Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Tidur di atas Sajadah


__ADS_3

"Panggilan dari siapa?" tanya Rakha tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Seketika Ayunda me-reject panggilan itu. Lalu dia menon-aktifkan ponselnya.


Hal ini membuat Rakha menautkan kedua alisnya.


"Panggilan dari siapa? Kenapa dia terlihat begitu gugup?" gumam Rakha di dalam hati.


Rakha mencurigai istrinya.


"Pa-panggilan da-dari te-teman," jawab Ayunda.


Tatapan tajam Rakha yang dilayangkannya untuk Ayunda membuat gadis itu gemetar ketakutan.


Rakha masih menatap tajam ke arah istrinya, sehingga Ayunda yang sedang duduk di atas tempat tidur merasa takut.


Akhirnya Ayunda pun berdiri dan mencari tempat untuk dirinya berdiri.


"Kau mau ke mana?" tanya Rakha menautkan kedua alisnya.


Dia heran melihat sikap Ayunda yang ketakutan, hal ini membuat Rakha tersenyum di dalam hatinya.


"A-aku,--"


Ayunda tidak dapat menyambung ucapannya karena Rakha melangkah mendekatinya.


Ayunda pun melangkah mundur hingga dia pun kembali terduduk di atas tempat tidur.


"Kamu,--"


Tok tok tok.

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar diketuk oleh seseorang.


Rakha menoleh ke arah pintu, lalu dia melangkah menuju pintu dan membukanya.


"Maaf tuan saya sudah mengganggu," ujar Bi Nur setelah Rakha membuka pintu.


"Ada apa, Bi?" tanya Rakha datar.


"Tuan Aditama menunggu tuan di ruang kerjanya," ujar Bi Nur menyampaikan pesan majikannya.


"Baiklah, aku akan langsung ke sana," ujar Rakha.


Pria dingin itu menoleh ke arah istrinya sebelum dia benar-benar keluar dari kamarnya.


Ayunda menghela napas lega setelah sang suami keluar dari kamar tersebut.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Mengapa aku harus mendapatkan pendamping hidup seperti pembunuh, tatapan matanya saja sudah membuat aku gemetaran. Ya Allah, tolong hamba, kuatkan hamba menjalani hidup bersama pria dingin itu," lirih Ayunda memohon kepada sang penciptanya.


Rakha mendapati ayahnya tengah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Rakha pun langsung duduk tepat di hadapan sang papa.


"Lihatlah map itu," ujar Tuan Adhitama sambil menunjuk ke sebuah map coklat yang ada di atas meja.


Rakha menautkan kedua alisnya.


"Apa isi map ini, Pa?" tanya Rakha.


"Bukalah silakan baca dan lihat apa isi dari map tersebut," ujar Tuan Adhitama lagi.


Raka pun mengambil map yang ada di atas meja itu, lalu dia membuka map tersebut.

__ADS_1


Dia menggelengkan kepalanya tak percaya dengan isi map tersebut. seketika dia merasa menjadi seorang pria yang bodoh selama ini menjadi kekasih wanita yang bernama Dona.


Dia tidak menyangka wanita yang hampir setahun menjadi kekasihnya itu merupakan seorang wanita ja***g. selama satu tahun Ini Rakha telah memberikan apa yang diinginkan gadis itu, ternyata Dona mendekatinya hanya karena harta saja.


"Apakah wanita seperti ini yang ingin kamu jadikan seorang pendamping dalam hidupmu?" tanya Tuan Adhitama kepada putranya.


Tuan Adhitama sengaja memberitahukan segala kebusukan kekasih putranya itu kepada Sang putra agar putranya bisa melihat dengan jelas mana wanita yang baik dan mana wanita yang tidak baik.


"Jadi ini alasan Papa menyuruh Ayunda menggantikan posisi Dona sebagai mempelai wanita?" tanya Rakha.


"Begitulah, seharusnya kamu bersyukur gadis belia itu mau menikah denganmu," ujar Tuan Adhitama.


"Apakah aku memang harus menikah, kenapa Papa tidak membatalkan pernikahan itu?" ujar Rakha tidak sependapat dengan apa yang ada di pikiran papanya.


"Papa hanya ingin melakukan hal yang terbaik untukmu, semua ini telah terjadi, kamu harus menjalani kehidupanmu sekarang," ujar Tuan Adhitama.


Rakha hanya bisa diam, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Untuk sementara waktu dia akan memberi kebebasan untuk gadis media itu untuk menyelesaikan sekolahnya.


****


Saat malam tiba, Ayunda melangkah menuju kamar mandi lalu dia pun menunaikan ibadah salat isya sebelum tidur.


Ayunda masih merasa takut kepada suaminya, dia memilih untuk berbaring di atas sajadah tempat dia baru saja menunaikan ibadahnya.


Gadis belia itu tidak berani untuk tidur di atas tempat tidur di samping tuan muda.


Raka melihat apa yang dilakukan oleh si gadis belia yang sudah sah menjadi istrinya. Dia mengabaikan Ayunda yang kini tidur beralaskan sajadah di lantai kamar.


Mereka pun mulai beristirahat memejamkan mata menggapai mimpi mereka masing-masing.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2