ISTRI CEO YANG CACAT

ISTRI CEO YANG CACAT
EPISODE 10


__ADS_3

" Jangan sakiti tuan ku.."



Melewati hal yang menegangkan itu hampir membunuh diri ku sendiri. Kaki ku bahkan gemetar, sepertinya ini pertama kalinya bagi ku mengubah karakter ku sendiri.


Sejak kapan karakter dingin itu tercipta dalam diri ku.


Aku membasahi wajah ku dengan air lalu mengusapnya beberapa tisu, kemudian menatap diri ku dihadapan cermin.


"Ini bukan aku...." Sedih ku.


"Penampilan ini hanyalah perisai." Tambah ku.


Bisa dibilang aku sedih pada diri ku sendiri karena harus menjadi orang yang berbeda. Tapi bukan berarti aku membencinya.


"Sepertinya aku harus kembali."


Saat kembali, langkah ku terjeda menyaksikan kemarahan Ying Xi pada tuan Ju.


Apa yang membuatnya marah sampai kertas berhamburan di sekeliling tuan Ju?


"Apa kau sudah merencanakannya dari semalam?" Tanya Ying xi.


Tuan Ju tak punya kesempatan menulis perkataannya, akibat Ying Xi muak dan mengambil buku dan pulpen darinya.


"Aku muak dengan lelucon ini!" Sambil merobeknya lalu menginjak-injaknya.


Sikapnya sudah keterlaluan, aku tak bisa tahan lagi. Aku menghampirinya.


kemudian menarik kasar tubuhnya ke dinding.


"Jaga sikapmu."


Ying Xi terkejut lalu kesakitan merasakan belakangnya dihempaskan ke tembok.


"Kau...tiada habisnya menggali keserakahanmu sendiri." Ucap ku benar-benar marah.


"Kau siapa, hah?!" Teriaknya, lalu menepis tangan ku darinya.


"Beraninya ya, tiba-tiba datang main kasar!"


Aku tidak tau apa yang dipikirkan wanita itu, tapi yang jelas dia tidak menyadari bahwa dialah terlebih dahulu berulah.


"Main kasar? Lihatlah dulu...siapa yang terlebih dahulu melakukannya."


Ini baru pemanasan, Ying Xi kesal itu mencoba menyerang ku.


"Aku tidak tau, apa tujuanmu... Tapi setidaknya kau masih berada di gedung Asosiasi Departemen, cctv juga ada dimana-mana dan mereka bisa melihat keserakahanmu."

__ADS_1


Tangannya terdiam tepat dihadapan wajah ku setelah mendengar peringatan ku.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Sahut Ying Xi.


Aku terdiam sejenak dan berpikir, ternyata dia tidak mengenali ku dengan penampilan ku seperti ini.


Itu melegakan sekali, sampai tak ku sadari bibir ku sudah tersenyum sinis.


"Aku ingin tau, siapa rubah licik yang telah mengkhianati tuan ku? Begitu menemukannya, aku akan memenggal kepalanya lalu memisahkan dari tubuhnya agar jiwa itu tidak akan tenang dan akan berkeliaran minta tolong." Kata ku.


Ying Xi sedikit kaku, matanya bahkan mengalihkan dari ku. Aku curiga,


"Kenapa?..." Tanya ku menatapnya.


"Apa itu kau...?" Tambah ku.


Dia tertegun kemudian menatap ku kembali.


"Aku baru ingat wajahmu, kau adalah wanita berhati arogan tadi."


Dia menghindari dari ancaman ku.


"Kau boleh menyebutnya seperti itu, tapi kau orangnya pengecut menghindari peringatan ku."


Akhirnya bibirnya gemetar, mulai tak sanggup melawan bicara.


"Cih! Dasar sombong!" Dia benar-benar kalah tandingan dari ku.


"Hong Ye Jin," Ucap ku.


Langkahnya terhenti tak menoleh.


"...salam kenal, nona Ying Xi." Tambah ku.


Dia hanya menghela kesal lalu pergi begitu saja.


Semua udah kelar, aku mendekati tuan Ju.


"Kau baik-baik saja? Maaf, aku meninggalkanmu begitu lama."


Dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum, bahwa dia baik-baik saja.


"Syukurlah, kalau begitu...ayo pergi."


Namun, rasa khawatir ku masih belum berhenti terhadapnya.


"Beneran kamu gak apa-apa?" Tanya ku lagi di mobil.


Dia sedikit tertekan menatap ku, matanya mengalihkan ke arah lain dan kedua tangannya terlihat gemetar.

__ADS_1


Tapi dia berusaha menyembunyikannya dari ku.


Aku melihatnya dan berpura-pura mencari sosok Ma-roo yang ternyata belum kembali ke tempat duduknya.


Tuan Ju menatap ku lagi, dia ingin mengatakan sesuatu. Sayangnya buku dan pulpen sudah rusak akibat ulah Ying Xi.


"Kau bisa mengatakannya di Hp mu." Ucap ku.


Dia melakukannya. Walaupan jari-jemarinya masih gemetar.


(Aku hanya sedikit tertekan.)


Tentu saja dia tertekan, tanpa buku dan pulpen itu dia tak bisa berbuat apa-apa. Aku bahkan sempat meninggalkannya sendirian.


Dia seperti bayi menangis yang di tinggalkan ibunya sebentar.


Tubuh ku bergerak mendekat, lalu kedua tangan ku merangkul bahunya dan memeluknya agar dia tetap tenang.


"Maaf, ini salah ku."


Dia mematung, tak ada balasanpun dari Hpnya.


Aku tidak menyadari posisi ku saat ini, diriku tenggelam oleh kehangatan tubuhnya.


Tapi beberapa saat setelahnya, mata ku membulat sadar kemudian ke tempat duduk ku kembali.


"M-maaf!" Teriak ku malu.


Suasanapun jadi canggung, Ma-roo pun muncul menatap kami.


"Oh, kalian menunggu ku dari tadi?"


"I-iya, kami...menunggumu..kau sudah selesai?" Gaya bicara ku juga canggung.


"Sudah, lalu kemana kita akan pergi?"


Aku bingung menjawabnya, kemudian menatap Tuan Ju dan mencobanya menanyakan padanya.


(Pemakaman)


Ma-roo dan aku terkejut.


"Pemakaman?"


Emangnya siapa yang meninggal hari ini ?


Kerabatnya? Keluarganya?


Entahlah....

__ADS_1


********


__ADS_2