Istri Kecil Sang Dosen Killer

Istri Kecil Sang Dosen Killer
Ayah Ayunda Meninggal Dunia


__ADS_3

Ayunda langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.


Setahu Ayunda, jika ada salah satu warga yang menanti ajal menjemputnya, warga akan berbondong-bondong datang ke rumah orang itu, Ayunda mulai berpikir hal buruk telah terjadi pada Ayahnya, apalagi tuan Adhitama sempat mengatakan bahwa ayahnya saat ini tengah sakit keras.


Tanpa aba-aba Ayunda bergegas melangkah masuk ke dalam rumah kecil milik orang tuanya itu.


Rumah yang selama ini menjadi tempat dirinya berlindung dari terik matahari serta hujan dan badai.


"Ayunda datang," seru salah satu warga saat melihat gadis belia yang selama ini dipertanyakan oleh warga.


Banyak warga yang mempertanyakan keberadaan Ayunda yang sudah beberapa bulan tak terlihat di desa.


Siti selalu memberitahu warga bahwa saat ini anak tirinya bekerja di kota dengan tuan Adhitama.


Bahkan Siti mengutuk Ayunda yang tidak pernah pulang untuk melihat ayahnya yang tengah sakit.


Mata Siti menatap iri dan benci saat melihat Ayunda masuk ke dalam rumahnya.


"Ayah!" seru Ayunda.


Ayunda langsung menghampiri Somad yang terbaring lemah di atas sebuah kasur santai.


"A-a-a-yun," lirih Somad perlahan saat mendengar suara yang sangat dirindukannya.


Awalnya Ayunda merasa benci pada ayahnya atas apa yang telah dilakukan Somad terhadap dirinya, tapi melihat pria yang selama ini berjuang hidup untuk dirinya sejak ditinggal oleh sang ibu membuat Ayunda melupakan kebenciannya terhadap sang ayah.


"Iya, Yah. Ini Ayun," lirih Ayunda.


Ayunda mulai menangis, dia memeluk erat tubuh. Somad yang semakin hari terlihat semakin kurus.


Bisa dibilang, Somad mulai sakit-sakitan sejak Ayunda pergi meninggalkannya.


Sakit Somad semakin parah setelah dia menikahkan Ayunda dengan Rakha.


Hal itu membuat Somad merasa semakin bersalah dan sakitnya pun semakin parah.


Setiap hari dia terus memanggil-manggil nama putrinya, sehingga salah satu warga yang merasa kasihan terhadap Somad memberitahukan keadaan Somad saat ini pada Tuan Adhitama, warga itu meminta tuan Adhitama mengizinkan Ayunda datang untuk menjenguk ayahnya.


"A-a-yun, ma-ma-afkan a-a-yah," lirih Somad terbata-bata.


"Iya, Yah. Ayun sudah memaafkan ayah, hiks," tangis Ayunda pecah.


"Fatimah, ambilkan kursi plastik yang ada di rumahmu," bisik salah satu warga pada Fatimah saat melihat Rakha dan Anton melangkah masuk ke dalam rumah Ayunda.


Fatimah hendak berdiri, tapi Rakha langsung mengangkat tangannya memberi isyarat atau tidak mengambilkan kursi untuknya.

__ADS_1


Rakha memilih ikut duduk di dalam rumah kecil milik Ayah mertuanya itu bersama warga lainnya.


"A-a-a-yun, ma-ma-af-kan a-a-yah," lirih Somad lagi.


Rasa bersalahnya sangat dalam pada gadis kecil yang bertahun-tahun dibesarkannya membuat Somad hanya sanggup meminta maaf pada Ayunda.


"Ayun tidak marah pada ayah, hiks." Ayunda terus menangis dia tidak sanggup melihat keadaan ayahnya saat ini.


Ayunda menangis di dalam pelukan ayahnya.


Tak berapa lama Ayunda menangis di dalam dekapan ayahnya, dia bangun dan duduk memperhatikan sang ayah yang kini sama sekali tidak bergerak.


"Yah, ayah, Ayaaaahh!!" teriak Ayunda.


Ayunda sadar saat ini ayahnya telah tiada.


"Ayaaaahh, banguuuuunnn, jangan tinggalkan aku," teriak Ayunda lagi.


Teriakkan Ayunda membuat beberapa warga mendekati Somad.


Setelah itu salah satu ustadz mendekati Somad yang kini telah terbaring kaku, dia mencoba memeriksa keadaan Somad saat ini.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," lirih ustad tersebut menyatakan bahwa saat ini Somad sudah tiada.


