
"Siapa pria ini sebenarnya...?" Ye-jin
Ketika Ye-jin keluar dari pintu restoran Channi, dia dihampiri dua pria mafia. Ye-jin mulai curiga apa mafia yang dimaksudkan Mika dan Meri.
"Apa kau adalah pelanggan dari restoran ini?" Tanya salah satunya.
Ye-jin hanya diam nan sinis menatap mereka berwajah serigala, dia tau mereka adalah orangnya.
Sebagian teman dari dua orang itu hadir dihadapan Ye-jin.
"Hei, bukankah dia adalah nona Hong Ye-jin?"
"Maksudmu dia yang bersama tuan cacat itu ya?"
Bagaimana bisa mereka dengan mudahnya mengenal wajah Ye-jin? Apa mereka salah satu anak buah dari orang pertemuan asosiasi departemen?
Ye-jin masih diam menatap mereka yang menertawainya.
"Hei, apa kau tidak punya mulut ya? Dari tadi kau diam saja!"
Orang-orang itu sangat mengganggu Ye-jin,
"Aku tidak punya waktu berbicara dengan kalian, tolong minggir."Β Dinginnya.
Mereka membiarkan Ye-jin pergi, tapi kemudian salah satunya memukul bahunya dari belakang hingga dia terjatuh.
Dia tidak pingsan, tubuhnya lemas dan sulit menggerakkannya.
"Apa yang terjadi dengan ku...?" Ye-jin heran pada dirinya.
"Aku tidak bisa bergerak, tubuhku....sangat lelah." Batinnya.
Para mafia itu berkumpul menatap Ye-jin, tentu saja mereka menertawainya karena sikap dingin Ye-jin tak dapat melawan mereka.
"Ku pikir wanita sedingin es sepertimu adalah orang ya g begitu berani, ternyata nona Hong selemah ini ya."
Bibir Ye-jin tampak gemetar, menatap di sekitarnya mengingatkan dirinya dibuli. Perlahan memori yang hilang kemarin itu telah kembali, namun mengingatnya saja kepalanya terasa sakit seperti terbelah dua.
"Apa yang harus aku lakukan....? Aku tanpa sadar telah membuat kesalahan." Batin Ye-jin sangat menyesalinya.
Akibat demam dialaminya, tingkahnya berubah jadi aneh dan sulit ditebak. Tetapi dia melupakan kejadian sebelumnya saat dilanda demam.
Sejak kecil dia selalu mengalaminya seperti itu jika demam.
Ma-roo ikut menyusul Ye-jin, namun dia terkejut menemukan Ye-jin terbaring lemas di tanah. Dan lebih gawat lagi, para mafia ada bersamanya.
"Nona Hong?!"
"Akhirnya kau muncul juga ya, dimana tuanmu?"
Parahnya, ketua mafia itu sudah berani menaikkan sepatu kotornya ke atas perut Ye-jin.
"Singkirkan kakimu dari nona Hong, Sewon!" Seru Ma-roo.
__ADS_1
"Aku memintamu panggil tuanmu segera!!" Teriak pria dipanggol Sewon.
"...atau wanita ini akan ku habisi." Sambil menginjak erat perut Ye-jin.
Ye-jin menahan rasa sakit itu dengan wajah datarnya, Ma-roo tak tahan itu segera memanggil Yong-suk didalam.
Yong-suk heran mengapa Ma-roo kembali begitu cepat, kali ini wajahnya sangat panik mendekati Yong-suk lalu membisikkan sesuatu padanya.
Yong-suk terkejut, wajahnya sudah panik ketika mendengar Ye-jin di tangan para mafia.
Bagaimana ini bisa terjadi ?
"Apa yang terjadi?" tanya Meri.
"Tolong kalian tetap di sini, para mafia itu sudah datang jadi...serahkan saja pada kami." Jawab Ma-roo.
Dia bergegas mengajak Yong-suk keluar berhadapan dengan para mafia itu. Meri dan Mika juga khawatir dengan mereka.
"Mereka baik-baik saja kan?" Meri adalah orang yang paling cemas.
"Bagaimana saja kita mengintipnya?" Saran Mika.
"Ide bagus."
Yong-suk dan Ma-roo akhirnya keluar menampakkan dirinya dihadapan para Mafia, namun yang membuat keduanya panik adalah melihat kondisi Ye-jin tak berdaya di tanah.
Mata Yong-suk melotot panik melihat tatapan Ye-jin sangat kosong dengan tubuhnya tak berdaya untuk bergerak.
