Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Ayunda pingsan lagi.


__ADS_3

"Nona muda tengah datang bulan, mungkin dia biasa mengalami demam saat masa haidnya, jadi ini hanya efek tubuhnya yang lemah saat datang bulan," ujar Dokter memberi tahu keadaan Ayunda saat ini.


Selama ini Ayunda memang selalu demam di saat datang bulan, daya tubuhnya malah mah saat fase haid datang menghampirinya.


Hal ini sudah biasa dialaminya, istirahat satu atau dua hari dia akan pulih kembali seperti biasa.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Dok," ujar Rakha.


Rakha pun menjabat tangan sang dokter sebelum dokter tersebut keluar dari kamar Rakha.


Rakha pun menghampiri Ayunda setelah dokter keluar dari kamar itu.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rakha setelah memastikan Bi Nur dan dokter keluar dari kamarnya.


"Mhm," gumam Ayunda.


Ayunda memegangnya kepalanya yang masih terasa sangat pusing.


"Jika kamu merasa sudah baikan, pergilah mandi dan ganti pakaianmu," perintah Rakha.


Rakha pun meninggalkan Ayunda begitu saja. Ayunda memandangi punggung pria yang sudah sah menjadi suaminya.


"Dasar es batu, dinginnya minta ampun peduli aja sama aku enggak. Ya Allah, bagaimana nasibku setelah ini, aku yakin akan merana hidup dengan beruang kutub seperti dia," gerutu Ayunda di dalam hati.


Perlahan Ayunda bangun dari tempat tidur, dia berdiri lalu dia pun melangkah menuju kamar mandi,. dia berusaha melangkah perlahan membawa tubuhnya yang saat ini masih terasa sangat lemah.


Ayunda masuk ke dalam kamar mandi, lalu dia mencoba membersihkan dirinya perlahan dalam kondisi yang sangat lemah.


Dia memaksakan dirinya, dia takut beruang kutub itu akan marah padanya jika dia masih melihat dirinya masih mengenakan seragam sekolah.


Dia tidak mau melihatmu tatapan tajam pria dingin dan menyeramkan itu baginya.


Satu jam Ayunda menyelesaikan kegiatan mandinya, bukan dia ingin berlama-lama, tapi hanya saja dia yang memang tidak sanggup untuk membersihkan dirinya karena kondisinya yang saat ini masih lemah, apalagi sejak pulang sekolah, Ayunda belum mengisi perutnya dengan apa pun sehingga dia sama sekali tidak memiliki tenaga.


Saat Ayunda baru saja mengenakan handuk, dia pun jatuh ke lantai dan lagi-lagi tak sadarkan diri.


Rakha yang sejak tadi sengaja menghabiskan waktunya di ruang kerjanya, saat dia menyelesaikan pekerjaannya pikirannya selalu tertuju pada Ayunda, entah mengapa dia merasa khawatir akan keadaan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Rakha pun keluar dari ruang kerjanya, lalu dia melangkah menuju kamarnya. Rakha kaget saat melihat Ayunda tak ada di atas tempat tidur.


"Ke mana gadis itu?" lirih Rakha bertanya-tanya akan keberadaan Ayunda.


"Apa jangan-jangan dia tengah mandi?" gumam Rakha lagi.


Rakha melangkah menuju kamar mandi, dia mengetuk pintu kamar mandi.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Hei, apa kamu di dalam?" teriak Rakha dengan suara yang keras.


Berkali-kali Rakha mengetuk pintu dan berteriak, tak satupun panggilannya dibalas oleh Ayunda.


Rakha pun memegangi handle pintu dan mencoba membuka pintu kamar mandi.


"Pintunya terkunci, itu artinya ada orang di dalam kamar mandi, tapi mengapa dia tidak menjawab panggilan dariku, apa jangan-jangan dia,--"


Rakha langsung mendobrak pintu kamar mandi, saat ini dia yakin Ayunda sedang tidak baik-baik saja di dalam kamar mandi.


Satu kali Rakha mendorong pintu kamar mandi dengan sekuat tenaga, pintu itu pun terbuka.


Rakha kaget saat melihat istrinya tergeletak di lantai kamar mandi, masih mengenakan handuk.


"Astaghfirullah," pekik Rakha.


Mau tak mau, Rakha pun mengangkat tubuh kecil Ayunda, lalu menggendong tubuh mungil itu ke atas tempat tidur.


