Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Akad Nikah


__ADS_3

Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan angka 9, detik-detik akad nikah yang sudah direncanakan akan dilangsungkan.


Rakha keluar dari kamarnya malam melangkah menuju tempat akad nikah yang sudah disiapkan.


Saat ini Raka berharap Dona tidak datang menghadiri acara akad nikah tersebut, agar dia bisa terbebas dari pernikahan ini.


semua tamu mulai gelisah karena mempelai wanita belum juga datang, sementara itu Rakha merasa senang di dalam hati.


Entah mengapa dia saja tidak menginginkan pernikahan itu.


Pada pukul 09.30 penghulu dan saksi sudah berada di tempat itu.


Lidya dan Laura terlihat puas, Mereka senang dengan gagalnya pernikahan Rakha dan Dona.


Itu artinya mereka masih bisa menikmati kekayaan Ayah tirinya.


"Di mana mempelai wanitanya?" tanya penghulu pada tuan Adhitama.


"Tunggu sebentar, Pak. Mungkin sedang di perjalanan," jawab tuan Adhitama.


"Baiklah kalau begitu kita tunggu setengah jam lagi," ujar pak penghulu.


Mereka pun kembali menunggu mempelai wanita.


"Rakha, kamu enggak hubungi Dona," bisik salah satu kerabat dekat dengan mereka.


"Nomornya tidak aktif, Bi," sahut Rakha santai.


Dia menjawab asal, karena saat ini Rakha sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Dona.


Dia tidak mau tahu alasan Dona yang hingga saat ini belum juga datang hingga saat ini.


Justru dia berharap wanita yang sudah 1 tahun menjadi kekasihnya itu tidak datang di acara akad nikah hari ini, dia sama sekali tidak memperdulikan harga diri dan kehormatannya, yang penting pernikahannya dengan Dona tidak terjadi.


Satu jam berlalu, penghulu pun kembali menanyakan keberadaan mempelai wanita yang sejak tadi tak kunjung datang.


"Tunggu sebentar lagi," pinta tuan Adhitama.


Lagi-lagi tuan Adhitama memohon pada pak penghulu agar menunggu mempelai wanitanya.


"Adhi, apalagi yang akan kami tunggu, sudah 1 jam kita menunggu tapi mempelai wanitanya belum juga datang," ujar Lidya protes.


Lidya tidak suka melihat sikap Adhitama yang seolah-olah memang berharap harta peninggalan ayah kandungnya jatuh ke tangan Rakha.


"Benar, Adhi. Sudah pasti wanita itu sibuk dengan urusannya yang lain," ujar Laura sambil melirik remeh ke arah Adhitama.

__ADS_1


"Cukup, ini pernikahan putraku, walau bagaimanapun, hari ini Rakha akan tetap menikah," ujar tuan Adhitama tegas.


"Kamu jangan terlalu berharap banyak pada wanita itu," ujar Lidya mengingatkan adik tirinya.


Adhitama menatap tajam ke arah Lidya, dia tidak suka mendengar perkataan kakak tirinya itu.


"Kamu kalau dibilangin itu didengarkan, nanti kamu akan menyesal sendiri," ujar Lidya kesal.


Pertengkaran antara saudara tiri itu pun disaksikan oleh para tamu yang ada di situ. Mereka hanya diam, dan tidak mengerti apa yang tengah terjadi di antara mereka.


Saat mereka berdebat, sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan kediaman Tuan Adhitama.


Semua mata yang ada di rumah itu pun beralih ke arah mobil yang baru saja terparkir di depan pintu utama kediaman Tuan Adhitama.


Mereka melihat sosok pria yang diperkirakan umurnya sekitar 50-an dan seorang wanita lebih muda dari si pria, pria itu terlihat dipapah oleh seorang pria bertubuh kekar, sedangkan si wanita melangkah mengikuti langkah suaminya.


Tuan Adhitama tersenyum saat melihat orang yang dinanti-nantikannya sudah berada di rumahnya.


