ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 30


__ADS_3

Ketika Ye-jin sudah siuman, dia sedikit lega ketakutannya menghilang. Apalagi Yong-suk duduk di sampingnya itu menggenggam tangannya,


Tapi tunggu dulu.


"Bukankah dia seperti kucing imut." Puji Ye-jin.


Bibirnya tersenyum menatap suaminya tertidur seperti kucing.


Ye-jin merenung ingatannya yang tampaknya mulai menghantuinya.


"Aku tau itu kejam untukku, tapi aku tidak bisa melarikan diri dari ketakutan ku." Gumamnya.


Kemudian mengingat Yeon-dul yang tampaknya tidak mengenalinya.


"Dia sungguh tidak mengenali ku."


"Tapi...bukankah itu berita bagus?" Pikirnya.


Mendengar Ye-jin bicara sendiri, Yong-suk terbangun melihat istrinya sudah sadar. Dia juga lega Ye-jin sepertinya sudah membaik.


"Sepertinya kau kelelahan menjaga ku, kau perlu istirahat." Kata Ye-jin.


Yong-suk menulis,ย  (aku baik-baik saja.)


Ye-jin juga kembali bersalah karena telah mencemaskan suaminya. Dia menunduk kepalanya dengan maafnya.


"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku sering mencemaskanmu."


(Mungkin itu benar, tapi lain kali jika kau punya masalah berbagilah dengan ku, aku akan mendengarkanmu.)


Tangan suaminya menyentuh lembut pipi Ye-jin, wajahnya memerah.


"Uhm..a-anu...aku belum bilang padamu kalau..."


Ye-jin menceritakan kalau dia mengenal Ying-xi, Mika dan Meri, juga Yona mi-joo.


"Mereka adalah...teman satu SMA ku."


"...tidak hanya itu, saat aku SMA...aku merupakan pusat pembulian."


(Apa karena hal itu kau putus sekolah?) tanya Yong-suk.


Ye-jin membenarkannya.


(Itu menyakitkan bukan?)

__ADS_1


Ye-jin membenarkannya dengan kesedihannya, karena kehidupan sekolahnya sangatlah perih sekali.


(Tapi kau wanita yang luar biasa karena telah memikul beban itu sampai saat itu...kau bertemu dengan ku.)


Setelah Ye-jin hampir dibuat ambruk menghadapi masalah hidupnya yang perih, dia bertemu dengan Yong-suk di malam itu.


Pertemuan yang ditakdirkan itu membuat Ye-jin akhirnya tidak menyesal dengan keputusan itu.


Bertemu dengan Yong-suk, kehidupannya telah berubah. Akhir-akhir ini dia tidak pernah merasakan hidup dalam kepahitan, hanya saja...


Masalalunya sering menghantuinya hingga membangkitkan trauma kesedihannya.


(Kau sudah bekerja keras.) tulis Yong-suk lagi.


Ye-jin kagum dan masih menangis bahagia,


"Terima kasih..., terima kasih..."


Yong-suk tersenyum lega sambil mengusap airmata istrinya.


Dan lagi, ketika mata mereka bertemu. Mereka sempat berpikir akan bersentuhan bibir.


Perlahan wajah keduanya mendekat, semakin mendekat.....


Bibir mereka hampir dekat bersentuh.


Timingnya kagak pas,



Bibi datang menerobos pintu kamar Ye-jin dengan membawa sup.


"Nona Hong, aku membuat sup un-...astaga!!"


Bibi terkejut menyaksikan kemesraan kedua orang itu.


Terutama Ye-jin terkejut itu langsung mendorong suaminya.


Mereka terkejut kehadiran bibi membuat suasana ini jadi canggung, Yong-suk cepat-cepat pergi tanpa pepatah kata lagi.


Karena...


"Ini memalukan!" Batin Yong-suk sangat menyesali perbuatannya.


Wajahnya masih memerah, tapi dia juga terkejut pada detak jantungnya masih cepat.

__ADS_1


Dup dup dup dup dup...


"Perasaan apa ini..."


Matanya melotot kaget itu cepat menutup mulutnya, dia tak yakin apa itu jawaban perasaannya.


"Apa aku j-jatuh cinta dengan nona Hong?" Kata hatinya.


Sementara Ye-jin jadi badmood menatap bibi benar-benar mengganggu momennya.


"Bibi yaaaa."


"Hehehehehehe...y-yahhh aku tidak bermaksud sihh." Balas bibi tersenyum pahit.


Kemudian dia menyajikan sup ayam untuk Ye-jin. Lalu Ye-jin perlahan mencicipinya.


"Bagaimana?" Tanya bibi menunggu jawaban majikannya.


"Ini seperti masakan sosok ibu, enak."


"Ahhh...syukurlah, terima kasih pujiannya nona Hong."


Tiba-tiba Ye-jin teringat sosok bibi Ning begitu cantik, dia seperti wanita berusia 20-an. Ye-jin penasaran,


"Bi, berapa umurmu?" Tanya Ye-jin.


"Apa kau sepenasaran itu ya, nona Hong?" Goda Bibi


"Sejak kapan aku sekepo itu padamu bi..." Sebel Ye-jin.


Bibi terkekeh kecil, "aku mengerti...ini pasti rencana author bukan?"


"Apa yang bibi bicarakan? Ayo jawab pertanyaan ku."


"Baiklah-baiklah, umur ku bisa di sebut 41."


"What?!!" Mata Ye-jin melotot hampir copot.


"41 tahun? semuda ini...? Bagaimana caramu bisa semuda ini??" Heran Ye-jin.


Bibi jadi tersipu malu, "hehehehe....ra-ha-sia."


Ye-jin pun menghabiskan supnya dan begitu menikmatinya. Bibi sarankan untuk istirahat di kamar untuk persiapan pesta besok malam.


"Ooh, aku hampir melupakan pesta gold itu."

__ADS_1


*******


__ADS_2