
Rakha pun langsung bergegas melangkah ke kamarnya, dia masih ingat dengan jelas sebelum dia keluar ruang kerja dia melihat jelas Ayunda terbaring di atas sajadahnya.
Rakha memeriksa Ayunda di setiap sudut kamar, dia juga tidak lupa untuk memeriksa kamar mandi untuk memastikan Ayunda memang tidak berada di kamar tersebut.
"Bi, tolong periksa semua kamar yang ada di rumah ini, kerahkan pelayan lainnya untuk memastikan keberadaan Ayunda," ujar Rakha pada Bi Nur.
Rakha pun bergegas keluar dari rumah, dia langsung mengambil mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Tuan Adhitama untuk mencari Ayunda.
Rakha menghentikan mobilnya saat berada di gerbang.
"Pak Didin, apa bapak melihat Nona Ayunda keluar dari gerbang ini?" tanya Rakha pada Pak Didin.
Pak Didin menggelengkan kepalanya.
"Sebentar, Tuan. Saya coba lihat cctv dulu," ujar Pak Didin.
Pak Didin memeriksa rekaman cctv beberapa menit yang lalu.
Rakha turun dari mobil, lalu dia ikut memeriksa rekaman cctv itu.
"Pak Didin dari mana?" bentak Rakha saat melihat dengan jelas Ayunda mengendap-endap keluar dari rumah.
"Ma-maafkan saya, Tuan. Tadi saya hanya ke belakang sebentar," jawab Pak Didin merasa bersalah.
Kali ini Pak Didin memang teledor karena dia tidak mengunci gerbang kecil saat meninggalkan pos satpam.
"Ayun, apa yang sebenarnya tengah kamu pikirkan?" lirih Rakha mulai panik.
Rakha meninggalkan Pak Didin yang kini ikut panik dan menyesali kelalaiannya.
Rakha kini sudah berada di dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Tuan Adhitama, dia yakin Ayunda belum jauh dari komplek perumahan itu.
Dia melajukan mobilnya dengan pelan sambil memperhatikan sekitar. Rakha berharap dapat menemukan Ayunda secepatnya.
Ingatannya kembali melintas akan perlakuannya terhadap Ayunda.
"Ayun, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi," lirih Rakha.
Rakha terus berkeliling mencari Ayunda tapi dia tak bisa menemukannya.
Sementara itu di kediaman tuan Adhitama, pria tua itu sedang mengumpulkan semua pelayan yang ada di kediamannya.
Semua orang di rumah itu tengah sibuk mencari Ayunda di seluruh sudut rumah, Mereka mengira Ayunda masih ada di dalam rumah itu.
Tuan Adhitama sudah mengecek cctv yang ada di dalam rumah, dia sudah melihat dengan jelas bahwa Ayunda memang sudah pergi rumah itu.
__ADS_1
Tuan Adhitama sudah meminta Anton dan rekan-rekannya untuk mencari Ayunda.
Kini pria tua itu sedang duduk di ruang kerjanya menunggu berita dari semua anak buahnya yang sudah dikerahkannya.
"Ayunda, apa sebenarnya yang telah terjadi? Kenapa kamu melakukan hal ini, Nak?" gumam Tuan Adhitama risau.
Saat ini pria itu menumpu kesalahan pada Rakha, dia yakin ada sesuatu yang terjadi antara putranya dan Ayunda.
Tuan Adhitama kini menunggu kedatangan Rakha yang sejak tadi pergi tak kunjung kembali.
Malam semakin larut, Rakha semakin panik dan khawatir.
Saking paniknya Rakha tidak dapat berpikir mencari solusi.
Dia terus berkeliling kota Padang tanpa arah, saat ini dia tak tahu harus mencari Ayunda ke mana lagi.
Pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya, dia membayangkan saat ini Ayunda tengah bertemu dengan orang jahat, dan melakukan hal-hal yang buruk terhadap istrinya.
"Ya Allah, tolong jagalah Ayunda. Jauhilah segala kejahatan dari istri hamba," lirih Rakha penuh harap.
Hanya do'a yang kini dapat dipanjatkan pada sang Khalik.
