
"Siapa pria yang baru saja kau hubungi?" lirih Rakha penuh penekanan.
Ayunda hanya diam, dia tak tahu harus menjawab apa. Saat ini dia tahu bahwa dia sudah melakukan kesalahan.
"Apakah pria ini sangat spesial bagimu?" bentak Rakha tiba-tiba.
Rakha menghempaskan ponsel Ayunda hingga hancur lebur di lantai. Ayunda hanya bisa menatap nanar pada ponsel miliknya yang kini telah menjadi pecahan di lantai. Ponsel itu tak lagi berbentuk sama sekali.
Entah kekuatan dari mana keluar dari tubuh Rakha sehingga dia bisa menghancurkan ponsel milik istrinya.
Rakha tidak suka melihat yang sudah menjadi miliknya dimiliki oleh orang lain.
Saat ini Ayunda telah sah menjadi istri sah baginya menurut hukum dan agama, sehingga dia tidak mau melihat Ayunda dekat dengan pria lain apalagi nama kontak Baim yang tersimpan di ponsel istrinya itu membuat darahnya mendidih seketika.
"Ma-maafkan a-aku," lirih Ayunda.
Tanpa disadarinya, kini buliran bening mulai membasahi pipinya. Saking takut dan cemasnya melihat sikap Rakha di hadapannya.
"Huh, maaf. Apa kau lupa dengan statusmu?" bentak Rakha di telinga Ayunda.
"Pikirkan apa yang telah kamu lakukan!" bentak Rakha.
Setelah itu Rakha berdiri meninggalkan Ayunda di dalam kamar. Lalu dia keluar dari kamar.
Rakha menghempaskan pintu kamarnya, membuat Bi Nur yang tidak sengaja melintas pun kaget.
"Astaghfirullah, apa yang telah terjadi?" gumam Bi Nur di dalam hati.
Bi Nur melihat Rakha melangkah menuju ruang kerjanya, setelah memastikan Rakha berada di ruang kerjanya, Bi Nur bergegas masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Nona?" tanya Bi Nur mengkhawatirkan keadaan Ayunda.
Bi Nur merasa sedih melihat Ayunda kini tengah menangis. Dia menangkupkan wajahnya di atas kedua lututnya.
Bi Nur buru-buru menghampiri Ayunda, dia pun melihat ponsel Ayunda yang sudah pecah berserakan di lantai.
"Apa yang sudah terjadi, Nona?" tanya Bi Nur pada Ayunda.
Ayunda masih saja menangis, saat ini dia tengah menyesali apa yang telah dilakukannya, tapi dia merasa kecewa dengan sikap Rakha yang tidak bisa ramah dan berbicara baik-baik pada dirinya.
Bi Nur memeluk tubuh Ayunda, dia pun menenangkan gadis belia yang kini tengah terguncang ulah sikap sang suami.
Rakha memang keras tapi sebenarnya dia sangat perhatian dan memiliki hati yang baik.
__ADS_1
"Buk, apa salah kalau aku masih berkomunikasi dengan teman laki-laki di sekolahku?" tanya Ayunda pada Bi Nur.
Ayunda bertanya pada Bi Nur setelah dia merasa hatinya tenang.
Dia merasa pesan yang ada di ponselnya tadi hanya sekadar chat biasa menanyakan kabar dan keadaannya saat ini dikarenakan tidak sekolah.
"Apakah Rakha melihat kamu tengah berkirim pesan dengan pria lain?" tanya Bi Nur pelan.
Dia tidak mau Ayunda merasa tersinggung dengan pertanyaan yang diucapkannya.
"Iya, Buk. Dia juga membaca pesan yang ada di ponselku," jawab Ayunda sesenggukan.
Dia berusaha menghapus air matanya yang membasahi pipinya.
"Apa isi pesannya?" tanya Bi Nur.
"Hanya menanyakan kabarku, dia menghubungiku karena aku tidak masuk sekolah hari ini," jelas Ayunda.
Ayunda menceritakan apa yang telah terjadi, dia tidak menyangka Rakha akan semarah itu pada dirinya hanya karena berkirim pesan saja.