"Tuan Ju sangat lamban, kapan kau akan menyerahkan tempat itu?!" Teriak Sewon.
"Kami tidak akan pernah menyerahkan tempat ini." jawab Ma-roo.
"Aku tidak bertanya padamu!" Protes Sewon.
Kemudian, dia perlahan mendekat tatap Yong-suk yang cacat.
"Astaga, aku hampir lupa...,tuan ju itu cacat."
Tatapan Yong-suk jadi lebih tajam ke arah Sewon, dia sudah tak tahan lagi mendengar omong kosongnya. Tangannya mengepal erat itu memukul wajah Sewon sampai terjatuh.
πππ
Pipi sewon bengkak hingga bibirnya berdarah dan hidungnya mimisan, dia terkejut pukulan Yong-suk begitu kuat.
Sewon bangkit sambil meludah, lalu membalas pukulannya ke arah Yong-suk.
"Cihhh, dasar cacat sialann!!!"
Dan Yong-suk pintar itu menendang kaki Sewon hingga terjatuh lagi. Anak buah Sewon heran, sejak kapan kaki lumpuh itu sangat kuat menendang ketua mereka.
Sewon kesal melihat giginya copot akibat jatuh, saat dia mencoba bangkit membalasnya lagi. Sebuah sepatu menginjak kepalanya agar mencegahnya berdiri.
Dan orang itu adalah Yong-suk, Sewon tak percaya pria cacat itu tidak lumpuh lagi.
"Aarggghhhh...." Sewon kesulitan menggerakkan kepalanya.
__ADS_1
Saat ini Yong-suk sangat marah karena mereka telah menyakiti istrinya.
Sementara anak buahnya juga heran, bahkan Mika dan Meri yang mengintip juga terkejut melihat Yong-suk berdiri.
"Tuan Ju berdiri?" Ucap Meri heran.
"Tidak mungkin....apa aku sedang bermimpi?" Sambung Mika.
"Tunggu apalagi kalian, serang dia termasuk wanita ituuuuu!!!" Teriak Sewon memberi perintah pada anak buahnya.
Ma-roo tidak akan membiarkan mereka menyakiti Ye-jin, dia berlari dan menyerang mereka dengan pukulannya.
Yong-suk semakin marah, sewon sudah berani mencari mati.
"Kau...i-ingin mati?" Kata Yong-suk sambil menginjak kuat kepala sewon.
Suara Yong-suk perlahan kembali, walaupun terdengar gagap.
Sewon dibuat tak berkutip, wajahnya sudah tenggelam ke tanah hingga sulit bernafas dan pingsan.
Kemudian Yong-suk menatap Ye-jin, kali ini airmata istrinya berlinang diwajah. Salah satu tangannya berusaha menggapai Yong-suk.
Namun, tangan Ye-jin diinjak salah satu anak buah Sewon. Yong-suk berlari dengan kemarahan bercampur sedih ke arah istrinya, siapapun yang menghalanginya maka dia akan menendangnya satu-persatu.
Ma-roo mengerahkan semua kekuatan ototnya bertarung mengalahkan anak buah Sewon.
Yong-suk akhirnya berhasil menghampiri istrinya, Ye-jin tetap masih berusaha menggapai Yong-suk.
"Y-ye..jin?" Panggil Yong-suk sedih.
Dia menggenggam tangan istrinya, kemudian mengusap airmatanya dengan lembut.
Suhu Ye-jin perlahan normal. Tidak hanya itu, sentuhan suaminya dapat menyembuhkan kepalanya yang sakit baik rasa sakit yang ia rasakan.
Wajahnya kaku menatap Yong-suk pria yang unik, dan herannya lagi suaminya berlari ke arahnya dengan kedua kakinya.
Dia sudah bisa berjalan?
"Siapa pria ini...?" Batin Ye-jin masih menatap heran suaminya.
Dia masih bingung siapa Yong-suk sebenarnya, tidak hanya mengembalikan suhunya. Yong-suk ternyata mampu menyembuhkannya.
Ye-jin sulit berkata-kata menatap suaminya menggendongnya.
"Y-yong-suk..?" Panggilnya.
Langkah Yong-suk berhenti, kemudian menatap istrinya.
"Makhluk apa kau sebenarnya?" Tanya Ye-jin.
"Kau seperti malaikat ?"
Bibir Yong-suk tersenyum, kemudian mengecup kening istrinya, wajah Ye-jin memerah lalu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Dia membuat ku ingin tau...siapa pria ini sebenarnya?" Batin Ye-jin.
__ADS_1
******