Semalaman suntuk Rakha mencari istrinya, dia berkeliling kota Padang, tapi entah mengapa dia tidak bisa menemukan istrinya.
Jalanan kota Padang mulai sepi, dia juga masih tak bisa menemukan Ayunda, akhirnya saat menjelang subuh tiba Rakha memilih untuk pulang ke rumah.
Rakha masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai, dia menaiki anak tangga tanpa semangat sedikit pun.
Sesampai di kamar Rakha langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.
Rakha tidak bisa menahan rasa kantuk dan lelahnya, akhirnya dia pun tertidur.
Sejenak Rakha melupakan keadaan Ayunda, dia memilih untuk beristirahat sejenak agar besok dia bisa kembali mencari Ayunda.
Dia berpikiran, akan lebih mudah baginya untuk menemukan Ayunda di saat siang hari.
****
Mentari pagi mulai menampakkan wujudnya di ufuk timur, cahayanya mulai menyinari bumi, malam telah berganti siang.
Cahaya mentari memberi kehangatan pada setiap makhluk yang hidup di bumi.
Rakha baru saja membuka matanya, cahaya mentari yang masuk melalui celah-celah jendela membuat matanya mulai terganggu, sehingga dia memilih untuk bangun.
Rakha mengucek matanya yang terasa panas karena kurang tidur, Rakha melihat jam yang ada di dinding, jam tersebut kini menunjukkan angka 7.45.
__ADS_1
Rakha bergegas bangun, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Astaghfirullah, aku belum shalat subuh," gumam Rakha.
Pria tampan itu pun bergegas menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, meskipun telat tapi dia tetap menunaikan ibadah wajibnya.
Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.
Begitulah pikir Rakha, semalaman tidak tidur membuatnya bangun kesiangan.
Setelah selesai shalat, Rakha langsung menghubungi kampus dan memberitahukan bahwa hari ini dia tidak bisa hadir mengajar di kampus karena dia akan kembali mencari istrinya.
Saat Rakha baru saja turun dari lantai 2, tuan Adhitama telah menunggunya di ruang keluarga.
"Rakha!" panggil tuan Adhitama saat melihat Rakha berada di pangkal tangga.
Rakha menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah asal suara papanya yang baru saja memanggilnya.
Tanpa perintah, Rakha pun melangkah menuju ruang keluarga dan duduk tepat di hadapan sang papa.
"Apa yang kamu lakukan pada Ayunda?" tanya tuan Adhitama berusaha meredam emosinya.
Pria itu berusaha untuk tetap mengendalikan emosi dan amarahnya pada Rakha.
"Mhm, maaf, Pa. Aku memang salah. Tapi, masalah yang terjadi antara kami adalah masalah pribadi, aku tida bisa menceritakannya pada papa," jawab Rakha.
"Dasar Bodoh!" bentak tuan Adhitama pada putranya.
Selama ini tuan Adhitama selalu membanggakan sang putera. Pria tampan itu tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun di mata papanya.
Namun, beda hal dengan kejadian kali ini. Tuan Adhitama memaki Rakha karena telah lalai menjaga amanahnya.
Dia telah memberi kepercayaan kepada Rakha untuk menjaga dan melindungi Ayunda, tapi Rakha telah teledor.
Rakha hanya diam mendengar teriakan papanya, seumur hidupnya Tuan Adhitama tidak pernah memarahi putranya seperti ini.
Entah mengapa Tuan Adhitama sangat menyayangi Ayunda. Kasih sayangnya pada Ayunda melebihi kasih sayangnya pada Rakha.
Di antara semua anak angkatnya hanya Ayunda yang menurutnya berbeda dari yang lainnya.
"Maafkan aku, Pa. Aku salah," lirih Rakha setelah terjadi keheningan beberapa menit di antara mereka berdua.
"Papa tidak mau tahu, kamu harus cari Ayunda secepatnya!" perintah tuan Adhitama pada Rakha.
Pria tampan itu hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu dia berdiri dan meninggalkan tuan Adhitama yang masih diam.
__ADS_1
Bersambung...