Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Bagaimana dengan Baim?


__ADS_3

"Apa? Lalu aku harus bagaimana?" tanya Ayunda bingung.


"Tuan Adhitama menyuruh saya untuk meminta Nona Ayunda tidur di kamar tuan muda," ujar Bi Nur menyampaikan perintah majikannya.


"Apa?" Ayunda semakin panik.


"Haruskah aku tinggal sekamar dengannya?" lirih Ayunda.


"Nona sebagai seorang istri, Nona harus tinggal di kamar yang sama dengan suami, Nona." Bi Nur menasehati Ayunda.


"Tapi, Buk. Tadi tuan muda Rakha menyuruh aku masuk ke dalam kamarku," ujar Ayunda menyampaikan apa yang dikatakan oleh Rakha tadi.


"Nona langsung saja ke kamar tuan, atau perlu aku temani?" tawar Bi Nur kepada Ayunda.


"Benarkah Bu Nur mau menemani aku ke kamar tuan muda?" tanya Ayunda ragu.


"Ayo, Nona. Saya tidak enak dengan tuan Adhitama, jika beliau tahu nona masih di kamar ini," ujar Bi Nur.


Akhirnya Ayunda mengangguk, lalu mereka keluar dari kamar itu dan melangkah menuju kamar tuan muda Rakha.


Tok tok tok.


Bi Nur mengetuk pintu kamar tuan muda, dan menunggu tuan muda membukakan pintu tersebut.


Tak berapa lama Rakha membukakan pintu kamarnya, dia menautkan kedua alisnya saat melihat pelayan yang ada di rumahnya berdiri di depan pintu kamar bersama wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


"Ada apa, Bi?" tanya Rakha.


"Maaf, Tuan. Saya mengganggu tuan, saya hanya ingin mengantarkan Nona muda yang tidak tahu di mana letak kamar tuan muda," jawab di Nur.


Rakha mangalihkan pandangannya ke arah Ayunda yang kini menunduk di hadapannya, dia memandang sinis pada wanita itu.


"Cih, tadi katanya mau tidur di kamarnya sekarang malah menghampiri aku di sini," gumam Raka di dalam hati.


"Oh, iya. Terima kasih ya, Bi," ujar Rakha.


Bi Nur tersenyum lalu dia pun meninggalkan Rakha dan Ayunda di sana. Ayunda masih saja menunduk karena dia malu dengan apa yang baru saja terjadi.


"Hei, bocah. kamu mau masuk atau berdiri saja di sana?" tanya Rakha dengan nada datarnya.


Akhirnya Ayunda pun melangkah masuk ke dalam kamar milik suaminya, setelah Ayunda masuk ke dalam kamar dia hanya berdiri di depan pintu dan mana tapi setiap sudut kamar tersebut.


Kamar Rakha lebih luas dari kamar yang ditempati oleh Ayunda biasanya, kamar itu memiliki nuansa putih sehingga kamar itu terasa nyaman dan bersih serta higienis.


"Sampai Kapan kamu akan berdiri di sana?" tanya Rakha lagi dengan nada kesal.

__ADS_1


"Pergi mandi, dan ganti pakaianmu," ujar Rakha lagi.


Raka baru saja selesai mandi, dia kini tengah mengenakan baju kaos dan celana santai.


Akhirnya Ayunda pun melangkah menuju kamar mandi, tapi saat dia berada di pintu kamar mandi, dia menghentikan langkahnya.


Gadis itu membalikkan tubuhnya lalu memperhatikan beberapa pintu lemari besar yang ada di dalam kamar tersebut.


Saat ini dia tidak tahu di mana pakaiannya disimpan oleh Bi Nur.


Rakha sedang asyik memainkan ponselnya, entah apa yang sedang dikerjakannya dengan benda pipih itu, lagi-lagi Ayunda mematung berdiri di depan pintu kamar mandi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini.


Entah ke mana dia akan mencari pakaiannya, dia takut melakukan hal yang salah jika membuka semua lemari yang ada di kamar tersebut.


