Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Ayunda Kabur dari Sekapan Penculik


__ADS_3

Di rumah itu tak ada siapa-siapa, hanya terlihat bekas tali pengikat yang digunakan untuk mengikat Ayunda kemarin.


"Di mana Ayunda?" tanya tuan Adhitama pada anak buahnya.


Dia menatap tajam ke arah anak buah yang bersamanya itu, dia kesal dengan kinerja anak buahnya.


"Maaf, Tuan. Seharusnya dia masih berada di sini karena pria yang membawanya belum datang sama sekali, saya sudah menunggu pria itu sejak kemarin malam," ujar si anak buah berusaha membela diri.


Sejak tadi pagi dia dan temannya terus memantau rumah kosong yang ada di hutan itu, mereka sengaja tidak langsung melepaskan Ayunda sesuai perintah dari Tuan Adhitama, pria tua itu ingin langsung menemukan Ayunda.


"Mhm, atau jangan-jangan,--" Anak buah Tuan Adhitama menyimpulkan sesuatu.


"Jangan-jangan apa?" bentak Tuan Adhitama tak sabar.


"Jangan-jangan Nona Ayunda kabur," ujar si pria yang bersama Tuan Adhitama.


Dia pun langsung melangkah ke arah dapur rumah kosong itu, dia mengecek pintu bagian belakang rumah kosong itu, pintu masih terkunci dengan rapi, tapi seketika pandangannya tertuju pada jendela yang ada di samping kompor, dia melihat dengan jelas jendela itu terbuka.


"Benar, Tuan. Nona muda kabur dari rumah ini lewat jendela belakang," ujar anak buahnya itu setelah memeriksa keadaan dapur.


"Baiklah, kalau begitu kamu kerahkan semua orang untuk mencari Ayunda di sekitar sini, dan satu orang tunggu di sini untuk mencari tahu siapa dalang di balik semua ini," ujar Tuan Adhitama memberi perintah pada anak buahnya.


"Siap, Tuan," sahut anak buah Tuan Adhitama.


Mereka pun mulai bergerak melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Tuan Adhitama.


Tuan Adhitama pun meninggalkan tempat itu, lalu dia menghubungi Rakha.


Tuan Adhitama meminta Rakha untuk datang menemuinya.


Satu jam berlalu, Rakha meminta Robby untuk terus melanjutkan pencarian Ayunda, sedangkan dia pulang ke kediaman Tuan Adhitama.


Rakha memarkirkan mobilnya di kediaman papanya, lalu dia turun dari mobil.


Saat Rakha baru saja masuk ke dalam rumah, Rakha mendapati papanya telah duduk di ruang tamu.


Tuan Adhitama sudah menunggu Rakha sejak tadi, wajahnya terlihat merah menahan emosi yang kini sudah memuncak di ubun-ubunnya.

__ADS_1


Rasa amarahnya seakan tumpah saat melihat Rakha yang kini melangkah menghampiri dirinya yang duduk di sofa ruang tamu.


Rakha kini telah duduk di sofa yang ada tepat di samping Tuan Adhitama .


"Pa," lirih Rakha takut


Dia tahu betul saat ini papanya tengah marah pada dirinya.


Tuan Adhitama menatap tajam ke arah Rakha, tatapannya bagaikan pedang yang siap membunuh Rakha.


"Dasar Bodoh!" teriak Tuan Adhitama memaki Rakha.


Tuan Adhitama tidak dapat menahan emosinya, dia sangat kecewa dengan kecerobohan putranya.


"Untuk apa papa sekolahkan kamu tinggi-tinggi, kalau untuk menjaga istrimu saja tak sanggup," ujar Tuan Adhitama dengan nada masih tinggi dan tegas.


"Seharusnya kamu lebih hati-hati saat Ratih masuk ke dalam kehidupanmu!" bentak Tuan Adhitama pada putranya.


Dia tak menyangka putranya yang merupakan seorang dosen dan sudah disekolahkannya hingga luar negeri, putranya itu tak bisa membaca situasi darurat sedikitpun.


