Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Hukuman


__ADS_3

Ayunda mengangkat wajahnya, dia kaget saat mendapati Rakha berdiri di hadapannya.


"Kenapa Bang Rakha ada di sini?" tanya Ayunda terlihat bingung.


Teman-teman Ayunda heran saat Ayunda memanggil dosen mereka dengan kata 'bang'.


Tek.


Lagi-lagi Rakha menjitak kepala Ayunda, dia memperingati Ayunda.


"Saya ini dosen kamu!" ujar Rakha tegas.


"A-apa?" Ayunda tampak kaget.


Satu setengah tahun dia menjadi istri Rakha, selama itu Ayunda tidak pernah mengira bahwa suaminya itu merupakan seorang dosen, selama ini Ayunda mengira Rakha bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh papanya.


Dan dia juga mengelola beberapa usaha papanya.


Erika hanya diam melihat interaksi Ayunda dan Rakha.


"Kalian berdua tidak boleh mengikuti pelajaran saya! Satu lagi, kalian harus saya hukum membuat makalah tentang Manajemen Administrasi." Rakha pun meninggalkan mereka berdua.


Ayunda dan Erika masih dia mematung di tempat mereka.


Rakha kini telah duduk di kursinya, dia menoleh ke arah dua orang yang sangat dikenalnya itu.


"Kalian!" bentak Rakha dengan nada tegas dan menggema di dalam ruang kelas itu.


Hal itu membuat semua orang di kelas itu sontak kaget, tak luput Ayunda dan Erika.


Mereka berdua memegangi dada mereka karena kaget.


"Keluar dari kelas saya!" teriak Rakha.


Mau tak mau akhirnya Ayunda dan Erika pun memilih keluar dari ruangan tersebut, mereka tidak ingin mendapat masalah lebih banyak lagi daripada hari ini.


"Rika, kamu tidak pernah beritahu aku kalau Bang Rakha seorang dosen," ujar Ayunda pada Erika.


"Gue saja baru tahu kalau tuan muda merupakan seorang dosen," ujar Erika membalas ucapan Ayunda.


Ayunda hanya bisa menghela napas panjang.


"Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Ayunda pada Erika.


Ayunda tampak bingung dengan tugas yang diberikan oleh Rakha padanya.


"Gue juga enggak tahu harus berbuat apa? Mending kita ke perpustakaan aja terlebih dahulu," ajak Erika pada Ayunda.

__ADS_1


Sekaligus mencari materi tentang manajemen administrasi, berharap dengan materi-materi yang didapatkannya di perpustakaan bisa mempermudah mereka menyelesaikan tugas mereka.


Ayunda menganggukkan kepala pertanda setuju akan ajakan Erika. Setelah itu mereka pun melangkah menuju perpustakaan fakultas yang berada masih di dalam gedung yang sama dengan kelas mereka tadi.


Di perpustakaan Ayunda dan Erika mulai sibuk mencari materi yang berkaitan dengan manajemen administrasi, segala buku manajemen sudah mereka kumpulkan, Setelah itu mereka pun mencatat beberapa materi yang dirasakan penting.


Mereka pun memilih meminjam beberapa buku yang mereka anggap memiliki banyak materi manajemen di sana.


Pada pukul 12.00 mereka keluar dari perpustakaan, Ayunda dan Erika pun mulai melangkah menuju kantin karena cacing-cacing di dalam perut mereka sudah demo minta dikasih makan.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Erika terdengar berdering pertanda panggilan masuk. Erika langsung merogoh sakunya, lalu mengeluarkan ponsel miliknya.


Erika melihat nama kontak tuan muda memanggil, Erika menautkan kedua alisnya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Ayunda.


Ayunda hanya bisa menautkan kedua alisnya.


"Kenapa beruang kutub telpon kamu?" tanya Ayunda pada Erika.


Erika hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan Ayunda.


Erika pun menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Tuan muda," lirih Erika takut.


Erika masih syok melihat Rakha yang tadi marah pada mereka di kelas.


"Mhm, kami mau menuju kantin tuan muda," jawab Erika masih takut-takut.


"Setelah Dzuhur masih ada mata kuliah?" tanya Rakha lagi.


