ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 59


__ADS_3

.


.


.


Dan malamnya, acara reunian telah dimulai. Dua guru itu sudah menyiapkan makanan mewah sudah disajikan di meja, Meri yang gemarnya makan itu mulutnya sudah menelan ludah terus-menerusnm karena tak tahan kelezatan makanan tertata rapi di meja.


Dia mengangkat tanganya bertanya pada salah satu gurunya.


"Pak jung-sik, apa aku boleh memakannya sekarang?"


Bibir pria itu menebar senyum kebaikan itu mengizinkannya.


"Kenapa tidak..."


Mata meri berbinar kemudian langung terjun ke tempat duduk menikmati makanan tersedia di sana.


Orang-orang di sekitarnya juga menikmati makan malam mewah, sementara Ye-jin hanya berdiam di sana dan mencermati masakan di sana.


Bibirnya maju cemberut, "ini kan...masakan Yong-suk? Dia membuatnya?"


Matanya beralih ke arah pak Jung-sik alias Yong-suk yang duduk menikmati makanannya. Dia menangkap tatapan istrinya, perlahan bibirnya tersenyum benar itu masakannya.


"Whaaaaat??!" Ye-jin sangat terkejut dapat mengerti arti dari senyum suaminya.


Tapi dia kesal, harusnya masakan suaminya hanya untuk Ye-jin seorang bukan orang lain. Julis dan Mika daritadi memperhatikan mata Ye-jin terus tertuju ke arah pak Jung-sik.


"Nona Hong, apa sesuatu mengganggumu?" Tanya Mika.


Julis ikut menegur Lize. "Daritadi kau terus menatap pak Jung-sik, hei ingatlah kau itu sudah menikah."


Ye-jin sadar itu tersenyum pahit dan menyelanya, "ahh jangan berpikir negatif begitu, aku bahkan tidak punya hubungan apa-apa dengannya."


"Tapi...kau tadi cemberut nakal ke arahnya." curiga Julis.


Wajah ye-jin memerah tersipu. "Eh..ahh-ehrr...b-bukan begitu dan...j-jangan salah paham."


"Bagaimana saja kita duduk dan makan malam?" Dia mengalihkan pertanyaan lain agar terhindar.


"Aku setuju."


Ye-jin terselamatkan suara Mika menyautnya.


Mereka bergabung ke meja Meri yang masih menikmati santapannya, kedua mata Ye-jin berbinar bintang menatap kue puding susu tersiapkan di sana.


"Kyaaaahaaa...puding kesukaan ku."


Kedua tangannya cepat meraih piring kecilnya berisi puding dan dihiasi buah ceri. Ia merapatkan bokongnya ke tempat duduk, lalu meraih sesendok puding masuk ke mulutnya.


Itu meleleh dengan lembut, hingga ia benar-benar tenggelam dunia puding.


"Pudingnya...sangat enak dan lembut."

__ADS_1


Melihat Ye-jin pertama kali menunjukkan ekspresi manis di depan ketiga wanita itu, langsung tersentak kaget bercampur bahagia.


"..manisnya kebangetan..!!" Serentak kata hatinya.


Julis yang menutup hidungnya mimisan, Mika yang mematung lalu mimisan dan sementara Meri malah menjatuhkan semua makanan dari mulutnya.


Ye-jin tidak menyadarinya, dia sudah tenggelam oleh makanan kesukaannya.


Ma-roo dan bibi yang menyamar sebagai pelayan juga merasa senang melihat Ye-jin tampaknya baik-baik saja. Mereka seperti orang tua yang menangis terharu melihat putrinya akhirnya dapat punya teman baru.


"...nona Hong...akhirnya anda dapat memiliki teman ya..."


"Bibi lega sekali."


Mereka memperhatikan nona Hong seperti anak mereka sendiri. Ma-roo berniat melangkah kembali.ke dapur, dia mematung sejenak menatap jendela yang sepertinya seseorang baru saja lewat.


"...hm?"


"Apa...perasaan ku saja ya?"


"Ada apa?" Tanya bibi.


"Aku merasa seseorang baru saja lewat di jendela."


"Mungkin kau sedikit lelah, ayo sini...akan ku bantu pijitin bahumu."


"Eh? Tapi aku tidak__"


"Kebiasaanmu adalah menghindar, ayo ikut aku."


