
.
.
.
.
Hari yang telah dinantikan itu telah tiba, namun sepagi itu Ye-jin sudah tampak gugup menyiapkan keberaniannya akan menghadiri pesta malam "World Crown" Bersama sang suaminya.
Dia bahkan kesulitan tidur memikirkannya.
Apa nona Hong segugup itu?
"Itu karena ini pertama kalinya dalam seumur hidup ku."
Ternyata nona Hong tidak pernah merasakan hidup kemewahan apalagi menghadiri beberapa acara. Yah, walaupun dia hidup di keluarga Klan Ayaka. Dia hanya dijadikan bawahan di klan itu.
(Kau baik-baik saja?) sebuah tulisan kertas muncul dihadapan wajah Ye-jin.
Ye-jin sedikit kaget, dia menoleh lihat sosok Yong-suk berdiri dibelakang tempat duduknya.
"Aku kesulitan tidur semalaman." Keluh Ye-jin.
Yong-suk mendekat dan duduk di samping istrinya.
(Apa karena kau memikirkan sesuatu?)
"U-uhm...mungkin karena aku terlalu memikirkan pesta malam nanti, ini pertama kalinya..." Jawab Ye-jin.
(Bagaimana kalau kau memesan gaun untukmu?) saran Yong-suk.
Kening Ye-jin sedikit mengerut heran, "hm?"
Yong-suk menunjukkan ponsel nya dan menyarankan agar memesan gaun lewat ponsel.
"Lewat ponsel? Gimana caranya?"
(Shopee)
Di tambah lagi, Ye-jin baru tau kalau tidak perlu lagi ke butik atau mall membeli gaun. Cukup dengan aplikasi lalu bisa mencari gaun yang diinginkannya kemudian memesannya.
(Dengan ini, kau bebas memesannya.)
Ye-jin benar-benar kampungan, dia tak pernah melihat hal sekeren itu di ponselnya.
Yong-suk juga membantu Ye-jin mencari gaun yang cocok untuknya.
"Tunggu? Kau baru saja membeli ponsel baru?" Ye-jin baru sadar.
Yong-suk membenarkannya, (aku juga sudah menyimpan nomormu di tempat ku.)
"Ooh, gitu ya."
(Apa kau sudah menemukan gaunnya?)
Ye-jin dengan semangat telah menemukan gaun yang diinginkannya. Tinggal menunggu pesan itu datang.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Ye-jin.
(Aku sudah memesan terlebih dahulu.) tulis Yong-suk.
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana dengan ini....?"
.
.
.
.
Di toko butik HELLA, Mi-joo tampak mencari gaun yang cocok untuknya. Dia sangat pemilih, tak ingin mengunjungi toko murah karena itu merusak reputasi kecantikannya. Jadi dia akan mencari butik termahal termasuk harga gaunnya juga miliaran.
"Aku tidak akan kalah." Tekadnya.
Saat mencari beberapa gaun, dia bertemu Mina dan Yui adalah keluarga klan Ayaka yang kebetulan mereka juga mencari gaun untuk pesta malam.
"Oh, kak Mijoo." Sapa Mina.
"Hai, Yui, Mina...kalian di sini juga ya?"
"Klan terkuat tak bisa menolak pesta besar, apa kau ikut hadir?" Tanya Yui.
"Itu mustahil bagi orang seperti ku hadir." Jawab Mijoo.
"Hehhh...benarkah? Padahal kau sepupunya." Tutur Mina.
Mijoo tersenyum pahit dan berkata, "Yahhh, entahlah.. Apa aku hadir atau tidak, intinya aku hanya menikmatinya saja."
"Lalu untuk apa kau kemari?" Tanya Yui santai.
"Aku ingin menghadiahkan gaun untuk ketua ku."
Ketiganya tampak akrab satu sama lain, sampai lupa waktu. Tiba-tiba Mijoo menanyakan kabar Saori.
