ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
PART 58


__ADS_3

.


.


.


Saat reunian sudah berkumpul di tempat, dua guru masih cantik dan tampan itu berdiri menyambut kehadiran para mantan muridnya.


"Sudah lama ya, tidak berkumpul seperti ini."


"Kami sangat berterima kasih pada kalian yang sudah bersedia hadir undangan kami."


Keduanya memperkenalkan dirinya kembali seperti guru mereka yang dulu.


Namanya Melisa, bisa dibilang umurnya cukup tua. Udah nikah dan punya anak berusia belasan tahun, namun anehnya, dia tetap awet muda seperti berusia 20 tahun.


"Aku penasaran resep apa yang membuatnya awet muda, aku jadi tertarik." Gumam Ye-jin.


Julis menempel dilengannya juga mendengar, "sebaiknya kau jadilah dirimu sendiri daripada kau akan terjebak dunia lain."


"Aku tau itu, tapi..." Dia menatap Julis memasang wajah cerianya.


"Sampai kapan kau akan menempel seperti ini." Tegurnya dingin.


Dia merasa harga dirinya jatuh melihat orang-orang menyaksikan Julis tiada hentinya menempel dilengannya.


"mereka juga mengira aku ini membawa anak kemari."


"Aku lebih senang jika kau ibu ku." Balas Julis.


Ye-jin mendengus kesal menahan amarahnya.


Lanjut di samping bu Melisa, pria tinggi berkulit putih mengenakan kacamata minus, rambut coklat acak-acak. Ye-jin malah menatap curiga ketampanan guru lelakinya.


"E-entah kenapa...wajahnya mengingatkan ku Yong-suk, apa aku halusinasi akibat merindukannya?"


Pria itu memperkenalkan diri, dia membungkuk badannya dengan sopan nan ramah menyapa mereka.


"Apa kalian masih ingat guru tertampan kalian, Oh Jung-sik?"


Mendengar pertanyaannya, semuanya terdiam beku di tempat.


"Heh? Oh Jung-sik? Setampan ini...?!"


Mata ye-jin melotot tak percaya, seingatnya pak Jung-sik adalah pria muda yang polos. Bahkan Julis juga heran melihat pak Jung-sik seglowing ini.


"Tiba-tiba aku ikut penasaran, resep apa yang mereka gunakan? Aku tertarik..agar aku terlihat imut teruss.."


"Sejak kapan kau tiba-tiba ikut berminat, jangan terpedaya. Mereka bisa saja memalsukan wajahnya." Sahut Meri di samping keduanya.


"Berisik." Julis tidak suka Meri ikut campur.


Mata pak Jung-sik tertuju ke arah Ye-jin. Bibirnya tersenyum menggoda lalu mengedipkan mata ke arahnya.


Ye-jin dibuat tersentak hingga pipinya memerah, dia heran bagaimana bisa pria tua ini dapat menggodanya. Tapi, dia jelas mengingatkan wajah suaminya.


Telapak tangannya merapat ke mulutnya, "tidak...tidak mungkin aku merindukannya. Y-yah...aku sebenarnya agak kesepian sihh tanpanya." Kata batinnya.


. .


Rumah itu cukup luas dan memiliki banyak kamar baik itu ruangan. Tidak menyangka dua kamar mandi luas itu juga dipersiapkan. Ye-jin bersama Julis keliling melihat sana-sini.


"Ini rumah apa...istana sihh? Kok luas banget, tampangnya aja dari luar tampak sederhana tapi begitu masuk sangat luar biasa."


"Apa ini pertama kali bagimu?" Tanya Julis.


"iya, aku tidak pernah melihat rumah seluas ini daripada rumah ku."


"Tapi, apa kau menyukainya?"


Bibir Ye-jin tersenyum angguk, kalau dia juga nyaman dengan tempat seperti ini. Dan kebetulan di sana, mereka tak sengaja menangkap dua orang berpacaran menikmati udara alam.


Julis berniat mengganggu, tangan Ye-jin mencegahnya agar tidak ke sana.


"Hobimu suka ganggu orang ya, ayo pergi."

__ADS_1


melihat Julis cemberut, dua orang tadi berbalik menatap ke arah mereka. Ye-jin terkejut.


"heh?....Heeeeehhhh??!!"


"Aaah, nona Hong? Kau juga kemari?" Itu suara Leo.


Di sampingnya ada Mijoo juga hadir reuni. Julis juga mengenal sepasang tunangan itu. Mereka menghampiri Ye-jin.


"Lama tidak bertemu." Sapa Mijoo.


Ye-jin santai seperti biasanya membalas sapaannya. "Benar, bagaimana kabarmu? Apa ada kabar bahagia soal pernikahanmu?"


Wajah Mijoo tertiba memerah, "u-uhm...y-yah..d-dua bulan lagi." Gagapnya.


Ye-jin dan Julis tersentak bahagia, "benarkah?"


"Ya, jangan sampai kalian tidak datang yaa." Ucap Leo.


"Kami akan datang kok." Balas Julis.


Mata Leo mencari seseorang, "Suk-chan tidak ikut?"


Tentu saja orang terdekatnya mencari Yong-suk, karena pria itu juga satu sekolah dengannya. Ye-jin tersenyum pahit lalu menjawab,


"Hahahah...y-yahh, dia baru saja sembuh dari demamnya. Jadi aku memintanya tidak ikut dan istirahat di rumah."


"Yahhh kagak seru tuh, kau pasti kesepian bukan?"


"E-eh? Ahh...yahhh b-begitulah, tapi aku baik-baik saja."


Terdengar suara langkah mendekati mereka, lalu menyapanya.


"Maaf, apa anda punya waktu?" Tanya pak Jung-sik ke arah Ye-jin.


