
.
.
.
Ye-jin menutup matanya dengan erat menyadari tangan ibunya Ying-xi ingin menampar wajahnya. Dan suara keheningan terjadi sesaat, dia perlahan membuka matanya dan terkejut melihat tangan suaminya menahan pergelangan tangan ibunya Ying-xi.
"Hei, singkirkan tangan kotormu bu."
Ibu Ying menggertakkan giginya kesal, "jangan menghalangi ku!"
"Ibu Ying, tugas seorang ibu adalah mendidik anaknya dengan benar. Bukan mendukung anaknya berbuat sesuka hatinya setelah apa yang dilakukannya." Tegur Ye-jin.
Yong-suk melepaskan tangan ibu Ying, Ying-xi tiada henti curiga terhadapnya.
"Aku sangat ingat tatapan kemarahanmu yang sudah melenyapkan mang contraction."
Bibirnya tersenyum sinis, "memangnya kenapa...? Mereka pantas mendapatkan rasa sakit, dan kau...tidak bisa berbuat apa-apa menolong mereka."
"...karena kau merupakan beban hidup mereka."
Ying-xi tersentak kaget, "huh?...kenapa kau melakukannya?!"
"Bukan urusan mu." Yong-suk menarik lengan istrinya ajak pergi meninggalkan mereka terdiam di sana.
Melihat mereka pergi, Ying-xi mengepalkan tangannya dengan kemarahan bercampur kesal.
"Aku...aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, ingat itu!"
. .
Dibawah langit malam bersama keindahan kota Cell, Mijoo dengan tatapan kagum sangat menyukai kelipan kecil bersinar terang dilangit. Meskipun perasaannya sangat kacau, melihat pemandangan malam dari ketinggian itu menenggelamkannya keindahannya.
"....kenapa?"
"...kenapa kau membawa ku ke sini....Leo?"
Sosok Leo tampak santai menyandarkan bahunya ke tembok.
Bibirnya tersenyum khawatir memikirkan jawabannya,
"Y-yah...tapi kau menyukainya, bukan?"
Sebelumnya, Mijoo ingin tenangkan diri di rumah. Namun Leo mengantarnya malah membawanya ke gedung tertinggi Cell, Sky Tower. Dia jelas tidak takut akan ketinggian, jadi sangat aman mengajaknya ke tempat yang hampir bersentuhan dengan samudera langit biru.
Leo mendekat dan berdiri di samping Mijoo, dia mencoba berpikir kata yang baik untuk tidak menyakiti perasaan Mijoo.
"Sebenarnya aku__"
Bibir Mijoo terbuka cepat mengatakannya,ย "Maafkan aku."
Mata Leo terbelalak terasa pusing berputar. "Huh?...ah..eh..?
__ADS_1
Mijoo heran, " Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?" Sambil menyentuh dahi Leo.
Wajah Leo memerah, dia tak tahan itu menutup wajahnya dan menunduk malu.
"Heh?...Leo...?"
"Hyaaaaahaaaaa!!!!...bibir ku hampir keceploossss!!!" Panik suara hati Leo.
Dia mencoba tenang dan mengatur suaranya kembali.
"Ehhrrm...baiklah, uhm...bagaimana perasaanmu sekarang?"
Kepala Mijoo yang tertunduk sedikit terangkat, "uhm...aku tidak tau."
Leo menghela kecil, "kau tau...aku sedikit kecewa mendengar kenyataan yang selama ini kau hadapi, kau...kau berlebihan menyakiti perasaanmu sendiri..."
"...entah kenapa hatiku terasa sakit dengarnya."
Bola mata Mijoo terangkat menatap Leo di sampingnya.
"Maafkan aku, harusnya aku__โ
Leo membuka bibir dan akhirnya mengumpulkan keberaniannya.
"Mau gimana lagi, aku sudah terlanjur mencintaimu."
"Huh?" Mijoo terkejut hingga pipinya merah terasa panas.
"...jika terulang lagi..." Sambil mendekatkan wajahnya ke hadapan Mijoo.
"Aku tidak segan memakanmu hidup-hidup."
"Kalau begitu maafkan aku." Jawab Mijoo.
Mendengar Mijoo mengatakan maaf lagi, Leo menggertakkan giginya, saking kesal dia harus mengorbankan dahinya memukul dahi Mijoo.
"Aah! Adu-duhhhh!! Sakit-sakit-sakit!!" Jelas Mijoo kesakitan.
Sementara Leo menahan rasa sakit di dahinya tampak merah, tapi dia masih kesal.
"Sial! Berhentilah minta maaf..!"
Mijoo membeku sesaat dan bingung apa yang harus dikatakan selain "maaf"
"Aku mencintaimu, Mijoo." Leo mengatakannya sekali lagi.
Mata Mijoo berbinar kagum menatap Leo menebarkan senyum begitu lembut nan ramah bak malaikat, dia tal pernah melihat Leo seromantis ini.
Wajah Mijoo sedikit memerah dan sadar bahwa...
"Aku juga mencintaimu, Leo."
Keduanya mendekatkan dahi itu menebarkan senyuman, dan setelah beberapa saat mereka menatap satu sama lain hingga bibir mereka menyatu lembut dibawah langit malam.
__ADS_1
"Aku..."
"Aku akan menulis cintaku sendiri dengan Leo."
. .
Bibir Ye-jin tersenyum sadar, mengarahkan tatapan ke langit malam itu memperhatikan salah satu bintang ganjil yang akhirnya menemukan pasangannya.
"Syukurlah...."
"Ngapain di sana?" Suara Yong-suk datang dari belakangnya menemukan sosok istrinya mematung sesaat di depan jendela ruang tamu.
Ye-jin menoleh tatap suaminya masih mengenakan celemek hitam dapurnya.
"Oh, aku...hanya berpikir, apa malam ini hujan? Yahh...akhir-akhir cuacanya sangat baik."
"begitu....oiya, makan malamnya sudah siap."
"Iya!"
Sepasang suami istri itu menikmati makan malam bersama nan bahagia.
Bagaimana perasaanmu hari ini ?
.
.
Seminggu sudah berlalu, suami istri itu menghadiri perayaan acara diadakan restoran yang baru saja di bangun.
"Wahhh...ini restorannya, sangat bagus." Puji Ye-jin.
"Syukurlah, nona Hong menyukainya. Para pelanggan tidak sabar menantikan kenikmatan makanan di tempat ini." ucap Tuan Jwi.
"kalau begitu...mohon bantuannya tuan Jwi."
"Baik, serahkan pada saya tuan Ju dan Nona Hong."
.
.
.
.
dan sementara itu . . .
"Woi! dimana bagian ku!?" kesal bibi.
"yang sabar bi." Ma-roo hanya bisa menenangkan bibi.
******
__ADS_1