Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Ayunda sakit.


__ADS_3

Ayunda merasa tidak enak pada Baim, tapi saat ini dia tidak bisa menghindar dari pria itu.


"Aku senang melihat kamu sudah sadarkan diri, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Baim pada Ayunda.


Ayunda hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Baim, dia tidak memberitahukan Baim bahwa kepalanya sempat terbentur semen lapangan.


"Jika kamu memang tidak ingin menceritakan masalah yang tengah kamu hadapi, aku akan menerimanya dengan lapang hati," ujar Baim.


Ayunda menoleh ke arah Baim yang terlihat tegar. Ayunda menatap dalam pada pria yang beberapa hari terakhir mengisi hatinya, dia tidak tega untuk menyakiti pria baik seperti Baim.


Mereka pun terdiam, Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Beberapa menit suasana UKS pun menjadi hening, hingga akhirnya Baim menggenggam tangan Ayunda.


Ayunda sontak kaget tapi dia tidak berani untuk melepaskan genggaman tangan pria yang masih ada di hatinya saat ini.


"Ayun, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Baim pada Ayunda penuh harap.


Ayunda hanya diam sambil menautkan alisnya, dia menunggu Baim mengutarakan apa yang diinginkannya saat ini.


"Aku mohon jangan putuskan hubungan kita sepihak seperti ini," ujar Baim.


"Baim, maafkan Aku. Aku harus menyelesaikan hubungan yang ada di antara kita karena satu hal, yang mana hal itu tidak bisa aku ungkapkan padamu," tutur Ayunda.


"Baiklah, jika memang begitu. Tapi, bisakah kamu tidak menjauh dariku?" tanya Baim pada Ayunda berharap Ayunda masih mengizinkan dirinya untuk selalu bersama-sama seperti biasanya.


Ayunda menghela napas panjang, dia menatap jauh langit-langit UKS.


"Bisakah kita tetap berteman?" tanya Baim lagi penuh harap.


"Baiklah kita hanya berteman tidak lebih dari itu," ujar Ayunda.


Ayunda tidak sanggup membuat Mbak yang bersedih, mungkin dengan berteman luka hatinya tidak akan begitu dalam.


"Terima kasih, Ayun," lirih Baim.


Baim menemani Ayunda di UKS hingga bel pulang pun berbunyi, tak banyak hal yang mereka bicarakan selama bersama di dalam ruang UKS.


"Sudah waktunya pulang, Apakah kamu masih pusing?" tanya Baim pada Ayunda.


"Mhm, sepertinya sudah mendingan. apa kamu kuat untuk berjalan?" tanya Baim.


Ayunda menganggukkan kepalanya, dia berusaha untuk duduk lalu turun dari tempat tidur.


Baim langsung menolong Ayunda dan memapah wanita yang dicintainya itu keluar dari UKS.


Awalnya Ayunda berusaha untuk menolak bantuan dari Baim, tapi kepalanya yang masih terasa pusing membuat dia dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Saat mereka hampir sampai di kelas 11 IPA 1, Erika keluar dengan membawa tas milik Ayunda.


"Ayun, gimana keadaan, Lu?" tanya Erika saat bertemu dengan Ayunda.


"Sepertinya Ayunda masih merasa pusing, dia belum sanggup untuk melangkah sendiri," jawab Baim.


"Ya udah, kalau gitu biar gue yang mapah dia," ujar Erika menawarkan diri.


Erika juga tidak mau membiarkan Ayunda semakin dekat dengan Baim, karena hal ini tidak baik untuk Ayunda maupun Baim.


Erika pun mengambil alih posisi Baim yang menopang tubuh Ayunda, Setelah itu mereka pun melangkah menuju parkiran.


Sesampai di samping mobil yang biasa digunakan Erika, gadis itu membukakan pintu mobil untuk sahabatnya, Ayunda masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang di sana, setelah itu Erika pun masuk ke dalam mobil dan dia pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.


Sesampai di rumah Erika langsung mengantarkan Ayunda ke dalam kamar, Erika tidak lupa memberitahukan kepada Bi Nur tentang keadaan Ayunda saat ini.


"Baiklah, Nona. nanti saya akan memberitahukan tuan muda tentang keadaan Nana Ayunda pada tuan muda dan tuan Adhitama," ujar Bi Nur.