Siti tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ustad itu.


Dia tak menyangka akan ditinggalkan oleh sang suami dalam keadaan seperti ini.


"Bang bangun, Bang. Jangan tinggalkan aku, hiks." akhirnya tangis Ayunda dan Siti menggema di dalam rumah kecil itu.


Semua warga yang ada di sana pun ikut mengucapkan kata innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un lirih.


Beberapa orang ikut meneteskan air mata melepas kepergian Somad.


Rakha tidak tega melihat Ayunda yang tengah menangis, dia pun menghampiri Ayunda, dia memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Dia memberikan kehangatan pada istrinya yang kini tengah bersedih, entah mengapa hati kecilnya ingin memeluk tubuh kecil istrinya itu. Dia kasihan pada istri kecilnya itu.


Semua mata warga tertuju pada apa yang dilakukan oleh Rakha, mereka mulai bertanya-tanya akan hubungan Rakha dan Ayunda.


Ayunda semakin menangis saat mendapat pelukan hangat dari Rakha, dia merasa kali ini Rakha menjadi tempat dirinya bersandar dalam luka yang dihadapinya.


"Sudahlah, ayahmu sudah tenang. Beruntung dia pergi setelah dia bertemu denganmu," lirih Raka mengusap punggung Ayunda.


"Aku akan hidup sebatang kara, aku akan tinggal sendirian, hiks," isak Ayunda.

__ADS_1


"Kamu ada aku, ada papa. Kami tidak akan membiarkan kamu hidup seorang diri," ujar Rakha.


Kata-kata Rakha membuat rasa penasaran di hati para warga semakin bertambah.


"Siapa sebenarnya pria ini? Apa hubungannya dengan Ayunda?" bisik beberapa warga dengan teman di sampingnya.


Rakha mengabaikan bisikan-bisikan warga yang masuk ke telinganya.


Berhubung waktu sudah malam, jenazah Somad akan diselenggarakan esok hari.


"Ayun, kita menginap di mess papa aja, ya," bujuk Rakha pada Ayunda.


"Aku mau tidur di sini saja boleh? Aku mau tidur di samping ayah," ujar Ayunda.


Ayunda memohon pada suaminya. Mau tak mau Rakha membiarkan Ayunda tinggal bersama ayahnya.


Saat malam larut, satu per satu warga pun kembali ke rumah masing-masing. Hanya tinggal beberapa warga yang memiliki hubungan dekat dengan Somad.


Mereka bingung menjamu Rakha dan Anton, mereka tidak tahu mau menyuruh Rakha dan Anton tidur di mana, hingga akhirnya Anton dan Rakha memilih untuk tidur di dalam mobil.


Saat ini Ayunda sama sekali tidak tahu harus melakukan apa pada suaminya, yang di benaknya saat ini hanya ingin tetap berada di samping sang ayah yang kini telah terbujur kaku.


Keesokan harinya, warga semakin banyak yang datang ke rumah Somad sebagai tanda turut berbelasungkawa atas kepergian Somad.


Sebelum waktu dzuhur masuk, jenazah Somad telah dikebumikan di TPU yang ada di desa itu.


Ayunda masih terdiam di hadapan pusara sang ayah. Dia masih enggan untuk meninggalkan gundukan tanah yang di bawahnya terdapat jasad sang ayah.


Ayunda masih saja menangis, dia masih tak rela melepaskan kepergian sang ayah dalam keadaan seperti ini.


"Ayun, ayo kita pulang," ajak Fatimah.


Fatimah merasa kasihan melihat Ayunda yang terlihat sangat terpukul dengan apa yang baru saja menimpa dirinya.


"Bi, aku masih mau bersama ayah," lirih Ayunda.


"Ayun, ayahmu sudah tenang di sisi sang Khalik, sebaiknya kamu mengikhlaskan kepergian ayahmu agar dia tidak merasa tersiksa di alam sana," nasehat Fatimah.


Siti juga masih berada di TPU, tapi dia duduk di sebuah batu yang ada di bawah pohon. Dia menyandarkan tubuhnya ke pohon itu sambil merenungkan nasibnya setelah kepergian sang suami.


Ayunda berdiri setelah dibujuk oleh Fatimah, mereka akan kembali ke rumah.


Tiba-tiba Siti berdiri lalu dia menghampiri Ayunda yang berjalan keluar dari kawasan TPU.


Plaaak.

__ADS_1


Siti menampar wajah Ayunda, dia sangat kesal melihat anak tirinya itu.


Bersambung...


__ADS_2