ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
EPISODE 14


__ADS_3

"Aku tidak punya pilihan lagi. . ."



Ma-roo heran menatap Yong-suk duduk di kursi roda. Apa dia patut berbohong dengan kondisi seperti itu ?


"Apa tuan Ju harus berpenampilan seperti ini?" Tanya Ma-roo.


Yong-suk meraih buku kecil dan pulpennya di saku jasnya lalu menulis,


(Orang-orang sudah melihat ku seperti ini.) jawabnya.


Sosok Ye-jin turun dari tangga menatap dua pria itu mengenakan kemeja yang rapi, itu lantas membuatnya penasaran.


Kemana mereka akan pergi ?


"Kalian akan pergi ?"


Keduanya heran melihat Ye-jin tampaknya sudah membaik secepat ini, padahal dia demam.


Wajahnya juga masih pucat, tapi dia tidak terlihat lemas seolah dia baik-baik saja.


"Nona Hong baik-baik saja?" tanya Ma-roo.


Ye-jin mendekat lalu menjawab,ย  "kau tidak lihat aku berdiri di sini, itu artinya aku baik-baik saja bukan?"


Bibir Ma-roo merapat erat menatap tatapan Ye-jin tampak dingin, sepertinya dia sedikit berbeda.


Apa karena masalah kemarin yang menbuat Ye-jin bersikap sedingin ini ?


Yong-suk juga mengatakan sesuatu di buku kecilnya, kemudian menunjukkan ke arah Ye-jin.


(Kau baik-baik saja dengan kejadian kemarin ?)


"Kemarin ?" Ye-jin merasa aneh dan tak ingat apa yang terjadi kemarin.


Tiada yang menyadari Ye-jin amnesia akibat demam, namun begitu sembuh maka dia akan mengingatnya.


(Maaf, harusnya aku tidak mengajakmu di waktu itu.) sambung Yong-suk.


"Katakan pada ku, kalian pergi kemana? Apa ada janji tamu?" Tanya Ye-jin mengalihkan pertanyaan lain.


Yong-suk perlahan curiga, ada yang salah dengan tingkah Ye-jin. Dia menatap istrinya dan salah satu tangannya menyentuh dahinya.


Suhu tubuhnya naik, dia masih demam.


"Kenapa ?" tanya Ye-jin.


(Sebaiknya kau istirahat. ) saran Yong-suk.


"Aku ikut." Tanpa basa-basi, Ye-jin ingin bergabung kemana kedua pria itu pergi.


Tetapi, Yong-suk khawatir dengan kondisi Ye-jin tidak stabil.


Ye-jin juga tau dari tatapan Yong-suk terlihat mencemaskannya.


"Aku baik-baik saja." Sahutnya.

__ADS_1


Yong-suk menyerah dan membiarkan istrinya ikut bersamanya, asal Ye-jin baik-baik saja.


Ketiganya siap berangkat dan meninggalkan rumah, bibi Ning berlari mengejar mobil Ma-roo dengan alasan ingin memberitahu sesuatu.


.


.


.


"Tuan Ju! Tunggu sebentar...!!!" teriaknya.


Sayangnya mobil itu sudah jauh, bibi sudah tak kuat mengejarnya. Dia terengah-engah mengatur nafasnya,


"Aku...harus memberitahunya kalau...nona Hong tidak baik-baik saja."


Menatap sebotol obat di tangannya, bibi khawatir kondisi Ye-jin.


"Dia bahkan meminum obat yang salah."


Sepertinya sesuatu akan terjadi pada Ye-jin, dia tak sadar telah minum obat yang salah.


Itu obat gangguan otak.


"Tapi, bagaimana bisa obat ini ada dikamar nona Hong? Tunggu...."


Bibi mengingatnya, "astaga...ini obat milik tuan Ju." Paniknya.


Alasan Yong-suk minum obat tersebut agar dia merasakan sakit pada otaknya, itu karena dia ingin melupakan apa yang sudah dialaminya.