"Baiklah, Pak Penghulu. Akad nikahnya bisa diselenggarakan sekarang juga." Tuan Adhitama meminta penghulu untuk memulai acara akad nikahnya.


Rakha menautkan kedua alisnya, dia tidak mengerti apa yang saat ini direncanakan oleh papanya.


"Ayo, kalau begitu," sahut Pak Penghulu.


Somad menghentikan langkahnya saat dia telah berada tepat di depan tuan Adhitama.


Sementara itu Siti memperhatikan dengan seksama rumah bagaikan istana itu.


"Tuan, bisakah saya bertemu dengan putri saya?" tanya Somad pada tuan Adhitama.


Terlihat pria itu memohon pada tuan Adhitama agar permohonannya dikabulkan.


"Selesaikan tugasmu sekarang juga," ujar tuan Adhitama tegas pada ayah Ayunda.


Dia tidak ingin memperpanjang masalah, karena saat ini dia ingin putranya menikah dengan Ayunda.


"Siapa mereka?" gumam Rakha di dalam hati.


Dia mulai bertanya-tanya tentang kehadiran kedua orang tua Ayunda.


Rakha menoleh ke arah papanya seolah-olah mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang terjadi.


Tuhan Aditama pun melangkah mendekati Putra satu-satunya.


"Rakha, kamu harus menikah dengan wanita yang telah papa pilihkan, hal ini papa lakukan karena kamu sudah Salah memilih calon pendamping hidup," ujar Tuan Adhitama tegas menjelaskan apa yang sebenarnya akan terjadi pada putranya.

__ADS_1


Rakha kaget mendengar apa yang diucapkan oleh papanya, dia pun semakin bertanya-tanya akan kehadiran 2 oran lusuh yang kini sudah berada di hadapannya.


"Apa?" sahut Rakha membesarkan kedua bola matanya.


"Siapa yang akan menikah denganku, Pa?" tanya Rakha tak percaya.


"Diamlah, setelah ijab kabul kamu akan mengetahui mempelai wanitanya," ujar tuan Adhitama dengan senyuman.


Rakha tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia terpaksa pasrah dengan keputusan yang telah diambil oleh papanya karena saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berdebat.


"Silakan, Pak penghulu," ujar tuan Adhitama pada penghulu yang sedari tadi menunggu untuk melaksanakan tugasnya.


Laura dan Lidya saling berpandangan, mereka tak menyangka keponakan tirinya itu akan tetap menikah setelah mereka membongkar jati diri wanita yang selama ini menjadi kekasih Rakha.


"Ayo kita mulai acaranya," ujar tuan Adhitama mendesak penghulu.


Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi.


"Baiklah, mati kita mulai acara pernikahannya." Penghulu pun mulai memimpin acara akad nikah meski sosok mempelai wanita tidak dihadirkan di sesi ijab kabul.


"Saya nikahkan putri saya yang bernama Ayunda Rahayu binti Abdul Somad dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar Somad dengan lirih.


Kondisi Somad yang saat ini masih sakit membuat penghulu meminta Somad mengulangi ucapannya.


Sementara itu dari lantai 2, Ayunda melihat sedih pada ayahnya yang kini sedang menikahkan dirinya dengan Rakha.


"Saya nikahkan putri saya yang bernama Ayunda Rahayu binti Abdul Somad dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai," ujar Somad dengan mulai lantang.


"Saya terima nikahnya Ayunda Rahayu binti Abdul Somad dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai," sahut Rakha dengan nada yang tegas.


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu.


"Sah," sahut si penghulu.


"Alhamdulillah," pesawat para tamu yang mendengarkan ucapan saksi.


Mereka bersyukur akhirnya prosesi pernikahan pun berjalan dengan lancar.


Penghulu memimpin para tamu untuk membacakan doa terbaik untuk kedua mempelai.


Setelah itu penghulu meminta Tuhan Adhitama untuk menghadirkan wanita yang bernama Ayunda Rahayu.


Tuan Aditama memberi kode kepada Erika untuk membawa turun Ayunda menuju tempat persesi akad nikah dilangsungkan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2