Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Bertemu Baim di Sekolah.


__ADS_3

Pada pukul 05.00.


Ayunda terbangun dari tidurnya, dia melihat tubuhnya sudah tertutup selimut.


Awalnya malam terasa dingin bagi. Ayunda, entah mengapa tak berapa lama rasa dingin berganti dengan kehangatan.


"Apakah tuan muda yang memberi aku selimut?" gumam Ayunda di dalam hati.


Ternyata pria itu walau menyeramkan masih memiliki rasa kasihan padaku, mungkin dia kasihan pada hidupku yang tidak seberuntung dirinya." Ayunda terus bermonolog di dalam hatinya.


Ayunda pun melipat selimut yang tadi dipakainya, lalu meletakkan selimut itu di atas tempat tidur.


Saat meletakkan selimut, Ayunda melihat tuan muda Rakha masih terlelap dengan pulas.


Dia memandangi wajah tampan suaminya.


"Ya Allah, ternyata suamiku tampan juga, tapi Sayang dia pasti tidak menyukaiku, " gumam Ayunda di dalam hati.


Sejenak Ayunda terpesona pada Rakha .


"Allahu Akbar Allahu Akbar. " Terdengar suara azan berkumandang.


Ayunda tersadar dari lamunannya. Dia pun melangkah menuju Lemari untuk mengambil pakaian gantinya.


Setelah itu dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu, dia bersiap-siap untuk melaksanakan shalat subuh.


Setelah selesai mandi Ayunda langsung menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Dia sama sekali tidak berani membangunkan Rakha.


Ayunda bersiap-siap untuk berangkat sekolah seperti biasanya. Sesuai perjanjian dengan tuan Adhitama, Ayunda akan tetap melanjutkan pendidikannya.


Tuan Adhitama tidak ingin Ayunda putus sekolah karena pernikahan ini.


Ayunda telah siap untuk berangkat sekolah, dia pun hendak keluar dari kamar.


"Hei!" teriak Rakha.


Teriakan itu membuat Ayunda terpaksa menghentikan langkahnya.


Perlahan Ayunda membalikkan tubuhnya, kini dia menghadap ke arah Rakha dengan jarak mereka sekitar 3 meter.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Rakha dengan nada kesal.


Akhirnya perlahan Ayunda melangkah menghampiri Rakha.


Saat ini jarak di antara mereka hanya sekitar satu meter.


"Mau ke mana?" tanya Rakha.


Kali ini Rakha mulai dengan nada biasa saja.


"Aku ingin pergi sekolah," jawab Ayunda.


"Mhm, kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanya Rabha pada Ayunda.


"Mhm, maaf tuan Muda. saya tidak tahu," lirik Ayunda.


"Ya sudah, tunggu aku di bawah. Aku akan mengantarmu." Rakha turun dari tempat tidur dia pun melangkah menuju kamar mandi.


Ayunda hanya bisa mengangguk. Setelah itu dia pun melangkah keluar dari kamar.


Ayunda melangkah menuruni anak tangga, lalu dia masuk ke dalam ruang makan.

__ADS_1


Di sana tuan Adhitama telah duduk di Kursi kebesarannya.


"Mana Rakha ?" tanya tuan Adhitama.


"Masih dikamar, Pa," jawab Ayunda.


"Mulai hari ini dan seterusnya Rakha akan mengantarmu sekolah," ujar tuan Adhitama.


Dia sengaja meminta Rakha melakukan hal itu agar Rakha dan Ayunda semakin dekat karena dia sangat senang mendapatkan menantu seperti Ayunda.


Bahkan dia sangat bersyukur dengan takdir yang didapat oleh putranya. Bagi seorang Adhitama dia tidak butuh menantu yang kaya raya, tapi dia ingin menantunya tulus mendampingi hidup putranya.


"Ehem. "Rakha berdehem memberi tanda bahasa dia telah berada di ruang makan itu.


Dia duduk tepat di samping Ayunda.


"Ayun, lakukan kewajiban mu sebagai istri," ujar tuan Adhitama mengingatkan Ayunda.


"Hah?" lirih Ayunda berpikir.


"Eh, iya," lirih Ayunda lagi setelah mengerti dengan maksud tuan Adhitama.


Ayunda mengambil piring yang ada di depan Rakha lalu dia pun mengisi piring tersebut dengan nasi.


"Tuan muda mau makan apa?" tanya Ayunda pada suaminya.


"Masa iya sama suami sendiri panggil tuan muda, " ujar tran Adhitama.


Pria tua itu merasa tidak enak mendengar menantunya memanggil putranya dengan sebutan tuan muda sebagaimana para pelayan biasanya memanggil putranya.


