
Ayunda memegangi pipinya yang terasa sangat panas, bahkan pipi Ayunda terlihat bekas tangan Siti.
Semua mata tertuju pada Siti dan Ayunda, Fatimah juga kaget melihat apa yang dilakukan oleh Siti terhadap Ayunda.
"Ini semua gara-gara kamu! Kamu yang menyebabkan suamiku pergi!" bentak Siti pada Ayunda.
Tak hanya Ayunda yang terpukul dengan kematian Somad tapi Siti sebagai istri yang telah mendampingi Somad beberapa tahun terakhir ini juga sangat terpukul.
Sehingga dia tidak dapat mengendalikan dirinya, justru dia menyalahkan Ayunda sebagai penyebab Somad pergi meninggalkan mereka semua.
Ayunda hanya menundukkan kepalanya, dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Istighfar kamu Siti, kamu tidak bisa menyalahkan Ayunda atas takdir Allah," ujar Fatimah mengingatkan temannya.
"Seandainya hari itu dia mau menemui ayahnya barang sejenak, hal ini tidak akan terjadi. Bang Somad tidak akan sakit parah," bentak Siti lagi.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kepergian suamiku!" bentak Siti lagi pada Ayunda.
Dari kejauhan Rakha melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Siti pada istrinya, dia tidak terima istrinya diperlakukan tidak baik oleh ibu mertuanya.
Rakha melangkah menghampiri mereka.
"Nyonya, apa anda sudah gila?" lirih Rakha membuat Siti terdiam seketika.
Dia yang tadi mengumpat Ayunda seketika terdiam membisu mendengar ucapan Rakha.
Ayunda mengangkat wajahnya, dia melihat amarah memancar di wajah pria dingin yang selama ini selalu bersikap cuek terhadap dirinya.
"Sekali lagi anda menghina istriku, maka Aku pastikan hidupmu tak akan tenang," ujar Rakha mengancam Siti.
Semua orang yang ada di sana mendengar ucapan Rakha yang menyatakan bahwa Ayunda adalah istrinya.
Mereka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rakha.
Rakha menatap tajam ke arah ibu tiri istrinya itu.
"Anda sudah melakukan kesalahan besar karena berani menyakiti istriku!" bentak Rakha.
"Ayo, kita pulang! Dia akan menyesal atas apa yang telah dilakukannya," ujar Rakha.
Rakha menarik tangan Ayunda, lalu membawa Ayunda masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Anton, kita langsung kembali ke Padang," ujar Rakha.
Rakha meminta Anton meninggalkan desa Ayunda secepatnya.
Ayunda hanya diam, di saat seperti ini dia tak bisa memberontak apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Maafkan aku, harus melakukan ini. Tapi, aku tidak mau melihatmu disakiti lagi," gumam Rakha sambil menatap sedih ke arah Ayunda.
Rakha dapat merasakan kesedihan hati sang istri saat ini. Jika masih berlama-lama di desa itu, Rakha takut Siti akan melakukan hal yang lebih dari apa yang baru saja dilakukan oleh ibu tiri Ayunda itu.
Ayunda memandang ke arah jendela, dia menatap sedih keluar jendela karena dia benar-benar akan meninggalkan tanah kelahirannya, dia juga tidak tahu, entah kapan dia bisa kembali ke desa itu.
Di desa itu, Ayunda tumbuh menjadi seorang gadis dewasa, banyak kenangan yang telah terukir di benak Ayunda selama dirinya berada di desa itu.
Anton terus melajukan mobilnya hingga mereka pun mulai meninggalkan desa Ayunda.
Sepanjang perjalanan Ayunda hanya diam, tak banyak kata yang keluar dari mulut Ayunda.
Saat sampai di rumah, Ayunda terlelap. Rakha tak membangunkan Ayunda, dia memilih untuk menggendong Ayunda dan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah.
Mereka sampai di Padang pukul 17.00 menjelang waktu maghrib masuk.
