Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Mencari Tahu Tentang Sosok Ratih


__ADS_3

"Kamu kenal sama wanita di hp Rakha ini, Dek?" tanya Robby pada istrinya.


"Mhm, iya, Bang. Dia itu teman kuliah aku," jawab Cinta.


"Benarkah? Jadi seberapa jauh kamu kenal dengannya?" tanya Rakha pada Cinta penasaran.


"Mhm, enggak terlalu dekat sih, tapi aku kenal dia." Cinta mengingat masa-masa SMA beberapa tahun yang silam.


Flash back on.


"Kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan!" bentak Ratih pada seorang pria yang kini berdiri di hadapannya.


"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Aku tidak melakukan apa-apa," jawab si pria.


Dari kejauhan Cinta melihat apa yang dilakukan oleh Ratih pada si pria itu.


"Kamu sudah merusakkan ponselku!" bentak Ratih lagi pada si pria.


Ratih menunjukkan ponselnya yang kini tergeletak di lantai.


Layar ponsel itu sudah retak dan hancur lebur.


"Aku tidak merasa menjatuhkan ponsel itu!" bantah si pria yang dituduh oleh Ratih.


"Sudah jelas-jelas tanganmu mendorong tanganku sehingga ponselku jatuh ke lantai," bentak Ratih lagi.


"Masa sih?" Si pria masih tidak percaya kalau dia yang menjatuhkan ponsel milik Ratih.


"Kalau kamu enggak ganti ponselku, maka aku akan laporkan ke kepala sekolah, dan kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini," ancam Ratih.


Semua orang tahu Ratih merupakan keponakan dari kepala sekolah di sekolah itu.


Si pria itu merasa takut mendapat ancaman dari Ratih, dia tidak mau bermasalah dengan siapa pun, meskipun tampang si pria itu sangat Cupu tapi dia termasuk golongan orang berada di sekolah itu.


"Baiklah, aku akan ganti ponselmu besok," ujar si pria cupu itu.


Dia terpaksa mengalah, dia tidak ingin banyak masalah dengan wanita yang bernama Ratih.


"Benaran, ya. Gue tunggu besok," ujar Ratih.


Setelah itu Ratih pun meninggalkan pria cupu itu.


"Radhit!" panggil Cinta.

__ADS_1


Cinta langsung menghampiri pria cupu yang bernama Radhit itu setelah memastikan Ratih tak lagi berada di sana.


Radhit merupakan teman Cinta, Radhit merupakan anak yang pintar, tapi dia sama sekali tidak pandai bergaul d Ngan pria sehingga temannya lebih banyak perempuan dari pada laki-laki termasuk Cinta.


"Ada apa, Cin?" tanya Radhit menautkan kedua alisnya.


"Mhm, lu ada masalah apa sama Ratih?" tanya Cinta pada Radhit.


"Mhm, itu. Dia nuduh gue ngejatuhin HP-nya sampai hancur," jawab Radhit jujur.


"Emangnya lu yang ngejatuhin?" tanya Cinta.


"Perasaan gue enggak nyenggol dia sedikitpun, eh dia bilang ponselnya jatuh gara-gara gue, mana dia pake acara ngancem gue segala," ujar Radhit curhat pada Cinta.


"Asal lu tahu, ponsel dia itu mang sudah hancur, soalnya tadi di kelas ponselnya memang udah retak-retak gitu, gue enggak tahu apa ponsel itu masih bisa nyala atau enggak," cerita Cinta yang tahu niat licik Ratih.


"Benarkah?" tanya Radhit tak percaya.


"Iya, tadi aku lihat di kelas, dan aku juga lihat kok, kamu sama sekali tak bersentuhan dengan dia, karena dari tadi aku memperhatikan gerak-gerik dia," ujar Cinta lagi.


"Astaghfirullah, tega banget dia, ya sama gue," lirih Radhit kesal.


"Iya, harusnya kamu jangan mau dimanfaatkan begitu saja sama cewek seperti Ratih," ujar Cinta menasehati Radhit.


