ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 45


__ADS_3

.


.


.


.


Ketika langkah Ying-xi sudah mendekat ke ruangan Yeon-dul, ruangan itu tiba-tiba meledak. Api meluap marah mengenai setengah tubuhnya,


Sejak kecelakaan berlalu seminggu,


Dia hanya mendengus kesal mengingat betapa cerobohnya ke tempat itu tanpa di sadari ada jebakan sudah terpasang di sana.


Tangan putih ramping itu meraih cermin di meja, kemudian menatap sebelah pipinya dibungkus perban hampir menutupi setengah wajahnya.


Matanya menyipit sayu kesedihan melihat luka bakar mengenai pipinya. Tidak hanya itu, selangkang bahu belakangnya juga meninggalkan bekas luka.


Dia tak terima itu melempar cermin dengan ekspresi marahnya.


Aaarrggghhhhh!!! Dirinya hampir gila ketika kecantikannya akan segera menghilang.


Itu artinya, dia bukan lagi seorang ratu madona. Reputasinya akan turun memburuk.


"Bagaimana ini...bagaimana jika mereka tau kalau wajah ku..."


Luka bakar itu sudah merusak kecantikannya.


Suara pintu terbuka, langkah seorang mendekat cepat dengan wajah panik mencemaskan Ying-xi.


"Kau baik-baik saja?...a-apa yang terjadi dengan mu?"


"Ibu tidak lihat kondisi ku seperti apa, ya?"


Menatap sang ibunya yang sering akrab dengannya, kali ini wajahnya masih terukir sedih bercampur kesal meraba kulit pipinya sangat jijik untuk di sentuh.


"Tapi, bagaimana bisa itu terjadi padamu?"


"Aku tidak tau, tempat itu tiba-tiba meledak."


Matanya tetiba melotot lebar mengingat seorang pria bertopeng misterius yang sempat dilewatinya.


Huh?__


"Ada apa?"


Ying-xi menelan ludah seakan rasa takut tiba-tiba mengalir ke seluruh tubuhnya. Ibunya sempat dibuat panik melihat putrinya diam mematung sesaat.


"A-aku ingat, t-tatapan itu..."


Dia ingat sekali terutama tatapan sayu mengukir kemarahan membara bagaikan binatang liar mandi berdarah.


Bahkan sempat berpikir dan menebak, tatapan yang mengingatkan sosok Yong-suk.


Bibirnya terdiam merapat. Bahwa dia tak berhalusinasi malam itu.


"Sebelum tempat itu meledak, aku melewati seorang pria dan matanya mengingatkan ku Yong-suk..."


"Apa yang kau bicarakan?" Dari tadi, Ying-xi ngomong kosong.


Jelas membuat ibunya tidak mengerti.


"Apa itu Yong-suk?"


Ying-xi tak yakin, jika pria misterius itu adalah Yong-suk. Namun dia tak punya bukti kuat untuk membuktikannya kecuali tatapan familiar itu.


Perlahan bibirnya yang tertutup rapat itu tersenyum penuh ide cemerlang bahwa dia telah menemukan jawabannya.


"Aku sudah tau...."


"...siapa pelakunya."


.


.


Musim semi berakhir, saatnya menuju musim gugur yang akan mengukir lembaran baru di negara Cell. Ye-jin yang dirawat selama sebulan satu minggu, akhirnya dia mendapat udara bebas setelah terkurung begitu lama.


Tapi itu tidak membuatnya bosan, karena tiap hari dia menghabiskan waktu dengan membaca buku, bercanda dengan suaminya dan selalu ditemaninya sepanjang hari.


Jelas membuat suasana hatinya berbunga-bunga.


"Terima kasih."


Ye-jin berdiri samping suaminya sibuk mengangkut tas bawaanya masuk ke mobil.

__ADS_1


"Untuk apa?" Heran Yong-suk.


"Kau merawatku tiap hari." Wajah Ye-jin masih berseri-seri bahagia.


Bibir tipis Yong-suk tersenyum kecil nan lembut. "Aku tidak melakukan hal banyak kok."


"Tapi, aku senang."


Melihat wajahnya senang berseri-seri ke arah Yong-suk. Itu semakin membuat dirinya khawatir bahwa kedua tangannya baru saja meninggalkan bekas berlumuran darah.


"Ayo pulang." Sambil mengulurkan telapak tangannya menghadap istrinya.


Dengan senang hati, Ye-jin meraihnya.ย  "Iya!"


.


.


Sepasang suami istri telah kembali ke rumah, Ma-roo dan Bibi menyambut meriah kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali nona Hong." Sambut Ma-roo dan bibi.


"Bibi senang melihatmu sepertinya baik-baik saja."


"Nn, itu butuh waktu yang lama."


Ye-jin merasa bahwa dia telah ditenggelam oleh kebahagiaan di rumah itu. Masalalu adalah racun, jadi sangat mustahil jika racun ditelan seperti kapsul obat.


"Aku kembali."


Yong-suk membiarkan istrinya menghabiskan keceriaannya bersama mereka. Bibirnya menebar tipis sesaat dan merautkan wajah kekhawatiran menatap kedua tangannya masih meninggalkan bekas.


Dia tidak tenang setelah membunuh orang.


Matanya menyipit sayu mengingat tubuhnya bergerak sendiri mengotori tangannya lumpur berdarah.


Apa ini akibat perasaannya terhadap istrinya?


Apa yang membuatnya seperti itu?


