
Wajah Ayunda berubah warna merah, dia merasa malu dan tersanjung dengan apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya.
Sepanjang jalan Rakha tak melepaskan genggaman itu. Hal ini membuat hati Ayunda merasa berbunga-bunga dan bahagia.
Begitulah seorang wanita, sesakit apa pun luka yang telah ditorehkan oleh sang suami, dia akan membaik dengan perilaku hangat yang dilakukan sang suami meskipun perlakuan itu sangat sederhana.
Mereka sampai di rumah, Ayunda dan Rakha turun dari mobil, mereka masuk ke dalam rumah.
Rakha tak langsung mengajak Ayunda masuk ke dalam kamar, dia langsung mencari sosok papanya.
"Pa, papa!" teriak Rakha dengan nada bahagia.
Tuan Adhitama yang sedang bersantai di taman belakang heran mendengar suara riang putranya yang selama ini tak pernah sebahagia itu.
"Bi, di mana papa?" tanya Rakha pada Bi Nur yang tak sengaja melintas di hadapan mereka.
Bi Nur tersenyum melihat Rakha yang menggenggam erat tangan Ayunda, dia melihat pertanda baik terjadi di antara Rakha dan Ayunda.
"Tuan besar ada di taman belakang, Tuan Muda," jawab Bi Nur.
"Terima kasih, Bi." Rakha pun membawa Ayunda melangkah menuju taman belakang.
"Pa, papa, lihatlah! Aku sudah membawa Ayunda pulang," ujar Rakha bersemangat pada papanya.
Tuan Adhitama menoleh ke arah putranya.
"Apakah karena ini kami sangat bahagia?" tanya tuan Adhitama pada putranya.
"Iya, pa. Ayunda sudah kembali," seru Rakha.
"Mhm, syukurlah kalau begitu, jangan sakiti dia lagi," ujar tuan Adhitama lalu dia pun berlalu meninggalkan Rakha dan Ayunda.
Ayunda hanya tersenyum melihat ekspresi tuan Adhitama, sedangkan Rakha terlihat bingung, dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada diri papanya.
"Ya udah, yuk kita ke kamar. Habis ini siap-siap, aku akan menunjukkan sesuatu padamu," ujar Rakha.
Ayunda hanya bisa menautkan kedua alisnya, meskipun saat ini dia penasaran tapi dia akan menunggu apa yang akan ditunjukkan Rakha pada dirinya.
Mereka pun melangkah menuju kamar, sesampai di kamar, lagi-lagi Rakha memeluk erat tubuh istrinya, membuat Ayunda kaget dan sulit bernapas.
"Aku sangat senang bisa bertemu kembali denganmu," lirih Rakha.
"Tapi, jangan gini juga dong. Kamu bisa membuat aku mati karena tak bisa bernapas," bisik Ayunda.
Sontak Rakha langsung melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, aku terlalu bahagia," ujar Rakha.
"Ya udah, aku mandi dulu," ujar Ayunda.
Ayunda sudah rindu dengan suasana kamar ini, dia juga sudah tak sabar untuk menikmati suasana kamar mandi yang ada di kamar itu, selama tinggal di rumah Gayatri, dia hidup dengan sederhana, meskipun di sana juga memiliki kamar mandi yang bagus tapi dia lebih nyaman menikmati suasana bersih-bersih di kamar mandi yang ada di kamar mandi Rakha.
"Oke, deh," sahut Rakha.
Ayunda meletakkan tasnya di atas meja, lalu dia pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum itu dia telah mengambil pakaiannya terlebih dahulu.
Tak berapa lama setelah itu Ayunda pun keluar dari kamar mandi. Rakha menoleh ke arah Ayunda, dia pun melangkah menghampiri Ayunda.
Entah mengapa dia ingin sekali mendekati istrinya.
Ayunda melangkah mundur hingga mentok ke dinding.
__ADS_1
Rakha terus menatapnya dalam, tatapan itu sangat sulit di artikan.
"A-apa yang kamu lakukan?" tanya Ayunda.
Ayunda juga menatap Rakha, tatapan mereka kini mulai berbeda. Ada Arti yang mendalam di setiap tatapan itu.
"Kamu terlihat semakin cantik," lirih Rakha.
Rakha pun mengecup lembut kepala sang istri, hati Ayunda bergetar. Dia merasakan cinta yang mendalam pada sang suami.
"Mengapa kamu melakukan ini?" lirih Ayunda.
Ayunda takut perlakuan Rakha padanya membuat dia jatuh cinta.
"Karena saat ini aku telah menyadari bahwa kau sangat berarti dalam hidupku," jawab Rakha.
Lagi-lagi wajah Ayunda memerah dia, dia tersipu malu mendengar ucapan sang suami.
Sekian lama mereka bersama baru kali ini Rakha menganggap Ayunda sangat penting dalam hidupnya.
Wajah Ayunda semakin memanas, dia tak sanggup lagi menahan malu. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang ada di hatinya.
