Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Kejujuran Rakha.


__ADS_3

"Bang, malu sama Erika dan mama Erika," bisik Ayunda pada suaminya.


Dia merasa malu dilihat oleh Erika mama Erika yang juga berada di ruang makan.


"Biarkan, aku harap kamu tidak salah paham dengan apa yang kamu lihat tadi pagi, aku akan jelaskan," ujar Rakha pada Ayunda.


"Mhm, kita makan dulu, ya. Kamu pasti lapar," ujar Ayunda.


Ayunda berusaha melepaskan pelukan sang suami. Lalu mengajak Rakha ikut duduk di kursi meja makan.


"Tuan muda, kita makan malam dulu saja, ya. Nona muda pasti udah lapar," ujar Aisyah pada Rakha.


"Iya, Tante." Rakha mengangguk.


Saat ini Rakha memilih untuk mengikuti apa yang di katakan oleh Aisyah.


"Mama sengaja masak masakan spesial untuk Ayunda, karena setelah sekian lama Erika berteman dengan Ayunda, baru kali ini Erika bawa Ayunda ke sini," ujar Aisyah dengan senang hati.


"Iya, Tante. Maaf, ya. Mungkin selama ini aku terlalu ketat sama Ayunda. Lain kali Ayunda akan sering main ke sini," ujar Rakha merasa tidak enak hati.


Dia mengingat kenangan mereka satu setengah tahun yang lalu, Rakha tidak pernah mengizinkan Ayunda ke mana pun kecuali ke sekolah.


Asalkan dia keluar rumah tanpa dirinya, Rakha langsung marah-marah tidak menentu, akhirnya Ayunda menjadi takut untuk beranjak dari rumah megah milik tuan Adhitama.


"Iya, mama yakin kok, Tuan muda pasti izinkan kamu kalau main ke sini sama Erika," sahut Aisyah senang.


Setelah itu mereka pun menikmati makan malam bersama.


"Wah, masakan mama enak sekali," seru Ayunda senang.


Selama ini baru kali ini dia merasakan masakan yang sangat lezat mengalahkan cita rasa masakan di restoran mahal.


"Masakan mama memang lezat, makanya aku lebih betah makan di rumah," ujar Erika ikut memuji masakan mamanya.


"Apa pun makanannya, meskipun sangat sederhana jika disiapkan dan dihidangkan dengan penuh kasih sayang, hasilnya akan terasa nikmat seperti yang kalian rasakan saat ini," ujar Aisyah menanggapi pujian Ayunda dan Erika.

__ADS_1


Mereka pun tersenyum senang, ruang makan pun terasa hangat dengan tawa canda Ayunda dan Erika.


Sesaat Ayunda melupakan apa yang tadi sempat terjadi.


"Terima kasih, Tante. Aku senang Ayunda merasa nyaman berada di sini, kalau begitu kami izin pamit dulu," ujar Raka berpamitan pada Aisyah.


"Iya, Tuan Muda. Di tunggu kedatangan nona muda lagi," ujar Aisyah.


Rakha dan Ayunda pun tersenyum, lalu mereka pun melangkah keluar dari rumah Erika.


Erika dan mamanya mengantarkan sepasang suami istri itu hingga teras rumah, yang mana di sana sudah terparkir mobil Rakha.


"Aku pamit ya, Rika. Terima kasih buat hari ini, kamu sudah mau berbagi mama. Sekian tahun aku tak dapat merasakan kasih sayang seorang ibu, kini aku merasakannya," ujar Ayunda.


Aisya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayunda, dia pun menghampiri Ayunda lalu merangkul pundaknya.


"Sayang, mulai hari ini anggaplah mama Erika, mama kamu juga," ujar Aisyah dengan penuh kasih sayang.


Ayunda memeluk tubuh wanita paruh baya itu sebelum dia meninggalkan rumah itu.