"Yong-suk?" Ye-jin merasa aneh menatap suaminya berdiri melamun di luar.


Dia berniat mendekatinya, namun niat itu terkurung ketika bibi menawarkan puding untuknya.


"Wahhh...puding!"


Tapi ini makanan bukan hewan.


Tangannya meraih sendok kecil membelah pudingnya, kemudian melahap ke mulut kecilnya.


"Mmmnnnn...pudingnya ingin membuat ku meleleh."


Melihat Ye-jin tenggelam oleh kelembutan puding, Ma-roo dan Bibi memperhatikan Yong-suk sejenak. Mereka mengerti apa yang dipikirkan tuannya.


Jadi mereka usahakan Ye-jin tidak melihat sisi lemah tuannya.


Yong-suk menghampiri istrinya, "sepertinya kau menyukainya."


"Nn, karena ini favorit ku."


"Begitu, lain kali aku akan meminta bibi membuatkan mu lebih banyak."


"Ah! Jangan berlebihan, sedikit saja aku sudah senang dan merasa cukup."


"Kalau begitu, nikmatilah...aku harus ke kantor."


"Uhm, oh..uhm baiklah."


"Tetap di rumah." Sambil mengecup kecil di dahi istrinya.


Ye-jin membeku sesaat hingga wajahnya panas meleleh.


"Eh! Ahaaahh! I-iya! Hati-hati."


Dia sangat malu wajahnya masih memerah akibat tingkah suaminya begitu datar nan romantis. Melihat suaminya sudah pergi.


Tiba-tiba tatapannya jadi harimau ke arah bibi dan Ma-roo. Keduanya terkejut dan sadar segera menutupi wajahnya.


"Kami tidak melihat apapun!" Kata mereka blak-blakkan.


"Bukan itu.." Suara Yejin tetiba dingin, mata indah nan berdarah itu masih mengarah keduanya.


Hingga bulu kuduk mereka naik merinding ketakutan.


"Hiiiiiiiiiiiiii!!!"

__ADS_1


"Ada yang disembunyikan Yong-suk? Itu benar, kan?" Tanya Ye-jin.


Keduanya terdiam sesaat, setelah mencari jawaban untuk menghindari ketahuan.


"Ehhrrr...aahh...yahhhh, itu loo..."


Namun, mereka jadi canggung dan blak-blakan mencari jawaban yang tepat dikatakannya.


Ye-jin semakin curiga. "Kalian...juga mencurigakan."


"Heh?! Ahh...b-bukan itu!" Bibi langsung menyela,


"Lalu..."


Ma-roo jadi gugup mengakuinya, "Y-yahh...sebenarnya, uhm..tuan__"


Dan itu hampir saja terlepas, namun bibi benar-benar pahlawan menyelamatkan situasi itu dengan mengingat sesuatu yang harus disampaikan.


"Aah! Aku lupa memberitahumu nona Hong!"


Tetapi, kedua kuping nona jadi pekik kaget mendengar bibi yang tiba-tiba teriak di sampingnya.


"Telinga ku jadi sakit." Keluhnya.


"Apa itu?"


"Nona ingat saat memesan baju di toko Hella?"


"Pemilik toko mengirimkan pesan sesuatu di ponsel mu."


"Ponsel ku?"


"Yess!"


Bibi memberikan ponsel Ye-jin ke pemiliknya, dia meraihnya dan memeriksanya. Dan itu benar, pemilik Toko HELLA telah mengirimkan pesan padanya.


Yang berupa video,


Matanya sedikit menyipit kesal bercampur curiga menyaksikan isi videonya.


"Aku tidak tau apa niat wanita murahan itu sebenarnya merusak barang ku,"


Bibir tersenyum tipis nan sinis, "bahkan sampai sekarang dia tak bisa berhenti menjadi kucing hitam bermata singa."


"Astaga...dia benar-benar tidak bisa membuat ku tenang, dasar kucing hitam bermata singa."


Ma-roo dan Bibi tampak khawatir melihat Ye-jin berbicara pedas dari tadi hingga keduanya menelan ludah,


Merasakan ucapan yang begitu panas hampir dibuat tewas. Mereka ingin kabur dari suasana ini.


Ye-jin menarik nafas dalam-dalam dan menghela panjang, kemudian bangkit dari tempat duduknya.


"Bi, aku keluar sebentar."


"Heh?"


"Tapi, nona baru saja pulang dari rumah sakit."


Mereka mencoba menahan Ye-jin tidak memaksakan diri, karena dia baru saja keluar dari rumah sakit.


Sangat jelas itu mengkhawatirkannya.


"Aku baik-baik saja, jika Yong-suk sudah pulang tolong katakan padanya."


"Baik."


"Apa perlu aku mengantarmu?" Tanya Ma-roo.


"Tidak perlu, kali ini aku...ingin bermain sendiri."


Melihat Ye-jin yang tetiba dingin, keduanya penasaran video apa yang membuat nona begitu berubah, sampai wajah iblisnya sungguh terlihat dihadapannya.


"Kepala ku hampir hilang mendengar kata itu.." Ucap Ma-roo bernafas lega.


Bibi terengah-engah mengatur nafasnya, dia hampir saja kehilangan nafasnya.


"Aku juga, sepertinya sepasang suami istri ini masing-masing memiliki sisi iblis yang mengerikan."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Katakan pada tuan ya?"


"Kita akan mengatakannya sesuai perintah nona Hong."


********


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2