
.
.
.
.
Kembali di RS Cell , Yeon-dul mondar-mandir kebingungan apa yang harus dilakukannya. Warisan tahtanya sudah ditelan api dan bawahannya juga sudah tiada.
Hanya tersisa dirinya bersama bodyguard pribadinya.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Yo, mantan iblis." Sapa Yong-suk mendorong dirinya ke arah jendela kaca masuk ke ruangan itu.
"Si-siapa kau?!" Yeon-dul terkejut menemukan pria bertopeng masuk ke ruangannya dengan cara yang tak sopan.
Yong-suk menarik pelatuk pistolnya, tanpa pepatah kata menembak langsung tepat mengenai otak bodyguard Yeon-dul.
Otaknya berlubang dan jatuh tewas, Yeon-dul sudah ketakutan aksi pria bertopeng sangat mengerikan.
Dia seperti, malaikat maut.
"...!.."
"Si-siapa kau..?!"
"Kau menanyakan hal yang sama seperti bawahanmu."
Yong-suk tanpa belas kasih mengambil sebilah pisau memotong tangan Yeon-dul yang patah.
Darah muncrat seperti sungai mengalir cepat ke lantai, Yeon-dul meringis kesakitan kehilangan tangannya.
Aaaagghh aaggh aaaahhgghh!!!
Tidak ada wajah peduli atau sedikit memancarkan aura kesedihan, semua itu diliputi kemarahan.
"T-tangan ku..! Aaghh!"
"Apa rasanya sakit?" Tanya Yong-suk berdiri mendekatinya.
Yeon-dul menggertak gigi meringis sakit bagaikan rasa sakit membelahi tubuhnya. Bola matanya sudah mau keluar harus mendapatkan rasa sakit yang luar biasa.
Gghhh!!
"Apa kau puas mencabuli wanita ku? Apa kau senang melucuti wanita ku? Apa kau cukup bahagia mempermainkan wajah polosnya dengan aura iblis mu?"
Tangan Yong-suk menarik kepala Yeon-dul bertatap wajah padanya.
"Hei, kau begitu luar biasa menyakiti wanita ku."
Gghh!
"Si-siapa kau? A-apa yang kau b-bicarakan?"
Mata Yong-suk melotot penuh kemarahan membara, pertanyaan Yeon-dul sangat membuatnya ingin mencincang tubuhnya sampai dibuat mengerti.
seberapa besarnya penderitaan Ye-jin terhadapnya.
"kau masih bertanya seolah tidak berbuat dosa! Kau tidak menyadari perbuatan apa yang sudah kau lakukan!!"
"Kau...!! KAU SELAMA INI SUDAH MENGHANCURKAN HIDUP WANITA KU!!! ITU MEMBUAT KU MARAH!!!!"
Saking tak terkendali kemarahannya, dia menekan erat ke leher Yeon-dul.
Aahhgghh! Yeon-dul kesulitan bernafas dipenuhi rasa takut, panik menjemput kematiannya yang sadis-tragis, dia perlahan menyadari siapa pria itu.
"K-kau...t-tolong..agghh..m-maaf..agghh!"
Sudah terlambat, Yong-suk masih menggenggam pistolnya itu menembak kepala Yeon-dul hingga menembus otaknya dan berlubang.
Yeon-dul pun akhirnya tewas dengan kepala yang berlubang, Yong-suk memasang beberapa bom untuk meledakkan ruangan itu.
Semua sudah terpasang, dia hanya perlu memencet tombolnya yang tersimpan di saku celananya.
__ADS_1
Langkahnya mulai meninggalkan ruangan itu. Saat keluar, secara tak sadar ia berpas-pas lewat dengan si rubah licik, ying-xi.
Ying-xi sempat melirik tatapan pria bertopeng hitam, tatapan yang sangat familiar. Jadi langkahnya terdiam sesaat menoleh ke belakang dan menatapi punggung belakang pria tadi.
Entah kenapa itu mengingatkan sosok Yong-suk.
"Itu tidak mungkin....Apa aku sedang berhalusinasi?" gumamnya.
Dia tidak begitu penasaran, saat ini dia harus bertemu Yeon-dul karena diminta menemuinya ingin membicarakan siapa Ye-jin.
Hanya Yeon-dul dan bawahannya mengetahui identitas Ye-jin. Yong-suk juga tak ingin orang-orang menyebut nama itu lagi.
Nama itu merupakan hantu bagi Ye-jin.