"Itu benar sih, akhir-akhir ini tidak ada kabarnya." Jawab Yui.
"Dia seperti hilang tanpa kabar." Sambung Mina.
Mijoo juga sedikit lega mendengar kabar Saori sudah tiada lagi yang mengganggu kehidupannya.
Tapi yang jadi masalah, nona Hong adalah puncak masalah hatinya.
Kemudian, dia menemukan gaun indah nan mewah di pojok kanan. Saat dia ingin meraihnya, tangan seseorang duluan mengambil gaun itu.
"Tunggu, aku duluan yang mengambilnya."
"Apa katamu? Ini sudah ditangan ku loo." Itu suara Ying-xi.
Kedua wanita itu terkejut bertemu lagi. Bisa dibilang agak kesal karena gaun itu satu-satunya di tempat itu dan...
Malah jadi rebutan oleh dua wanita itu.
"Hei, singkirkan tangan mu itu." Tegur Mijoo.
"Ini sudah di tangan ku, itu artinya sudah jadi milikku."
"Tapi aku duluan meraihnya."
"What? Kau duluan..? Kau tidak liat aku di sini dari tadi..." Protes Ying-xi.
"Kalau begitu bagaimana dengan gunting kertas batu?" Saran Mijoo.
__ADS_1
"Itu kekanakan." Dingin Ying-xi tidak tertarik.
Namun, Mijoo tidak menyerah, "Jika kau memenangkannya, gaun itu akan jadi milikmu."
"Heeeh...ide bagus juga tuhhh, baiklah." Pada akhirnya Ying-xi dibuat tertarik.
Keduanya sepakat bermain batu gunting kertas. Mereka siap lalu masing-masing mengeluarkan jawaban.
Ying-xi mengeluarkan batu.
Sementara itu Mijoo mengeluarkan kertas. Setelah berdebat, mijoo tak menyangka ini akan jadi kemenangannya.
"Yeeessss!" Soraknya bahagia.
Dia langsung memenangkannya hingga dibuat Ying-xi tak berkutip.
"Ini kemenangan ku, jadi..." Mijoo sambil mengambil gaun itu di tangan Ying-xi.
"..ini milikku." Sambungnya.
"Sekali serangan?" Heran Ying-xi.
Dia ingin protes, jari telunjuk Mijoo menutup rapat bibir Ying-xi.
"Kau tidak liat ini kekalahanmu, bukankah kau sudah sepakat ya..?" Mijoo jadi lebih berani.
"Harusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak, kau benar-benar serakah ya." Tersenyum menang.
Seorang pelayan wanita muncul menghampiri mereka.
"Maaf, bisakah anda menyerahkan gaun itu?"
"Kenapa? Aku ingin membelinya." Jawab Mijoo heran.
"Maaf sekali lagi, seseorang sudah memesan gaun ini terlebih dahulu."
Mijoo terkejut, "whattt?!"
Pelayan itu mengambil gaun itu dari Mijoo, mijoo juga tak bisa berkutip. Melihat hal tersebut Ying-xi tertawa mengejek.
"Astaga ini memalukan sekali." Kata Ying-xi mengejek.
"Kau benar-benar terlalu percaya diri yahh." Akhirnya dia dapat membalas ucapannya kembali pada Mijoo yang mengejeknya tadi.
Ying-xi pergi mencari gaun lain, Mijoo sangat kesal. Saking kesalnya, dia menghampiri pelayan tadi.
"Kalau bisa tau...siapa yang pesan gaun tadi?"
Dengan polos, pelayan itu menjawab. "Ini pesenan dari nona Hong Ye-jin."
"Hong ye-jin?! Dia memesan gaun ini juga?" Kaget Mijoo.
Tiba-tiba dia punya ide menatap gaun itu dengan senyum jahatnya.
Kira-kira apa yang di rencanakan oleh sekretaris Mijoo?
.
.
.
__ADS_1
.
*****$