dapat mengeluarkan suaranya.


Tapi dia akan berusaha.


"A-aa-auu...a-ayaa..." Dia sudah berusaha semampunya.


Hingga lehernya sakit karena sedikit memaksakan suaranya.


Ye-jin segera meminta maaf.


"Maaf, aku sedikit memaksa."


Yong-suk meraih buku dan pulpennya kembali, lalu menulisnya.


(Tidak apa-apa, kau hanya tertidur begitu lama dan ini sudah malam.)


Mata Ye-jin kaget membulat, "apa?"


(Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasakan sakit?)

__ADS_1


"Ahh, aku baik-baik saja."


Kemudian suasananya jadi hening lagi.


(• • • • • •)


Keduanya bingung harus membahas topik apa selain kejadian tadi, tidak hanya itu mereka sulit menemukan topik yang mau dibahas.


Yong-suk juga tidak tega memberitahu Ye-jin sakit akibat salah minum obat.


Sementara Ye-jin tidak begitu berani mengatakan reaksinya saat melihat suaminya dapat berjalan lagi


(Maafkan aku.) tiba-tiba Yong-suk menunjukkan jawabannya.


Ye-jin heran, mengapa pria ini tiba-tiba meminta maaf. Padahal dia tidak membuat kesalahan.


(Sebenarnya kakiku sudah sembuh.) samhung Yong-suk.


Ternyata Yong-suk meminta maaf karena tidak memberitahunya kalau dirinya sudah bisa berjalan lagi.


Dia khawatir, istrinya akan kecewa dan memarahinya.


Bibir Ye-jin tersenyum menatap pria itu dihadapannya, dia seperti sedang menonton karakter kucing yang menyesali perbuatannya. Itu dibuatnya hampir terlepas tawa.


Salah satu tangannya mengusap rambut suaminya lalu berkata,


"Simpan saja minta maafnya, saat ini akulah yang harus mengatakannya karena telah mengacaukan rencanamu."


Yong-suk menggeleng kepalanya dan bersikeras itu bukan salah Ye-jin.


(Semua berjalan dengan baik.)


Ye-jin tersenyum lega, "syukurlah...kalau begitu terima kasih sudah menolong ku."


Yong-suk membalasnya dengan menunduk sopan.


(Bagaimana bisa kondisimu sudah membaik sangat cepaf?" Tanya Yong-suk.


Ye-jin bingung harus menjawab apa, karena dia juga tidak mempercayai apa yang dialaminya dengan suaminya.


Yong-suk penasaran.


"Uhm...kau mungkin tidak mempercayainya." Ye-jin mulai berpikir dan mencoba menemukan kata yang tepat dijelaskan.


"Saat tubuh ku bersentuhan dengan mu, rasa sakit yang aku alami itu membaik termasuk...., suhu ku dan ketegangan ku." Sambung Ye-jin.


"Sebenarnya aku...juga tidak mempercayainya, tapi aku memastikannya lagi bahwa itu benar."


Tiada jawaban dari Yong-suk baik ekspresi yang tak beremosi.


"Makhluk apa kau sebenarnya?" Tanya Ye-jin lagi.


Yong-yuk menulis kemudian menatapnya bahwa dia hanyalah manusia biasa.


(Tidak ada yang spesial dari ku.)


Ye-jin masih tidak mempercayainya, bagaimana bisa pria setinggi 185cm itu dapat menghangatinya baik itu menyembuhkannya.


"Kau seperti hotpack ku." Kata Ye-jin.


(Aku bukan barang pemanas mu.)


Keduanya mulai debat kecil dan bersikeras tiada yang spesial diantara mereka, Ye-jin terus menanyakan hal yang sama dan Yong-suk juga menghindar dengan jawaban yang sama.


(Aku bukanlah spesial.)


Sampai perut keduanya memanggil hingga suasana tak bergeming.


(• • • • •)


Mereka merasa ini suasana memalukan, di keadaan seperti ini sangat tidak cocok perut berbunyi saat berdebat. Manalagi ditinggal berdua di kamar.


Astaga, memalukan!


(Apa sebaiknya kita makan malam?) saran Yong-suk.


Wajah Ye-jin masih memerah itu menyetujui saran suaminya.


"Setuju."


Keduanya menghabiskan waktu yang indah dengan makan malam.

__ADS_1


*********


__ADS_2