Dia membaringkan istrinya di atas tempat tidur, tapi sesaat dia melihat sang istri masih mengenakan handuk dan pakaian dalam.


Rakha pun tampak bingung dengan apa yang harus dilakukannya saat ini.


Rakha terdiam sejenak, dia tampak berpikir harus melakukan apa.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Rakha terus berpikir.


Akhirnya Rakha pun melangkah menuju lemari, dia mengambil sebuah piyama lalu membawanya mendekati Ayunda yang masih belum sadarkan diri.


Perlahan Rakha pun memasangkan pakaian istrinya, saat itu matanya tertuju pada pemandangan yang sangat memukau bagi seorang pria.


"Ternyata tubuhnya indah juga," gumam Rakha sambil menelan salivanya.


Dia menyaksikan keindahan tubuh istrinya yang selama ini tertutup dan sama sekali tak dilihatnya.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu setelah Rakha baru saja menyelesaikan tugasnya mengenakan pakaian sang istri.


Dia menoleh ke arah pintu lalu melangkah untuk membukakan pintu kamarnya.


"Tuan, saya bawakan makanan dan obat untuk nona muda, agar nona bertenaga," ujar Bi Nur saat pintu kamar Rakha sudah terbuka.


"Oh, iya, Bi. Bawa ke dalam," ujar Rakha.

__ADS_1


Bi Nur pun melangkah masuk ke dalam kamar dan membawakan makanan lalu meletakkan nampan berisi makanan tersebut di atas nakas.


"Bi, sepertinya Ayunda pingsan lagi, tadi aku mendapatinya tergeletak di lantai kamar mandi," ujar Rakha pada pelayan kepercayaan di rumah itu.


"Apa?" lirih wanita paruh baya itu.


Bi Nur pun langsung menghampiri Ayunda yang berbaring di atas tempat tidur, dia mencoba memeriksa keadaan Ayunda saat ini.


Bi Nur langsung membuka laci yang ada di samping tempat tidur, dia mengambil kotak P3K lalu mengambil minyak kayu putih dari dalam kotak tersebut.


Bi Nur mengolesi minyak kayu putih di bawah batang hidung gadis belia itu, lalu dia memijat-mijat tangan Ayunda agar Ayunda sadar dari pingsannya.


Tak berapa lama Ayunda pun membuka matanya, kepalanya masih terasa sangat pusing. Namun, Ayunda dapat melihat keberadaan Bi Nur yang duduk di samping tempat dia berbaring.


"Bagaimana keadaan nona muda?" tanya wanita paruh baya itu pada Ayunda.


"Bi Nur, tolong suruh Ayunda makan dan minum obat," ujar Rakha pada Bi Nur.


Setelah itu, Rakha pun keluar dari kamar. Lagi-lagi pria dingin itu meninggalkan istrinya di dalam kamar.


"Nona, makan dulu, ya," ujar Bi Nur.


Bi Nur mengambil makanan yang ada di nakas lalu dia pun menyuapi Ayunda dengan penuh kasih sayang.


Wanita paruh baya itu merasa kasihan kepada Ayunda, dia tidak menyangka gadis belia itu terpaksa menikah dengan Putra majikannya hanya demi menjaga dan nama baik Tuan Adhitama.


Saat ini Dia mengira bahwa Ayunda sakit karena syok dengan apa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.


Wanita paruh baya itu menyuapi Ayunda makanan dengan perlahan hingga makanan di dalam piring tersebut habis tak bersisa.


setelah Ayunda menghabiskan makanan yang ada di piring itu, Bi Nur mengambil obat yang sudah disediakannya.


"Kamu minum obat dulu ya, Nak," ujar Bi Nur kepada Ayunda sambil memberikan obat yang sudah disiapkannya untuk gadis belia tersebut.


Ayunda mengambil obat yang diberikan oleh Bi Nur kepadanya, lalu dia pun menelan obat tersebut.


Bi Nur tersenyum melihat Ayunda yang dengan mudah menelan obat yang diberikannya.


"Alhamdulillah, semoga setelah ini Nona muda sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa," ujar wanita paruh baya itu kepada Ayunda.


"Terima kasih, Bi.".Ayunda menggenggam tangan Bi Nur.


Gadis belia itu pun mulai menangis tersedu-sedu.


Bi Nur menautkan kedua alisnya heran melihat Ayunda menangis.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2