Namun, obat itu tidak dapat membantunya lupakan hal tersebut.


.


.


.


Mobil Ma-roo sudah tiba di sebuah restoran Channi, dua wanita sudah menunggu kedatangan Yong-suk. Ketiga orang itu turun dari mobil.


Melihat sosok Yong-suk duduk dikursi roda, dua wanita itu tak enak hati dengan kondisinya.


Mereka menghampirinya.


"Terima kasih sudah mau datang tuan Ju." Ucap Mika rambut coklat nan pemalu.


Akibat tak mampu bicara, Yong-suk meminta Ma-roo membantunya.


"Bisakah kita membicarakannya didalam?" Tanya Ma-roo.


"Baiklah, silahkan masuk."


Ye-jin sempat kontak mata dengan wanita bernama Mika. Dia tampak familiar, namun Ye-jin tiba-tiba merasa kepalanya sakit sejenak saat mencoba ingat sesuatu.


Mereka dijemput masuk oleh dua wanita tadi, lalu Ma-roo memperkenalkan mereka pada Ye-jin.


"Mereka pemilik restoran Channi, Meri dan Mika adalah saudara yang jelita dan dikenal duo peri."

__ADS_1


"Duo peri?" Bahkan julukan itu sangat familiar.


"Hong Ye-jin, itu nama ku." Ucap Ye-jin.


Mereka membungkuk sopan menyapa Ye-jin.


"Salam kenal, nona Hong."


(Langsung ke intinya) sahut Yong-suk menunjukkan tulisan di kertas ke hadapan dua saudara itu.


Mereka akhirnya sadar kondisi Yong-suk lebih parah dari dugaanya, tapi dua saudara marga Yoo itu sangat kagum sikap Yong-suk begitu baik mau membantunya meski kondisinya tidak normal.


Kemudian Mika dan Meri menjelaskan bahwa akhir-akhir ini para mafia sering kemari membuat kekacauan di restoran Channi, mereka meminta segera mengosongkan tempat itu karena wilayah itu akan menjadi milik tuan para bandit.


Dua saudara itu sangat takut menghadapi mereka yang bertubuh besar nan kasar merusak restorannya.


"Tolong bantu kami." Kata Meri sangat menginginkan bantuan Yong-suk.


Karena Yong-suk merupakan CEO yang baik.


(Kapan mereka kemari?) tanya Yong-suk.


"Biasanya mereka datang seminggu dua kali." Jawab Meri.


"ku rasa hari ini juga." Sambung Mika.


Yong-suk berpikir, lalu meminta Ma-roo mengambil dokumen miliknya di mobil.


"Biarkan aku saja yang mengambilnya." Sahut Ye-jin.


Dua pria itu menatap ke arahnya, Ye-jin dibuat bingung.


"Tapi, nona tidak perlu melakukannya." Ucap Ma-roo.


"Aku bosan, jadi biarkan aku saja." Ye-jin tetap bersikeras akan mengambil dokumen yang diminta Yong-suk.


(Kalau begitu, tolong ambil dokumen warna biru.)


"Oke."


Ye-jin keluar sebentar, Yong-suk tetap khawatir hingga membuatnya tidak tenang.


"Tuan Ju baik-baik saja ?"


(Aku mencemaskannya, dia masih demam.)


Ma-roo terkejut, kemudian segera menyusul Ye-jin.


Meri dan Mika heran melihat tingkah dua pria itu sangat khawatir dengan gadis bernama Ye-jin.


"Sepertinya tuan Ju sangat mencemaskan nona Hong ya." Kata Mika


(Itu karena dia istri ku.) jawab Yong-suk membuat keduanya terkejut.


Karena mereka belum tau bahwa Yong-suk sudah punya istri.


Dia belum mengkonfirmasikan hubungannya dengan Ye-jin ke masyarakat melainkan suratlah yang meresmikan mereka menikah.

__ADS_1


*******


__ADS_2