
.
.
.
.
.
Sebulan sudah berlalu . . .
Butuh waktu yang lama bagi Ye-jin terbaring di kasur dalam keadaan tak sadarkan diri. Semuanya khawatir dan menunggu kesadarannya kembali.
Terdengar suara kecil nafas terengah-engah lembut, bibirnya terbuka
"Y-yong...s-suk..." Suara kecilnya mulai datang.
Mata besarnya terbuka setengah itu memutar bola matanya ke kanan dan kiri mencari seseorang.
"Y-yong-suk..."
Bibirnya kecilnya memanggil pemilik nama itu. Tak ada tanggapan maupun kehadiran seseorang.
Dia tak menyerah memanggil pemilik nama itu.
"Y-yong...suk."
Ketika menggerakkan jari-jemarinya itu merasa tangan seseorang menggenggam erat diisi penuh kehangatan.
Kepalanya memutar ke samping, rambut hitam perak dan punya wajah tampan berkulit putih bak malaikat, ada tahi lalat menempel dibawah matanya yang saat ini tenggelam dalam tidurnya.
Ye-jin bernafas lega menemukan suaminya tertidur lelap di genggaman tangannya. Terasa sekali kehangatan mengalir ke tubuhnya.
Meskipun hanya tersisa rasa sakit masih tertinggal di perutnya dan kedua pahanya, itu sepenuhnya belum pulih. Tubuhnya masih terasa berat oleh luka yang tak henti meringisnya.
Suara ponsel di meja tiba-tiba berdering itu mengetuk kedua telinga Yong-suk hingga setengah bangun.
Tangannya meraih raba mematikan suara ponsel mengganggunya.
Itu suara alarm milik ponselnya.
"Y-yong-suk..." Panggil Ye-jin.
Matanya cepat terbuka sadar setelah mendengar suara istrinya memanggil namanya, wajahnya terpaku ke arahnya dengan perasaan lega dan bersyukur...
Bahwa dia masih diberi kesempatan melihat istrinya telah kembali.
"Ye-jin..." Saking leganya, dia perlahan menangis kecil mengggenggam jari-jemari istrinya.
Bibir pucat merah muda Ye-jin tersenyum kecil merasa salah menatap suaminya begitu mencemaskannya.
"Lagi-lagi...aku membuatmu khawatir." Dia mengakui ini kesalahannya telah membuat suaminya khawatir lagi.
Sudah berapa kali dia telah mencemaskan banyak orang? Mungkin itu terjadi berulang-kali sampai tak sadar bahwa dia telah melewati semua itu.
"Mungkin...setengah benar, tapi aku...sedikit ceroboh membiarkan mu pergi sendirian menyelesaikan urusan kantor."
Ye-jin terkekeh kecil, mengingat kejadian itu lagi. Dia juga ceroboh karena tidak waspada di sekelilingnya, bahkan sempat melupakan ada sejumlah banyak orang ingin menyakitinya termasuk Yeon-dul Mang.
Dia sepertinya tenggelam oleh aktivitas sehariannya.
"Yahh...ini kesalahan ku juga karena menyembunyikan luka ku darimu, aku benar-benar__"
Bibirnya tertutup rapat ketika sadar mendengar suara suaminya sepertinya telah kembali. Perlahan tersenyum lega nan bahagia, salah satu tangannya menyentuh bibir tipis suaminya.
"S-syukurlah....syukurlah...suaramu kembali."
Yong-suk menebarkan senyum tipisnya sambil meraih jari mungil istrinya masih menyentuh bibirnya.
Keduanya tenggelam suasana kehangatan, sampai Ma-roo dan bibi masuk menemukan mereka.
"Nona Hong, ku dengar kau__β bibir bibi tiba-tiba terjeda menyaksikan dua orang itu.
__ADS_1
Semuanya terdiam.
Mata ma-roo tidak bisa berhenti berkedip.
Heh?
"Sepertinya kita salah kamar!" Bibi segera menghantam tutup pintunya.
Begitu pintunya tertutup, Ye-jin langsung menepis tangannya menjauh. Kemudian menarik selimutnya menutup wajah merahnya.
Ini memalukan sekali, lagi-lagi mereka terciduk.
Sudah dua kali bibi menangkap mereka secara tidak sengaja.
Suasana hening itu jadi terasa canggung, wajah Yong-suk ikutan memerah dan tak berani buka bicara.
Kepalanya tertunduk gugup menyembunyikan wajah tersipu malunya.
"Aku mengerti bahwa aku menyukainya, tapi...entah kenapa terciduk dua kali itu rasanya ingin menghilang saja."
"Ini memalukan sekali." Batinnya.
Selimut Ye-jin sedikit terbuka itu mencoba bicara dengan suaminya.
"A-anu...t-tolong l-lupakan...t-ta-tadi..." Gagapnya.
"A-anggap s-saja...ti-tidak terjadi a-apa-apa di antara...k-kita." Yong-suk masih memasang wajah yang sama.
Rasa canggung belum mereda itu membuat mereka ragu jika salah satunya keluar maka harus berhadapan dengan bibi dan Ma-roo yang sepertinya terjebak di situasi tidak tepat.