Hanya tinggal beberapa langkah lagi ruangan Yeon-dul terlihat. Dalam hitungan ketiga...
Dua...
Satu...
Yong-suk menekan tombolnya, hingga lantai 7 tepat di ruangan Yeon-dul meledak.
BAMMNNN!!! π₯
Ma-roo menjemput Yong-suk di depan, dia juga menyaksikan ledakan sadis di RS tepat di atasnya.
Dia tidak pernah melihat Yong-suk akan marah sebesar ini.
Yong-suk sudah terlihat itu menghampirinya.
"Apa kita harus pulang ke rumah?"
dia melepas topengnnya, sedikit menghela kecil.
"Antar aku ke rumah sakit kembali." Suaranya masih terdengar dingin masuk ke mobil.
"Baik."
.
.
.
Dia masih terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri.
Yong-suk sudah hadir menemani istrinya, melihat wajah berkulit putih sawo itu masih terlihat sekali kesedihan dan penderitaan istrinya.
Sebenarnya perasaan api membara ini sudah lama terpendam, itu dimulai masa SMA nya. Berteman dengan Ye-jin sampai dia tau kebenarannya bahwa Ye-jin sudah menderita saat itu.
Baru kali ini, dia melampiaskan kemarahannya seperti iblis melahap mangsanya tanpa belas kasih.
Ini masih belum seberapa, masih ada orang yang berhati licik ingin menyakiti istrinya.
"Siapapun menyakitimu, aku akan mencabik-cabik tubuhnya sampai tidak bisa bangkit menyakitimu lagi."
"Aku tidak tahan melihat wajah itu masih membawa penderitaan."
Wajahnya tertunduk sayu, merasa bersalah harus melakukannya.
"Maafkan aku..., hanya dengan ini yang bisa membuat ku tenang bersamamu."
.
.
.
Di sisi lain, bibi baru saja menyaksikan berita masuk di kantor medisnya. Wajahnya begitu kaku melihat tindakan Yong-suk menghancurkan Mang Contraction sangatlah mengerikan.
Dia hampir memuntahkan isi perutnya, menutup mulutnya adalah cara terbaik untuk bertahan.
Yong-suk seperti harimau memburu mangsa dalam 10 detik saja.
"Aku tidak menyangka tuan benar-benar semarah ini."
__ADS_1
Sekujur tubuhnya mulai menggigil ketakutan, akan sangat berbahaya jika mengkhianati tuannya apalagi melukai istrinya sedikit pun.
Juga tak berani mengungkapkan, siapa dalang kecelakaan insiden malam itu.
Beberapa berita sudah tersebar kemana-mana dan tak ada informasi sedikit pun petunjuk siapa pelakunya.
Kecelakaan malam itu seperti bunuh diri,
Seolah mengajukan pengunduran diri.
.
.
******
..
..
..
..
entah kenapa, tuan Ju jadi lebih mengerikan. aku mengerti ini hanyalah alur cerita, tapi membayangkan saja....
huhuhuhuhhhhh ngeriiii.
"padahal kau sebagai author yang menentukan alurnya, mengapa kau begitu bodoh?" dingin Yong-suk.
hehehehehhh... emang iya yahhh
"tapi...author jahat sekali membunuh karakter ku...hiksss.." ucap Sewon menangis berdarah setelah membaca naskahnya.
aku jadi ragu setelah menentukan alurnya, hehehehe...
m-maaf.
"lu punya peran hanya sebatas tamu." kata Bibi.
"WHATT? apa itu benar?"
ehhhrr...e-entahlah, tapi ku rasa begitu.
ngomong-ngomong kemana nona Hong?
"kau meletakkan karakter ku yang harus terbaring di kasur dalam beberapa hari." tegur Ye-jin.
"yang sabar..." sahut Ma-roo menenangkan sang nona nya.
"kalau bisa tau...ini sudah masuk chapter 40 bukan?" tebak Ma-roo.
itu benar, cerita ini sudah melakukan perjalanan jauh.
"apa perlu tembus chapter 70?"
"cetak ranking."
"aku tidak setuju, cetak ranking pembaca gimana?"
"bagaimana dengan ranking penulisan?"
"vote?"
"dukungan?"
ehhrrr....sepertinya malah jadi ribut deh heheheh...
ku mohon dukungan kalian yahhh.
"Oiii! Author, kapan kau menyelesaikan bagian ku?!" teriak Ying-xi.
be-bentarr!!!
terima kasih sudah membacanya.πππππππͺ
__ADS_1
.