"Iya, ada apa?"


"Uhm..bisakah anda membantu saya membawa beberapa bawaan di luar?"


"Oh, tentu saja."


"Oh, okee."


Melihat Ye-jin pergi bersama pak Jung-sik, ketiganya merasa aneh.


"Aku baru tau pak Jung-sik setampan ini, apa dia memakai sihir? Penampilannya sangat berbeda." Ucap Leo.


"Kau benar, yahh...kau taulah pak Jung-sik pasti berjuang dari masa mudanya, aku sedikit kagum." Sahut Julis.


. .


Ye-jin bergabung tim senior membawa beberapa kardus isinya berat semua, hingga dia sulit membawa tiga kotak. Yang lainnya juga membawa tiga kotak, tapi anehnya mereka tampak baik-baik saja.


Apa seseorang mengerjai isi kotaknya biar terasa berat?


Tapi, memang fakta isinya berat-berat semua. Hanya saja Ye-jin tidak beruntung dalam membawa bawaan berat.


"Sepertinya kau kesulitan." Sahut Jung-sik mengambil dua kotak dari Ye-jin.


"Eh, ahh...tidak usah, aku bisa membawanya sendiri."


"Aku tidak bisa tenang melihatmu kesusahan."


Ye-jin terdiam beku di tempat setelah mendengar kalimat itu. Dia memalingkan wajahnya ke arah Jung-sik.


"Ada apa?"


"Uhm..tidak apa-apa."


Ye-jin penasaran mengapa pria itu mengatakan kalimat yang sama seperti suaminya. Dia melanjutkan langkahnya masuk dan di ikuti Jung-sik di belakangnya.


Ketika sudah selesai membawa beberapa bawaan masuk ke rumah, punggung Ye-jin hampir patah dibuatnya. Jadi dia istirahat di belakang halaman rumah, karena angin alam sangat adem duduk sendirian.


Dia menghela nafas panjang, "haaaahhhhffffh...pegelnyaaa."


Tangan berkulit putih muncul menawarkan sebotol air pada ye-jin, dia terkejut orang itu melangkah seperti hantu.

__ADS_1


"Pak Jung-sik, uhmm...makasih." Dia meraihnya.


"Sama-sama." Perlahan Jung-sik duduk di samping.


Jantung Ye-jin berdetak kencang, ini tidak seperti biasanya. Hanya Yong-suk yang dapat mendebarkan jantungnya, tapi mengapa pria seperti pak Jung-sik dapat mendebarkannya.


Siapa pria ini? Keheninganpun terjadi beberapa saat akibat kecanggungan.


Jung-sik menghela kecil dan mencoba mengatakan sesuatu yang dingin.


"Hei, mengapa kau begitu bodoh tidak menyadarinya?"


Ye-jin terdiam lagi, kemudian cepat menatap Jung-sik. Saat ini pria itu melepaskan kacamatanya dan tersenyum sinis ke arah Ye-jin yang terlambat sadar.


"Heeeeeeeehhhhh?! Y-yong-suk...b-bagaimana bisa...bagaimana bisa...kau...kau k-kemari?"


Ternyata Yong-suk yang menyamar sebagai guru, matanya mengerut kesal itu memukul kepala istrinya.


"Aduuh!"


"Ini jelas kesalahanmu." Tentu saja, suaminya kesal pada Ye-jin tidak minta izin padanya.


Ye-jin cepat berlutut minta ampun, "m-maafkan akuuu" 😫😫😫


"kau tau, betapa khawatirnya aku mencarimu. Kau bahkan tidak mengajakku."


"Maaf, itu karena aku tidak ingin kau terlibat."


Tangan Yong-suk memukul kepalanya lagi, "setidaknya minta izin."


"Baik, lain kali akan ku lakukan."


Yong-suk menarik istrinya ke tempat duduk kembali. Ye-jin masih bersalah dan sangat menyesal.


Suaminya nenatap lembut ke arahnya, "Tapi, kau baik-baik saja kemari sendirian?" Tanya Yong-suk.


Ye-jin sangat mengerti suaminya begitu mengkhawatirkannya. Apalagi masalalu pahitnya adalah musuh beratnya, tapi saat ini dia sudah punya beberapa teman.


"Di sini ada Julis, Mijoo, Meri, dan Mika, aku sudah menganggap mereka adalah teman-teman ku..jadi aku baik-baik saja."


Teman saja sudah cukup mendukungnya.


"Aku sangat cemas melihatmu bertengkar dengan Ying-xi."


Ye-jin tak menyangka suaminya juga menyaksikan pertengkaran kecil tadi,


"heh? Kau juga melihatnya? Tapi tunggu, dimana kau meletak pak Jung-sik?"


Bibir Yong-suk tersenyum iblis dengan menggoda istrinya,


"Yahh, untuk sementara....aku menjebaknya di suatu tempat hingga sulit menemukan jalan pulang."


Mata Ye-jin menyipit cemberut, "Kau kejam."


"Jangan salahkan aku, jika aku datang dengan identitas ku sebagai suamimu. Mereka pasti melakukan cara menyingkirkanmu."


"Hei, bukankah katamu akan aman jika bersamamu yaa?"


"Beda situasi."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


"Tentu saja mengamati istri ku."


"Dengan penampilan seperti ini?"


"yes banget."


Salah satu tangannya mengusap lembut pipi istrinya, dia seperti mengusap kucing putih. Telapak tangannya juga menghangatkan Ye-jin.


"Dimanapun kau berada aku pasti datang melindungimu dibalik bayanganmu."


"Terima kasih, tapi...tolong maafkan aku ya."


"Yeahh, selama kau tidak mengulanginya."

__ADS_1


*****


__ADS_2