Begitu besar kasih sayang tuan Adhitama terhadap sosok menantunya itu sehingga pria tua itu meluapkan emosinya pada sang putra. Seolah dia tak rela, Ayunda disakiti oleh siapapun.


"Jika memang kamu tidak bisa menjaga Ayunda, kamu bisa hubungi papa, karena papa akan menyediakan bodyguard untuk menjaganya," ujar Tuan Adhitama lagi.


"Maaf, Pa. Aku memang lalai," lirih Rakha.


"Sekarang kamu langsung ke daerah Sungai Lareh, Ayunda melarikan diri dari sekapan si penculik, kamu harus cari dia di kawasan itu, papa sudah suruh Anton ikut turun tangan," ujar Tuan Adhitama memberi perintah pada putranya.


Sementara itu di tempat lain, Ayunda terus melangkah menelusuri hutan yang dia sendiri tak tahu keberadaannya ada di mana saat ini.


Ayunda terus melangkah menjauh dari rumah kosong tempat dia disekap oleh penculik yang dia sendiri tak mengenalnya.


Pakaiannya yang lusuh, serta tangannya yang terlihat darah yang sudah mengering di sana membuat penampilannya sangat mengenaskan.


Dia masih berjalan di jalan setapak, Dia masih belum menemukan pemukiman penduduk. Hingga akhirnya Ayunda menemukan sebuah sungai yang airnya sangat jernih.


"Mungkin dengan menyusuri aliran sungai ini, aku bisa menemukan pemukiman penduduk," gumam Ayunda.

__ADS_1


Ayunda pun berjalan di pinggir sungai, dia terus menelusuri aliran sungai itu, tanpa disadarinya, dia pun sudah berjalan selama satu setengah jam.


Dia tidak lagi peduli dengan rasa lapar dan sakit yang ada di tubuhnya, saat ini dia hanya ingin cepat kembali ke rumah tempat dia tinggal selama ini.


Bayangan Rakha terus melintas di benaknya membuat Ayunda terus bersemangat untuk melangkah, di setiap langkah ingatan akan sang suami membuat Ayunda terus berusaha untuk bertahan.


Dari kejauhan samar-samar Ayunda melihat seorang pria, dia melihat dengan jelas pria itu melangkah mendekati dirinya, tapi kekuatan Ayunda yang sudah habis tak bersisa membuat wanita itu jatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.


****


"Dasar Bodoh! Kenapa menjaga wanita saja bisa lepas seperti itu!" bentak seorang pria tua pada seorang pria berumur 35 tahunan.


Pria itu tidak terima wanita yang susah payah didapatkannya lolos begitu saja.


"Apa saja yang kamu lakukan sehingga dia bisa lolos?" bentak Si pria tua.


"Maaf, Bis. Saya takut berada di rumah kosong yang ada di tengah hutan itu, makanya saya tinggalkan dia sendirian di sana," jawab si pria muda itu.


"Aku tidak mau tahu, kamu harus bisa dapatkan wanita itu lagi," bentaknya.


"Ba-baik, Bos." Si pria muda itu melangkah keluar dari sebuah rumah lalu dia meninggalkan si pria tua.


"Tolol, seharusnya aku mengikat wanita itu lebih kuat lagi," lirih si pria muda itu.


Dia bingung harus mencari Ayunda ke mana, karena dia sendiri takut kembali ke hutan itu.


Setahunya hutan tempat rumah kosong itu berada banyak hal mistis yang sudah terjadi di sana.


Banyak orang yang masuk hutan itu susah untuk kembali, karena mitosnya hutan itu disebut-sebut hutan terlarang.


"Sekarang ke mana aku harus mencari wanita itu, apakah dia sudah kesasar di hutan terlarang itu," gumam si pria merasa merinding.


Mau tak mau pria itu pun harus kembali ke lokasi rumah kosong itu berada, dia tak bisa mengelak perintah dari bosnya.


Perintah pria yang selama ini telah membiayai kehidupannya, karena dia sudah lama bekerja dengan si pria itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2