"Oh, ya sudah. Berarti Tian muda Rakha tidak mau melihat Nona berkomunikasi dengan lawan jenis siapa pun orangnya, mulai sekarang nona muda harus bisa menjaga jarak dengan lawan jenis Nona," ujar Bi Nur menasehati Ayunda.
Berharap Ayunda memahami apa yang dikatakannya.
"Seharusnya nona muda tahu, bahwa saat ini nona adalah istri dari tuan muda, mungkin Tuan muda tidak ingin istrinya berhubungan dengan pria lain," ujar Bi Nur mengingatkan Ayunda akan status dirinya saat ini dengan Rakha.
"Sebagai seorang suami, wajar dia marah," ujar Bi Nur memberi pengertian pada Ayunda.
"Tapi, Buk. Tidak perlu sekeras itu memberi peringatan padaku," lirih Ayunda.
"Iya, Bu," lirih Ayunda mengerti.
"Ya sudah, kalau begitu, Bibi bersihkan kamar ini terlebih dahulu, kalau kamu mau merasa kurang enak badan, kamu bisa istirahat lagu," ujar Bi Nur.
"Masalah tadi tidak usah dipikirkan, tuan muda mungkin hanya sedang emosi saja, biasanya dia akan baik lagi setelah emosinya mereda," ujar Bi Nur.
Ayunda mengangguk, lalu dia pun kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Bi Nur mengambil alat kebersihan yang ada di kamar itu, lalu membersihkan pecahan ponsel milik Ayunda.
Setelah maghrib, Rakha pun masuk ke dalam kamarnya. Dia mendapati Ayunda tengah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Rakha yang sedari tadi menenangkan diri di ruang kerjanya pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dia sudah tidak tahan lagi dengan tubuhnya yang terasa lengket seharian mengajar.
__ADS_1
Rakha membersihkan diri lalu bersiap-siap untuk melaksanakan shalat seperti yang dilakukan oleh Ayunda.
Bagi seorang Rakha, shalat adalah kewajiban yang harus dilakukannya, tapi dia belum pernah memaknai apa itu shalat yang sesungguhnya.
Selesai dia menunaikan kewajibannya, Rakha melihat Ayunda masih bersimpuh di atas sajadahnya sambil menengadahkan tangannya memohon pertolongan pada Allah akan kesulitan hidup yang saat ini dijalaninya.
Rakha menatap wajah teduh Ayunda yang selalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Rakha melihat wajah Ayunda yang kini seolah berbicara dengan sang penciptanya.
Dia benar-benar khusuk memohon pada Allah.
"Apa sebenarnya yang dimintanya pada Allah, segitunya berdo'a," gumam Rakha heran.
Padahal Ayunda terlebih dahulu memulai shalat, dan kini Rakha lebih dulu selesai.
Ayunda selesai berdo'a, lalu dia menangkup tangannya ke wajahnya.
Saat membuka mata Ayunda kaget melihat Rakha kini tengah duduk menatap dirinya.
"Astaghfirullah," lirih Ayunda kaget.
"Kenapa? Kamu kira aku ini hantu," ujar Rakha dingin.
"Ma-maafkan a-aku, Tuan," lirih Ayunda.
Hanya kata maaf yang dapat dilontarkan oleh Ayunda karena dia sangat takut melakukan kesalahan di hadapan sang suami.
Rakha mendekati Ayunda, lalu dia pun menjitak kepala Ayunda.
"Aduh," ringis Ayunda lagi sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit.
"Apakah kamu tidak bisa mengatakan kata-kata selain kata maaf?" tanya Rakha datar.
"Mhm," gumam Ayunda.
Gadis belia itu mulai bingung harus berbuat apa, dia tidak berani berkata lain.
"Salim!" perintah Rakha sambil mengulurkan tangannya.
Ayunda menautkan kedua alisnya, lalu dia pun menyalami suaminya, dia juga tak lupa menciumi punggung tangan sang suami.
"Bersiaplah, kita akan makan malam di ruang makan," ujar Rakha pada Ayunda.
Rakha berdiri, lalu dia pun membuka sarung dan kopiah yang dikenakannya, setelah itu dia pun bersiap untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
"Woi," bentak Rakha lagi.
Bersambung...