Hampir 1 jam Ayunda berdiri di sana, ketika Rakha ingin keluar dari kamar, dia kaget melihat Ayunda Masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Woi, apa yang kamu lakukan di sana? Apakah kamu tidak mendengarkan apa yang Aku perintahkan padamu?" tanya Rakha semakin kesal melihat wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


Dia tidak menyangka bisa menikah dengan seorang gadis yang ceroboh serta dungu.


"Mhm, a-aku bi-bingung," lirih Ayunda dengan nada takut.


Gadis itu takut melihat sorotan tajam mata Sang suami yang seolah-olah ingin menerkam dirinya.


"Bingung kenapa?" tanya Rakha datar.


Dia benar-benar takut melihat sang suami yang menatapnya dengan tajam. gadis itu tidak sanggup menatap mata Sang suami di saat dia tengah berbicara.


"Huhft." Rakha menghela napas panjang.


Dia melangkah menuju lemari tempat pakaian Ayunda disimpan oleh Bi Nur, kebetulan tadi Rakha sudah melihat pakaian Ayunda yang sudah tersusun di dalam lemari miliknya.


"Di sini pakaianmu," ujar Rakha.


Setelah itu Rakha pun meninggalkan Ayunda seorang diri di kamar.


Dia melangkah keluar dari kamar, Rakha melangkah menuju ruang kerjanya.


Saat ini dia merasa tidak nyaman berada di kamar yang sama dengan wanita yang masih asing baginya.


Dia memilih untuk menyendiri terlebih dahulu di ruang kerjanya sembari memikirkan rencana apa yang harus dilakukannya untuk hidup bersama dengan wanita yang masih sangat asing baginya.


Ayunda masuk ke dalam kamar mandi, kali ini dia semakin kagum melihat kamar mandi yang ada di kamar suaminya.


Kamar mandi itu terlihat lebih mewah daripada kamar yang biasa ditempatinya.

__ADS_1


"Enaknya hidup menjadi orang kaya, kamar mandi saja lebih besar dari kamarku yang ada di kampung," lirih Ayunda berdecak kagum.


Dia pun membersihkan dirinya, mengenakan gaun pengantin seharian dia benar-benar merasa gerah, berharap dengan membersihkan diri akan dapat menghilangkan rasa lelah seharian menyambut dan kedatangan tamu.


Usai mandi Ayunda mengenakan kaos belang hitam putih, lalu dia menguncir semua rambutnya asal.



Meskipun dia melakukan hal itu secara asal-asalan, tapi dia masih terlihat sangat cantik dan imut.


Setelah selesai dia pun keluar dari kamar mandi, lalu dia melangkah duduk di atas tempat tidur.


Lagi-lagi Ayunda merasa kebingungan, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat berada di kamar sang suami.


Tak berapa lama dia bermenung, terdengar suara ponsel Ayunda berdering pertanda sebuah pesan dari aplikasi hijau masuk.


Ayunda pun mengambil ponselnya, lalu dia membuka aplikasi hijau yang biasa digunakannya untuk berkirim pesan dengan sang kekasih.


πŸ’Œ Baim


Hai...


Ayunda terpaku sejenak saat melihat sebuah pesan yang ada di layar ponselnya.


Seketika dia mengingat kenangan indah bersama teman sekelasnya itu yang mana sudah menjadi kekasihnya selama 2 minggu ini.


Dia bingung harus berbuat apa, Apakah dia tetap melanjutkan hubungan mereka atau harus menjauhi Baim mulai hari ini.


πŸ’Œ Baim.


Lagi apa? Kamu sibuk?


Lamunan Ayunda pun buyar saat mendengar bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya.


Ayunda semakin risau harus berbuat apa, dia terus mencoba untuk berpikir dan menimang-nimang apa yang harus dilakukannya saat ini.


Dia menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya, dia melangkah mondar-mandir di dalam kamar itu terlihat sambil berpikir.


Dia memikirkan cara untuk melanjutkan kehidupannya setelah ini.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Ayunda berdering pertanda panggilan masuk dari Baim.


Seketika Ayunda mulai gugup, dia semakin erat menggenggam ponselnya sambil menggigit bibir bawahnya semakin panik.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2