
"Kali ini...apa lagi salah ku?"
Hari pertama ku setelah bebas dari tahanan, aku diusir ibu dari rumah. Bahkan nama ku sudah dibuang dari daftar keluarga karena kasus insiden itu telah merusak nama keluarga ibu ku.
Dan...
Ayah ku sudah tiada karena kesalahan ku.
Aku benar-benar payah.
Malam yang sepi, aku tidak punya tujuan lagi harus kemana.
Apa aku ditakdirkan hidup gelandangan dipinggir jalan?
Sebenarnya, apa sih salah ku selama ini?
Sejak insiden itu, aku tiba-tiba dituduh menculik anak orang dan mencelakai pemilik mobil itu.
"Aku tidak mengerti...." Sedih ku.
Tak ada hujan pun merintih malam itu. Aku hanya berjalan layu dan menangis kecil.
Tanpa ku sadari, seseorang mengikuti ku.
Aku tidak mengingatnya, karena saat itu aku hanya teringat dan merasakannya bahwa seseorang memukul bahu ku dengan sebatang kayu hingga jatuh pingsan.
Begitu sadar, aku berada di sebuah kamar mewah. Ini membingungkan ku, kenapa aku berada di kamar yang gelap ini.
"Apa yang ter-" Aku terdiam.
"Huh?"
Wajah ku panik dan sadar sambil memeriksa tubuh ku.
"Sejak kapan...?"
Pakaian ku terlepas, hanya selimut menutup selangkang ku.
Apa yang terjadi sebenarnya ?
Dan lagi membuat ku terkejut adalah...
Seseorang pria tidur di samping ku.
"A-apa?"
Meskipun kamar ini gelap, tapi lampu kecil di samping kasur ini masih menyala. Jadi aku bisa melihat suasana ini. Dengan cepat, aku mengenakan pakaian ku.
Rencana ku adalah segera melarikan diri.
Tapi, ini membuat ku bingung.
Bagaimana bisa aku tertidur di kasur dengan seorang pria?
"Mana lagi dia juga tidak mengenakan apa-apa." Batin ku.
"Aapa yang harus aku lakukan?"
Lampu kamar itu menyala, itu membuat ku terkejut tak punya kesempatan melarikan diri.
"Gimana nih..."
Aku sempat dibuat terkejut, pria yang masih tertidur itu menggenggam salah satu tangan ku.
Seolah pegangan tersebut meminta tolong pada ku.
"Huh?"
Dua wanita masuk ke kamar itu dan menangkap diri ku bersama pria tak ku kenali sama sekali.
"Apa-apaan ini?!!" Seru wanita keibuan dengan riasan mewah.
Bahkan bentuk tubuhnya sangat langsing dibanding diri ku yang kurus tak berisi.
Aku terdiam dan segera melepaskan tangan ku dari genggaman pria tadi.
Dua wanita tadi menghampiri ku dengan wajah marah dan kecewa. Terlebih lagi, gadis cantik itu menampar wajah ku.
Lagi-lagi aku menerima tamparan hebat itu.
"Apa-apaan kau ini!"
Aku merasa gadis cantik jelita dihadapan ku ini seperti berakting. Tak ada airmata atau kekecewaan terukir di wajah itu.
"Beraninya kau tidur dengan calon suami ku!" Sambungnya.
"Apa? Calon suami?" Aku baru tau, pria tadi adalah calon suaminya.
Apa benarkah itu? Aku khawatir ini adalah kebohongan yang mencoba menjebak ku lagi.
"Kau tidak tau ya, putri ku adalah nona Ying, pemimpin bangsawan besar di kota ini." Sahut wanita di sampingnya.
__ADS_1
Sepertinya dia adalah ibu dari gadis bernama Ying.
"Aku tidak tau apa yang terjadi di sini, tiba-tiba aku berada di kamar ini dan-"
"Jangan berbohong! Kau mencoba melarikan diri, kan?!"
Ini penuduhan kedua kalinya, aku merasakannya lagi.
Apa itu artinya aku kembali ke penjara ?
Pria yang tertidur tadi itu sudah bangun, dia bangkit dengan mengenakan kemejanya. Lalu perlahan duduk di kursi rodanya.
Dia tak bisa berjalan?
"Tuan Ju, maaf...aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita."
"Tega sekali kau mengkhianati putri bangsawan, kau sudah merusak nama putri ku saja!"
Keduanya tampak kecewa, namun aku tidak melihat perasaan itu. Seolah mereka terlihat seperti mengkhianati pria itu.
Tunggu?
"Ying Xi ?"
Ying menatap ku dengan waspada, aku merasa kenal dengan nama itu.
"Kau...-"
Dia menampar ku agar menghindari ucapan ku.
"Kau hanyalah wanita tidak tau diri!" Sambil menjambak rambut ku.
"Aku tidak melakukan apapun! Jadi jangan seenaknya menuduh ku tanpa bukti!" Kesal ku.
Aku balas dengan mendorongnya, tapi itu sangat keras hingga kepalanya terbentur dan berdarah.
Tangan ku gemetar, "tidak...ini bukan salah ku."
Pria itu menggenggam tangan ku lagi dengan tatapan yang mengartikan bahwa aku harus pergi bersamanya dari tempat ini.
Tentu saja, aku bergegas membawa pria itu bersama ku pergi dari tempat itu.
"Ying xi ?!" Ibunya panik dan segera meminta bantuan.