"Sudahlah, biarkan saja apa yang mau dilakukannya, suatu hari nanti dia akan mendapatkan balasan dari apa yang telah dilakukannya," ujar Radhit setelah itu.


Cinta hanya bisa menghela napas panjang, menurutnya mungkin kali ini Ratih bisa menipu Radhit, tapi lain kali gadis itu akan mendapatkan balasan atas apa yang telah dilakukannya terhadap Radhit.


Flash back off.


Robby dan Rakha mengangguk paham dengan apa yang diceritakan oleh Cinta.


Akhirnya Rakha dan Robby dapat mengambil kesimpulan bahwa semua ini dilakukan Ratih karena dia menginginkan sesuatu dari Rakha.


"Rob, sepertinya kamu harus bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini, waktunya hanya tinggal satu Minggu. Aku minta waktu padanya sekitar satu mingguan, itu artinya kamu harus selesaikan masalah ini dalam jangka waktu satu Minggu," ujar Rakha pada Robby.


"Mhm, baiklah. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu," sahut Robby.


Robby hanya bisa berkata seperti itu saat ini, dan setelah ini dia akan berusaha dengan mengerahkan teman-teman berandalnya.


Meskipun teman-teman Robby merupakan para berandalan tapi mereka masih memiliki hati nurani untuk melakukan segala sesuatu perbuatan yang tidak disukai oleh hati nurani siapapun.


Mereka dari kawasan padat penduduk, berpenampilan seperti preman tapi tidak mengganggu siapa pun.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu, sebentar lagi aku ada jadwal mengajar," ujar Rakha berpamitan pada Robby.


"Siip, kamu tenang saja. Nanti aku akan kabari kamu jika sudah berhasil menjalankan misi ini," ujar Robby.


"Terima kasih, Bro." Rakha menepuk pundak Robby.


"Cinta, terima kasih untuk tehnya. Kapan-kapan main ke rumah, aku sekarang tinggal di Griya permata bersama istriku," ujar Rakha pada Robby dan Cinta.


"Insya Allah, jika ada kesempatan kami akan sampai ke sana," ujar Robby menanggapi tawaran dari sahabatnya.


Setelah itu, Rakha pun beranjak dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah Robby.


Robby dan Cinta pun mengikutinya, mereka melambaikan tangan saat Rakha mulai melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Robby.


"Cin, kamu tahu di mana rumah Ratih?" tanya Robby pada istrinya.


"Di daerah Jati, Bang. Dekat rumah sakit umum," jawab Cinta.


"Nanti sore, kamu bisa temani Abang ke sana?" tanya Robby pada istrinya.


"Baik, Bang. Ya udah, aku mau masak untuk makan siang dulu, ya," ujar Cinta lalu dia beranjak meninggalkan Robby yang masih duduk di bangku belakang rumah mereka.


Cinta hanya masak satu kali dalam sehari, karena mereka hanya tinggal berdua. Cinta melakukan sistem seperti itu agar lebih hemat.


Dia biasa memasak menjelang makan siang, dia juga menargetkan masakannya itu tahan hingga pagi hari.


Kalau memang saat malam hari masakannya habis, pagi harinya mereka bisa beli sarapan di warung.


Pada sore harinya Robby dan Cinta berangkat menuju kawasan rumah Ratih yang diceritakan oleh istrinya, mereka tampak mencari-cari letak rumah Ratih.


"Yang mana rumahnya, Dek?" tanya Robby pada istrinya.


"Mhm, sepertinya yang tingkat dua itu, Bang." Cinta menunjuk rumah yang bertingkat 2 di pemukiman padat penduduk.


"Kelihatannya dia dari kalangan berada juga," ujar Robby berpendapat.


"Kabarnya dulu, papanya seorang anggota DPR, Bang. Tapi, aku enggak tahu sih kalau sekarang," ujar Cinta bercerita.


"Oh pantesan," lirih Robby.


Tak berapa lama seorang wanita keluar dari rumah itu.


"Sepertinya itu Ratih, Bang," lirih Ratih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2