"Udah sore, sana mandi," ujar Ayunda pada Rakha sambil mendorong tubuh kekar Rakha.
Ayunda pun melangkah menghindari Rakha dan berusaha menutupi wajahnya yang bersemu merah menahan rasa malu.
Sesudah maghrib Rakha mengajak Ayunda keluar rumah, mereka berpamitan pada tuan Adhitama.
"Pa, aku mau ajak Ayunda ke Griya permata," ujar Rakha pada papanya.
Tuan Adhitama mengerti apa yang dikatakan oleh Rakha, dia mengangguk lalu membiarkan Rakha membawa menantunya.
Setelah itu Raka dan Ayunda pun keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil. Kali Ini Rakha membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Dia memperlakukan Ayunda bagai seorang Ratu.
"Aku bisa buka pintu sendiri," ujar Ayunda sebelum masuk ke dalam mobil.
"Lalu, apakah aku tidak boleh membukakan pintu mobil untuk istriku?" tanya Rakha.
"Mhm." Ayunda hanya bisa bergumam, dia tidak bisa lagi membantah sang suami.
Akhirnya dia pun masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman di sana.
Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam mobil, Raka menutup pintu mobil, lalu dia pun melangkah mengelilingi mobil dan masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi.
"Sebelum berangkat kita menggunakan sabuk pengaman terlebih dahulu," ujar Rakha sambil memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri.
Selama ini Raka tidak mempedulikan istrinya telah menggunakan sabuk pengaman atau tidak, Sejak hari ini dia sangat peduli akan keselamatan sang istri.
Ayunda hanya diam dia menerima semua perlakuan itu dengan senang hati, banyak perubahan yang telah terjadi di diri sang suami.
Rakha mulai melajukan mobilnya setelah memastikan istrinya duduk di dalam mobil dengan keadaan nyaman.
Rakha akan membawa istrinya makan malam di sebuah restoran mewah yang ada di kota Padang.
Dia melakukan ini sebagai pertanda permintaan maaf atas apa yang telah dilakukannya selama ini pada sang istri.
Tak berapa lama mereka pun sampai di restoran tersebut.
__ADS_1
Rakha memarkirkan mobilnya di parkiran restoran, setelah itu dia bergegas turun dari mobil. Dia pun membukakan pintu mobil untuk Ayunda.
"Kamu tidak perlu melakukan ini, aku jadi merasa aneh," ujar Ayunda merasa tidak enak hati pada Rakha.
"Mulai hari ini, kamu harus membiasakannya. Aku akan melakukan ini setiap hari, dan setiap waktu," ujar Rakha.
"Ish, jangan lebay, deh," sahut Ayunda.
"Udah, ayo, kita masuk!" ajak Rakha.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam restoran itu. Mata Ayunda terpaku melihat kemewahan restoran yang mereka kunjungi.
Dia berdecak kagum, karena seumur hidupnya baru kali ini dia masuk ke dalam restoran mewah.
"Ayo," ajak Rakha.
Rakha menarik tangan Ayunda mencari tempat yang nyaman untuk mereka berdua.
Tak berapa lama mereka duduk di tempat mereka, seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Selamat malam, Tuan, Nona," sapa si pelayan pada Ayunda dan Rakha.
Rakha dan Ayunda tersenyum membalas sapaan pelayan.
"Silakan, Tuan, Nona," ujar si pelayan sambil menyodorkan selembar menu pada mereka berdua.
"Kamu mau makan apa?" tanya Rakha pada Ayunda.
Ayunda hanya bisa menautkan kedua alisnya, dia tidak mengerti dengan makanan mewah yang ada di dalam menu yang dilihatnya saat ini.
"Aku tidak tahu mau pesan apa," jawab Ayunda bingung.
"Mhm, kamu tinggal pilih menu yang menurut kamu enak," ujar Rakha.
Rakha pun menjelaskan satu per satu menu yang ditunjuk Ayunda.
Setelah itu mereka pun memilih makanan yang menurut mereka enak.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, Tuan, Nona," ujar si pelayan lalu dia pun meninggalkan Ayunda dan Rakha.
"Kenapa harus makan di sini? Aku enggak ngerti menunya," tutur Ayunda jujur.
"Mhm, sekali-sekali enggak apa-apa," sahut Rakha.
Tak berapa lama makanan mereka pun terhidang di atas meja.
"Ayo, coba dulu. Mana tahu kamu suka," ujar Rakha pada Ayunda.
Gadis belia itu pun mulai menyantap makanan yang terhidang di hadapannya.
"Mhm, enak juga," seru Ayunda.
Ayunda pun menikmati makan malam mewah yang disiapkan oleh Rakha untuk istrinya.
Mereka pun menyantap makan malam dengan lahapnya.
Rakha sangat senang melihat ekspresi Ayunda yang sangat menikmati makan malam mereka.
Setelah selesai makan, Rakha pun mengajak Ayunda ke suatu tempat.
"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Ayunda.
__ADS_1
Rakha tersenyum dan menatap dalam istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bersambung...