Yahh, walaupun Ma-roo menegaskan dirinya gak gampang lelah. Bibi tetap saja khawatir dan mengajaknya kembali ke kamar untuk pijitin bahunya Ma-roo.


Pak Jung-sik juga menyadari seseorang baru saja lewat dari jendela, matanya menyipit mengingat orang yang lewat adalah perempuan bertubuh ramping rambut panjang dan mengenakan seragam hitam kayak penjahat.


"..ada penyusup, apa yang dia lakukannya kemari?"


"..apa dia belum puas pertengkaran pagi tadi?"


Dia tau, siapa orang tadi.


. .


Ye-jin dan Julis pergi ke dapur sebentar untuk ambil berapa piring. Di dapur, mereka hanya berdua. Ini kesempatan Ye-jin untuk menanyakan sesuatu pada Julis.


Bibirnya sedikit ragu membuka, dia perlahan tarik nafas membawa keberaniannya.


"Julis? Bisakah bertanya satu hal padamu?"


"..hm..? Apa?"


"Uhm...malam pesta itu, kenapa...kenapa kau memanggil Yong-suk dengan angka itu?"


"..y-yah kalau tidak salah..307...apalagi yah, aku kurang ingat."

__ADS_1


"3075 bukan?"


"Nn benar."


Julis membuang nafas pasrahnya, "yahhh...sebenarnya Tuan Ju pernah melawan klan Ju untuk tidak merekutnya sebagai calon pemimpin penerus warisan Ju, karena mereka memperlakukannya seperti boneka yang hanya berdiri di atas kertas."


Ye-jin mendengarkannya, dari penjelasan Julis sebenarnya. Angka 3075 yang didapatkan Yong-suk adalah pusat penelitian Ju, akibat dia melawan.


Sebagai hukuman dia dibawa ke pusat untuk melakukan percobaan. Otaknya berkali-kala di kejutkan oleh setrum hingga membuatnya kesakitan sampai tatapannya kosong.


Itu berlangsung selama sebulan, angka 3075 merupakan kelemahan baginya.


"Setiap orang memanggilnya dengan angka itu, dia tertekan..hati dan pikiran baik itu tubuhnya bergerak seperti robot mesin yang akan melakukan apapun perintah tuannya."


"Bisa dibilang trauma besar bagi Tuan Ju."


Ye-jin dibuat kaku, dia tak menyangka klan Ju memperlakukan Yong-suk sangat kejam seperti dirinya dulu.


"...aku juga, minta maaf...aku tidak bermaksud menyakiti suamimu."


"jangan pikirkan hal itu, tapi kau tau cara yang dapat menghilangkan traumanya."


Bibir Julis tersenyum dan perlahan mendekatkan suaranya ke telinga Ye-jin.


"...hanya dengan melahap tubuhnya, itu akan jauh terasa membaik untuknya."


"Heh?" Wajah Ye-ji langsung mendidih mendengarnya.


Julis pun pergi membawa piringnya dan sengaja meninggalkan Ye-jin masih diam tersipu malu.


"...kyaaaaa...aku tidak ahli dalam urusan begituan apalagi...."


Kepalanya hampir di buat pecah memikirkannya.


Tiba-tiba pak Jung-sik berlari menemukan Ye-jin masih di dapur. Dia terengah-engah dan mengatur nafasnya.


"P-pak jung-sik...a-ada apa?" Ye-jin jadi gagap bertemu dengannya.


"Tidak ada waktu bertanya, ini gawat."


Ye-jin heran mengapa pria ini tiba-tiba panik datang sembarinya.


"Apa sesuatu ter__”


Ye-jin belum menyelesaikan pertanyaannya, ledakan terjadi di tengah ruang makan membuat satu rumah itu meledak kebakaran.


Ini mirip seperti pengeboman, dibawah malam yang indah. Seorang gadis menebarkan senyum iblisnya melihat rumahan dibuat papan kayu itu baru saja meledak tepat di depan matanya.


"...bagaimana?"


"..ini mirip dengan yang kau lakukan bukan terhadap Yeon dul-mang bukan, Ju Yong-suk..."


Dia memperlihatkan wajahnya dibalik topeng hitamnya.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Ying-xi, si rubah licik.


******


__ADS_2