"Terima kasih, Bi." Erika pun keluar dari kamar Ayunda lalu dia pulang.


Erika tidak bisa leluasa berada di kamar tersebut, karena dia tahu bahwa saat ini akhirnya tengah berada di kamar tuan muda.


Ayunda membaringkan tubuhnya di atas sofa, setelah memastikan bi Nur dan Erika tak lagi berada di kamar tersebut.


Ayunda tidak berani tidur di atas tempat tidur karena dia takut Rakha datang dan marah padanya.


Dia tidak lagi dapat menahan rasa kantuknya yang menyerang.


Pada pukul 16.15, Rakha baru saja sampai di rumah, dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya.


Saat Rakha baru saja masuk ke dalam kamar, dia melihat Ayunda berbaring di atas sofa.


Dia melihat gadis itu masih mengenakan seragam sekolah dan terlihat dia sedang meringkuk kedinginan.


"Dasar gadis ceroboh," gumam Rakha mengumpat istrinya.


Rakha pun melangkah menghampiri sang istri. Dia mendekati Ayunda.


"Hei, bangun! Pulang sekolah bukannya ganti baju malah tidur di sembarang tempat," umpat Rakha kesal melihat kecerobohan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Ayunda masih saja tertidur, dia semakin meringkuk kedinginan.


Rakha pun membungkuk lalu mengguncang tubuh Ayunda.


"Hei,--" Raka kaget saat merasakan suhu tubuh Ayunda yang panas.


Rakha langsung meraba dahi istrinya.

__ADS_1


"Dia demam," ujar Rakha panik.


Rakha pun langsung mengangkat tubuh sang istri lalu memindahkan Ayunda ke atas tempat tidur, dia tidak lupa menyelimuti tubuh Ayunda agar sang istri tak lagi merasa kedinginan.


"Apa yang terjadi padanya? Padahal tadi pagi dia baik-baik saja." Rakha pun menghubungi dokter, dan meminta sang dokter datang ke rumah untuk memeriksa kondisi Ayunda saat ini.


Rakha mengambil handuk kecil dan menyiapkan air hangat di sebuah wadah, lalu dia mengompres Ayunda agar suhu tubuhnya turun.


Saat Rakha mengompres Ayunda, gadis itu terbangun.


"A-apa yang tu-tuan muda lakukan?" tanya Ayunda kaget.


Ayunda pun berusaha untuk duduk, tapi kepalanya yang masih terasa pusing membuat dia tidak bisa mengangkat tubuhnya.


"Tidurlah, kamu demam tinggi," ujar Rakha datar tanpa ekspresi.


"Sebentar lagi dokter akan datang," ujar Rakha lagi.


Setelah itu Rakha meninggalkan Ayunda, dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dia mulai bersikap cuek karena dia tidak mau istrinya itu besar kepala, jika dia terlihat memperhatikan Ayunda.


Tak berapa lama dokter pun datang, kebetulan Rakha baru saja selesai mandi.


"Sore, Dok," sapa Rakha saat melihat dokter sudah masuk ke dalam kamarnya bersama Bi Nur.


Sebelum mandi Rakha memang berpesan pada Bi Nur untuk langsung membawa dokter ke kamarnya jika sudah datang.


"Sore, Tuan muda. Siapa yang sakit?" tanya dokter menautkan kedua alisnya saat melihat Rakha berdiri sehat di hadapannya.


"Bukan saya yang sakit, Dok, tapi istri saya," ujar Rakha jujur sambil menunjuk ke arah tempat tidur tempat Ayunda berbaring saat ini.


"Istri? Apakah tuan muda sudah menikah?" tanya sang dokter pada Rakha.


"Mhm," gumam Rakha mengiyakan.


"Wah, saya baru tahu," ujar dokter tak percaya.


"Mendadak," ujar Rakha.


Setelah itu dokter pun menghampiri Ayunda, dia pun langsung memeriksa kondisi Ayunda.


Dokter mengernyitkan dahinya tak percaya saat melihat wanita yang berbaring di atas tidur masih mengenakan seragam SMA.


"Apa saya tidak salah lihat? Tuan muda Rakha menikah dengan anak sekolah yang masih duduk di bangku SMA?" gumam dokter di dalam hati sambil melakukan pekerjaannya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?'" tanya Rakha setelah dokter memeriksa keadaan Ayunda saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2