Dan dia tidak memaafkan diriku yang telah mencelakai putrinya.
Apa ini salah ku ?
******
Aku sangat bersyukur dan lega telah berhasil kabur dari dua wanita tadi. Dan pria itu juga masih bersama ku, saat ini kami berada di depan hotel.
"Ini...dimana?" Aku jadi pikun urusan jalan.
Sebuah mobil berhenti di jalan, lalu seorang pria berjas rapi menghampiri pria bersama ku.
"Tuan Ju, kau baik-baik saja ?" Dia benar-benar mencemaskan tuannya.
Aku tidak terlalu ikut campur, "ku rasa ini sudah aman, aku harus pergi." Niat ku.
Bibir ku gemetar berbicara dan sulit mohon pamit karena trauma ketakutan ku masih tertinggal di pikiran ku.
Jadi aku memilih pergi dari tempat itu.
"Tunggu sebentar." Ucap pria berjas tadi.
Langkah ku terdiam dan perlahan menoleh menatap kedua pria itu.
"Tuan Ju ingin bicara dengan mu." Sambungnya.
"Apa?"
Aku menghampirinya kembali, wajah ku sedikit heran memperhatikan kondisi pria duduk di kursi roda.
Dia benar-benar lumpuh, tapi aku tidak pernah mendengar dia berbicara.
Pria tadi mengambil buku dan pulpen dari supirnya, lalu menuliskan sesuatu di buku itu.
Kemudian memperlihatkan ku,
(Kau baik-baik saja ? )
Aku terkejut membulatkan mata ku, "Huh?"
"Dia tidak bisa berbicara juga ?" Batin ku.
"U-uhm...aku baik-baik saja." Jawab ku.
Dia menulis lagi.
(Kau tidak baik-baik saja.)
__ADS_1
Aku terdiam, bagaimana bisa pria cacat ini mengetahui kondisi ku yang buruk.
(Kau ingat insiden 2 tahun lalu?) sambungnya.
"Bagaimana bisa kau mengetahuinya ?"
(Karena saat itu kau tidak bersalah dan di tuduh. )
Tubuhku sudah kaku, sangat sulit menghindar dari ucapan pria ini.
Aku ingin melupakan penderitaan itu.
Pria itu masih menulis lalu menunjukkannya pada ku.
( itu menyakitkan bukan? )
(Aku sangat ingin bertemu denganmu.)
Mata ku gemetar dan berkaca-kaca, mengapa pria ini menanyakan tentang insiden itu? Seolah dia tau, apa yang ku rasakan saat itu.
Siapa dia sebenarnya ?
Memangnya dia tuhan tau segalanya ?
"Kenapa?"
(Karena kau tidak bersalah saat itu. )
Aku terpaku dan merasa tidak adil. Amarah ku kacau hingga mata ku perih dan airmata ku menetes.
"Hentikan omong kosong itu!"
"Jangan bersikap seolah kau tau segalanya!"
Aku sangat mengerti bahwa pria dihadapan ku ini menatap ku dengan penuh kasihan.
Tapi, aku khawatir tatapan itu adalah kebohongan.
"Memang benar, aku terlibat dan di tuduh menyebabkan insiden itu, aku...aku tidak mengerti mengapa orang-orang itu sepakat menuduh ku."
(Aku juga terjebak sepertimu.) balasnya
"Huh? Apa?"
Meskipun dia berusaha agar aku mempercayainya. Aku sedikit egois memilih keputusan ku sendiri.
"Apa kau mencoba untuk menipu ku juga ?"
Aku jatuh berlutut dan menangis, "aku muak...aku lelah...aku ingin mati dan bahkan...aku...aku-"
Sepertinya bibir ku tak kuat berbicara, aku benar-benar lelah menjalani penderitaan ku.
Berawal dari pembulian di bangku SMP hingga SMA, karena hal itu aku memilih berhenti dan bekerja. Sejak itu, klan Ayaka memperlakukan ku seperti sampah termasuk keluarga ku.
Jujur aku sudah muak dan lelah.
Kapan penderitaan ini berakhir ?
Aku menangis tersedu-sedu dengan menundukkan wajah ku. Salah satu tangan pria itu menyentuh kepala ku, lalu mengusap lembut.
Ini pertama kalinya aku merasa kehangatan yang dapat menenangkan ku.
"Ma-maaf...aku harus pergi." Aku mengusap airmata ku dan bangkit bersiap pergi.
Ini tidak sepatutnya aku menangis tersedu-sedu dihadapan pria yang tidak ku kenali.
Namun, pria itu hanya mampu meraih tangan ku agar mencegah ku pergi.
Dia menulis sesuatu untukku.
( jika kau melewatkan kesempatan ini, maka kau akan sendirian selamanya. )
Aku menepisnya dengan lembut, lalu menghela nafas panjang kemudian menatapnya.
"Haruskah aku mempercayai mu ?"
(Kau patut mempercayai ku, aku hanyalah korban.)
Korban ? Apa maksudnya itu ?
Apa dia juga mengalami hal yang sama seperti ku?
(Kau sudah setubuh dengan ku maka aku harus menikahi mu. )
"Apa?"
Itu benar, aku sudah setubuh dengan pria ini karena dijebak. Namun, aku tidak begitu yakin.
Apakah aku harus menikah dengannya ?
"Tunggu? Ini lamaran...?"
__ADS_1
*******