Awalnya Rakha ingin membangunkan Ayunda tapi mengingat apa yang baru saja terjadi, Rakha memilih menggendong istrinya. Menurut Rakha lebih baik Ayunda tidur agar dia lupa dengan kesedihannya barang sejenak.
Setelah itu Rakha pun. masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, satu hari ini dia belum mandi karena dia tidak bisa meninggalkan istrinya seorang diri di rumah Somad.
Ayunda terbangun dari tidurnya, dia kaget saat menyadari bahwa dia saat ini telah berada di dalam kamar.
"Ya Allah, aku sudah ada di dalam kamar ini, apakah beruang kutub itu yang menggendongku dan membawa aku masuk ke dalam kamar ini?" gumam Ayunda mulai bertanya di dalam hati.
Ayunda pun bangun dan memilih duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur sembari mengumpulkan nyawanya yang masih belum seutuhnya berkumpul di jasadnya.
Tak berapa lama Ayunda duduk, dia melihat Rakha keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk di pinggangnya.
Pria beruang kutub itu memamerkan keindahan tubuhnya yang six pack, perutnya kotak-kotak bagaikan roti sobek.
Pemandangan itu membuat Ayunda tak bisa menutup matanya, sebagai seorang wanita normal dia menatap kagum pada tubuh kekar sang suami.
Saat Rakha hendak melangkah ke arah lemari, dia tidak sengaja melihat sang istri yang kini tengah melototi dirinya.
Rakha melangkah mendekati Ayunda lalu dia pun menjitak kepala istrinya.
__ADS_1
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Rakha.
"Aduh." Ayunda meringis sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat jitakan sang suami.
"Kalau punya mata itu dijaga," ujar Rakha lalu dia berlalu meninggalkan Ayunda.
Ayunda pun reflek menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Rakha berlalu, dia mengambil pakaiannya lalu melangkah menuju ruang ganti.
"Ish, menyebalkan, lagian siapa suruh keluar kamar mandi dengan handuk doang," gerutu Ayunda.
Ayunda pun turun dari tempat tidur, setelah itu dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Dia juga merasa gerah dan lengket karena satu hari ini tidak mandi.
Saat makan malam, Ayunda tidak mau turun ke bawah.
"Bolehkah, aku makan di sini saja?" tanya Ayunda pada Rakha dengan tatapan memohon.
Dia masih ingin menyendiri, Ayunda tidak ingin dengan suasana hatinya saat ini akan membuat tuan Adhitama tersinggung.
"Ya sudah, aku akan meminta Bi Nur untuk mengantarkan makan malam ke sini," ujar Rakha mengabulkan permintaan istrinya.
"Terima kasih," ucap Ayunda.
Setelah itu, Rakha keluar dari kamarnya, dia melangkah menuju ruang makan.
"Ayunda mana?" tanya tuan Adhitama saat melihat putranya hanya turun seorang diri.
"Dia masih ingin menyendiri," jawab Rakha.
Rakha pun mulai menceritakan apa yang telah terjadi di desa pada tuan Adhitama.
"Wanita itu benar-benar jahat dan tidak memiliki perasaan," lirih tuan Adhitama.
"Kamu tenang saja, papa akan kasih dia pelajaran." Tuan Adhitama geram.
Sejak Siti mengusulkan membayar hutangnya dengan Ayunda, Tuan Adhitama sudah tidak menyukai kepribadian ibu tiri gadis belia yang polos itu, apalagi setelah Ayunda menjadi menantunya, dia tidak terima Siti menyakiti menantunya itu.
"Sekarang kita bisa putuskan komunikasi Ayunda dengan orang-orang di desa itu karena saat ini tak ada lagi alasan bagi Ayunda untuk kembali ke desa itu," ujar tuan Adhitama.
__ADS_1
Dia ingin Ayunda bahagia di kota Padang bersama dirinya dan putranya, Pria tua itu berjanji di dalam hatinya akan menghapus semua luka yang ada dalam hidup si gadis belia yang baik hati itu.
Bersambung...