"Ahahah...k-kita salah k-kamar ya." Bibi juga merasa tidak nyaman.
Begitu juga dengan Ma-roo menutup mulutnya, wajahnya memerah.
"K-kau..b-benar."
Bibi tertawa pahit, "ahahaha...k-kira-kira di-di mana yahh kamar n-nona H-hong?"
"M-mungkin di-di s-sebelah sana...a-ayo p-pergi."
"Kau ingat...di saat SMA itu?"
Pertanyaan Yong-suk, Ye-jin terdiam sesaat lalu membuka selimutnya.
"...? Tentang apa?"
"Aku janji, jika aku sukses...aku akan mencarimu tak peduli apapun yang menghalangi ku..."
"Yang terpenting aku bisa menemukanmu, dan saat itu...aku akan membebaskan penderitaanmu...
....tidak hanya itu aku akan menikahimu dan membuatmu bahagia."
Yong-suk sangat ingat kalimat yang diucapkannya saat itu.
Kedua mata Ye-jin menyipit mendengar kalimat yang tak familiar itu baru saja keluar dari bibir Yong-suk.
Ingatan itu masih samar baginya, tapi perkataan tadi sungguh mengingatkan pada seseorang.
"Seseorang pernah mengatakan kalimat yang sama sepertimu...entah kenapa itu membuat ku ter__"
Tiba-tiba ekspresinya tercengang menyadari perkataan tadi. Matanya terbuka gemetar sambil menatap suaminya.
Huh?
"Itu kau...? Suk-kun?"
Yong-suk sedikit canggung mengakuinya, "m-maaf...a-aku terlambat menyadarinya."
"I-ingatan ku...s-sedikit r-rusak, jadi...ingatan itu tiba-tiba muncul di kepala ku."
"Tolong maafkan aku."
"Tapi, kau sudah bekerja keras untuk menyelamatkan ku...dan sekarang aku sudah ada di sisimu." Ucap Ye-jin
__ADS_1
Wajah Yong-suk sedikit memerah setelah mendengarnya. Matanya kemudian tertuju pada istrinya.
"Kalau begitu__β dia sedikit ragu mengeluarkan kata-kata itu.
" Aku ingin membahagiakan mu dengan rasa cinta ku padamu."
Kalimat itu sangat tidak cocok mengatakannya di situasi ini. Jadi, dia memilih merapatkan bibirnya.
Dan mengalihkan perkataan lain.
"....Aku ingin tau tentangmu agar aku bisa memahamimu lebih dalam."
"Aku juga." Ye-jin tersenyum tanpa rasa ingin tau apa yang ingin dikatakan sebenarnya oleh suaminya.
Meskipun begitu, perasaan leganya terlihat bahwa dia senang dapat bertemu Yong-suk.
.
.
.
Di sisi lain, Ma-roo dan Bibi masih memikirkan hal yang di saksikan tadi. Keduanya berjalan di koridor,
"Apa bibi melihatnya?" Ini pertama kalinya dia menyaksikan nona Hong dan Yong-suk hampir tenggelam oleh rasa cintanya.
"Pura-pura saja kita tidak melihatnya." Wajah bibi masih belum berhenti memerah.
"Tapi itu sudah terlanjur."
"Aku tau itu, tetap saja ini memalukan."
"Memalukan?" Bingung Ma-roo.
Bibi jadi ragu mengakuinya, "Y-yah...s-sebenarnya ini kedua kalinya aku melakukan hal yang sama." Gagapnya.
Mata melotot Ma-roo ke arah bibi, "What?? Dasar penguntit!" Ledeknya.
"J-jangan s-salah paham, a-aku secara tidak sengaja." Bibi jadi benci menceritakannya, dia tetap bersikeras bukan seorang penguntit.
"Tapi setidaknya bibi mengetuk pintu dulu." Saran Ma-roo.
Langkahnya terhenti di depan pintu ruangan seseorang yang tak familiar baginya.
"Apa yang terjadi dengannya?"
"Hm?" Bibi ikut melihatnya.
"Oh, maksudmu si rubah licik itu ya..."
"...ku dengar dari dokter lain, dia merupakan korban insiden ledakan lantai 7 RS Cell."
Ma-roo tidak tau, kalau Ying-xi juga korban insiden ledakan itu. Tapi bagaimana bisa itu terjadi padanya?
Seingatnya, Yong-suk pernah menceritakan bahwa Ying-xi bekerjasama dengan Yeon-dul untuk menghancurkan hidupnya demi meraih kekayaannya.
"Ah, satu lagi...dia mengalami luka bakar dibahu selangkangnya dan pipi wajahnya."
Ma-roo tersenyum tipis yang terukir sinis, mendengar kabar itu. Ying-xi pantas merasakannya.
"Ayo kembali ke ruang nona Hong, sepertinya air panas sudah mereda dingin."
Dia membalikkan langkahnya menuju ke ruangan Ye-jin. Bibi mengejar langkahnya dan berjalan di sampingnya.
"Kau benar, jika mereka menanyakannya tolong berpura-puralah kita tidak melihatnya."
"Oke."
*****
.
.
__ADS_1
.