Rakha yang sudah berdiri di samping mobil membukakan pintu mobil untuk istrinya, tak menunggu lama Ayunda pun masuk ke dalam mobil tersebut.


Tak banyak kata yang keluar dari mulut Ayunda dan Rakha sepanjang perjalanan menuju rumah, saat ini mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Rakha tengah memikirkan bagaimana cara menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya kepada sang istri.


Sementara itu Ayunda berusaha menenangkan dirinya dan berusaha meyakinkan bahwa sang suami adalah pria yang baik dan tidak akan melakukan hal-hal di luar dugaannya. Dengan susah payah Ayunda terus berusaha untuk berpikiran positif terhadap suaminya.


Sesampai di rumah Ayunda dan Rakha langsung masuk ke dalam kamar.


Ayunda langsung melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dia ingin menyelesaikan masalah di antara dirinya dan sang suami dengan kepala dingin, untuk itu dia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu agar pikirannya bisa tenang.


Melihat Apa yang dilakukan Ayunda, Raka berusaha untuk bersabar.


"Sayang," lirih Rakha saat Ayunda keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Mandilah terlebih dahulu, kita bicaranya setelah kamu mandi," ujar Ayunda bijak.


Rakha menghela napas panjang, dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang istri. Menyelesaikan masalah harus dengan kepala dingin dan suasana yang nyaman.


Rakha pun melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan Ayunda terus berusaha menenangkan hati dan pikirannya, dia duduk di bangku panjang yang ada di balkon rumah mereka sambil menatap keramaian lalu lalang kendaraan di seberang komplek perumahan mereka.


Selesai mandi, Rakha ikut duduk bergabung dengan Ayunda di balkon, dia langsung duduk di samping sang istri.


Rakha menggenggam dengan erat tangan istrinya, mengalirkan kasih sayang dan cintanya yang hanya teruntuk pada Ayunda seorang.


"Kamu yakin dan percaya dengan apa yang akan aku katakan padamu?" lirih Rakha meyakinkan diri bahwa sang istri akan mendukung dirinya.


Ayunda mengangguk.


Perlahan Rakha mulai menceritakan apa yang terjadi di antara dirinya dan Ratih, dia juga tidak lupa menceritakan awal mula pertemuan dirinya dan Ratih.


"Aku dijebak, dia mau mengambil keuntungan dariku. Aku sama sekali tidak mengenal dia. Demi Allah, aku hanya menolongnya, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya," ujar Rakha.


Rakha berusaha meyakinkan Ayunda, dia berharap sang istri dapat mempercayai apa yang dikatakannya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Bang?" tanya Ayunda pada Rakha.


Ayunda ingin mengetahui rencana yang akan dilakukan oleh Rakha untuk menghadapi wanita licik seperti Ratih.


"Mhm," gumam Rakha.


Rakha belum tahu harus melakukan apa, yang pasti dia akan menghubungi seorang temannya untuk mencari tahu siapa sebenarnya wanita yang telah berani menjebak dirinya dalam masalah ini.


Rakha juga merasa beruntung karena wanita itu memberinya waktu satu Minggu untuk berpikir.


Itu artinya Rakha memiliki waktu satu Minggu untuk mengetahui siapa sebenarnya Ratih, dan menyusun rencana apa yang akan diambilnya untuk menghadapi kelicikan Ratih.


Rakha juga yakin, bahwa saat ini Ratih tengah bersekongkol dengan kedua orang tuanya karena Rakha sangat mengingat dengan jelas sikap yang ditunjukkan oleh papa Ratih waktu Ratih baru saja sadar saat berada di rumah sakit.


"Aku yakin, mereka menginginkan sesuatu dariku. Mungkin tak jauh-jauh dari harta," ujar Rakha lagi.

__ADS_1


"Saat ini, aku sangat butuh dukungan darimu, kamu percaya kan padaku?" tanya Rakha pada Ayunda.


Bersambung...


__ADS_2