"Mhm." gumam Ayunda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Rakha hanya memasang wajah datarnya, dia sama sekali tidak berekspresi mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Papanya.


"Sebagai istri kamu harus memanggil Rakha dengan sebutan Abang," ujar tuan Adhitama mengajari menantunya.


Ayunda pun mencoba mengikuti apa yang dikatakan oleh Tuan Adhitama.


"Bang Rakha, kamu mau makan apa?" tanya Ayunda pada suaminya.


"Terserah kamu mau ambilkan apa, Apapun yang kamu ambil akan aku makan," jawab Rakha.


"Baiklah kalau begitu," ujar Ayunda.


lalu Ayunda pun mengisi piring yang ada di tangannya dengan sesendok nasi serta sepotong ayam kecap.


Dia juga tidak lupa memberi sayuran di piring tersebut.


Setelah itu, Ayunda meletakkan piring tersebut di hadapan suaminya.


"Terimakasih"ucap Rakha.


Ayunda menoleh ke arah suaminya dia tak percaya, pria datar dan dingin seperti Rakha bisa mengucapkan kata terima kasih.


Rakha mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya, sementara itu Ayunda memandangi suaminya yang tengah menikmati sarapan pagi.


"Hei," ujar Rakha sambil menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Ayunda.


"Ayo, makan nanti kamu terlambat," ujar Rakha mengingatkan Ayunda.


Ayunda tersentak dari lamunannya. Dia pun bergegas mengisi piringnya dengan makanan, lalu dia pun mulai menikmati sarapan pagi bersama Papa mertua dan suaminya.


Setelah sarapan Ayunda dan Rakha berpamitan pada Tuan Adhitama.

__ADS_1


Mereka melangkah keluar rumah, di teras rumah telah terparkir sebuah mobil yang biasa digunakan oleh Rakha dalam menjalani aktivitasnya.


Rakha masuk ke dalam mobil, tapi Ayunda hanya berdiam diri di samping mobil itu.


Dia tampak bingung harus duduk di bangku depan atau belakang.


"Ya ampun, anak ini kenapa dia hobi sekali bengong?" gerutu Rakha kesal.


Rakha pun menurunkan kaca mobilnya sehingga dia bisa melihat Ayunda.


"Woi, ayo naik!" teriak Rakha.


Lagi-lagi Ayunda tersentak, lalu dia bergegas membuka pintu mobil belakang dan dia hendak masuk ke dalam mobil.


"Kamu pikir aku ini supirmu?" bentak Rakha kesal.


Ayunda menautkan kedua alisnya, dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Pindah ke depan sekarang juga," perintah Rakha.


Ayunda langsung turun lalu dia bergegas pindah ke bang depan tepat di samping sang suami.


Rakha mulai melajukan mobilnya, dia tidak peduli pada Ayunda yang tidak mengenakan sabuk pengaman.


Menurut Rakha, dia sudah sering naik mobil dengan Erika, seharusnya dia tahu apa yang harus dilakukannya.


Di sepanjang perjalanan tak ada perbincangan di antara keduanya, Rakha memilih menyetel sebuah MP3 yang ada di mobilnya.


Dia melajukan mobil sambil menikmati suara musik yang dinyalakannya.


Setengah jam perjalanan mereka sampai di depan sekolah. Rakha memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah.


Ayunda hendak turun dari mobil, Rakha menarik lengan Ayunda.


Ayunda membalikkan tubuhnya lalu menatap sang suami.


"Jadi istri itu sopan dikit!" ujar Rakha kesal sambil menjitak kepala istrinya.


"Mhm," gumam Ayunda bingung.


Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia menggaruk kepalanya.


Rakha pun menyodorkan tangannya. Dia berharap Ayunda menyalami tangannya.


Ayunda hanya menatap tangan Rakha yang menggantung di udara.


"Ayo," ujar Rakha.


Rakha pun menarik tangan Ayunda, lalu memaksa Ayunda untuk menyalami tangannya.


Rakha juga maksa Ayunda untuk mencium punggung tangannya.


"Ingat! Kamu harus melakukan hal ini setiap hari!" pesan Rakha.


"Turunlah!" perintah Rakha.


Akhirnya Ayunda pun turun dari mobil, dia pun melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah, dia melangkah menuju kelasnya.


Saat dia melewati lorong menuju kelasnya, dia bertemu dengan Baim.


Baim langsung menghampiri Ayunda.


"Ayun," lirih Baim.

__ADS_1


Ayunda menoleh ke arah Baim. dia bingung harus berbuat apa.


Bersambung...


__ADS_2