"I-iya, Tuan," jawab Erika lagi.


"Ya sudah, kalau begitu suruh Ayunda tunggu aku di parkiran pada jam mata kuliah berakhir," ujar Rakha pada Erika.


"Ba-baik, Tuan muda," sahut Erika.


Setelah itu Erika pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Heran deh, udah tahu istrinya enggak punya hp, kenapa enggak dibeliin, sih. Lagian yang ngerusakin hp lu juga dia, enggak buru-buru dibelikan yang baru," gerutu Erika dalam keadaan panggilan masih aktif sehingga Rakha dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Erika.


Sudah satu tahun lebih Ayunda bersabar hati untuk tidak memiliki ponsel, Ayunda sudah terbiasa hidup tanpa ponsel sehingga dia tidak mempermasalahkan hal ini.


Tuan Adhitama sempat menawarkan Ayunda untuk membeli ponsel lagi, tapi Rakha melarang papanya melakukan hal itu.


Menurut Rakha lebih baik Ayunda tidak memiliki pergaulan di luar rumah karena hal itu akan membuat Ayunda lebih mudah diatur.

__ADS_1


"Coba deh, tuan muda beli ponsel buat lu, jadinya dia bisa langsung hubungi lu, enggak perlu repot telpon gue," umpat AErika.masih saja mengumpati majikannya itu.


Erika berani mengungkapkan hal itu pada Ayunda karena Erika juga kesal pada tuan muda Rakha karena telah memberi hukum kepada mereka, padahal mereka hanya terlambat dalam selang waktu 5 menit.


Rakha pun memutuskannya panggilan yang tersambung pada ponsel Erika.


Rakha hanya menghela napas panjang mendengar umpatan dari Erika, apa yang dikatakan Erika memang ada benarnya.


Pada pukul 16.00 Rakha sudah berada di parkiran, dia menunggu Ayunda yang kini masih melangkah dari kelas menuju luar gedung Fakultas


Saat Ayunda dan Erika telah berada di luar gedung, Rakha langsung melajukan mobil dan menghampiri Ayunda.


Ayunda langsung naik ke dalam mobil Rakha.


"Rika, aku duluan, ya," ujar Ayunda sambil melambaikan tangannya pada sahabatnya.


Erika membalas lambaian tangan sang sahabat, setelah itu dia pun melangkah menuju parkiran untuk mengambil mobilnya lalu pulang.


Sepanjang jalan, Ayunda hanya bisa diam. Dia takut melihat wajah tampan suaminya yang tadi sempat marah padanya di depan teman-teman sekelasnya.


Ayunda tak berani membayangkan wajah Rakha tadi yang bagaikan seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.


Rakha juga diam, dia terus melajukan mobilnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun pada sang istri.


Ayunda mengernyitkan dahinya saat menyadari arah mobil yang dilajukan oleh suaminya tak lagi menuju arah kediaman tuan Adhitama.


"Si beruang kutub mau bawa aku ke mana, sih?" gumam Ayunda di dalam hati.


Dia mulai takut suaminya itu merencanakan hal-hal yang menakutkan baginya.


Rakha menyadari raut wajah istrinya yang kebingungan melihat apa yang dilakukannya, tapi Rakha hanya tersenyum di dalam hati melihat tanda tanya di kening sang istri.


Hampir 20 menit perjalanan, Rakha juga belum menunjukkan arah tujuan mereka ke mana.


"Kita mau ke mana?" tanya Ayunda pada Rakha tidak dapat menahan rasa penasarannya.


"Kita shalat dulu," ajak Rakha.


Lalu Rakha masuk ke dalam kawasan mesjid Raya kota Padang.



Mereka turun dari mobil dan masuk ke mesjid lalu bersiap untuk melaksanakan shalat ashar


Setelah selesai shalat ashar, Rakha mengarahkan mobilnya menuju mall yang berada tidak jauh dari mesjid raya itu.


"Mau ke mana lagi?" tanya Ayunda.

__ADS_1


Rakha menatap ke arah Ayunda, membuat Ayunda terdiam.


Bersambung...


__ADS_2